
Dokter Silk setelah menjelaskan pada Lancelot dan yang lain segera kembali meninggalkan kediaman Lancelot, Lancelot dan yang lain kini bisa bernafas dengan lega setelah mendapat penjelasan dari dokter Silk.
"Apa mama bilang, Lanc," ucap nyonya Bisseling duduk di sofa bersama Lancelot dan Hanifah.
"Lanc harus lebih banyak belajar dari mama." kini Lancelot mengakui kelemahannya dalam urusan merawat anak.
Beberapa waktu lalu Lancelot dengan percaya diri tidak percaya dengan ocehan mamanya tentang begitu pentingnya peran seorang ibu dalam kehidupan anak-anaknya, dan dalam kesempuranaan sebuah keluarga.
"Mama yakin kamu bisa Lanc," nyonya Bisseling tetap memberikan semangat pada putranya.
"Sekarang Lanc baru sadar Slsegalanya tidak semudah seperti membubuhkan tanda tangan di atas berkas, tidak semudah memenangkan tander dan bekerja sama dengan perusahaan lain." jelas Lancelot mulai jujur.
Lancelot dan nyonya Bisseling sengaja berbincang menggunakan bahasa ibunya sehingga Hanifah tidak begitu faham, sebagai pekerja migran yang baru bekerja kurang dari enam bulan sangat tidak mungkin bisa menguasai bahasa orang Hongkong dengan baik dan benar, apalagi selama ini Hanifah menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi, kalaupun bisa bahasa Hongkong hanya beberapa kata saja.
Satu hari ini Lancelot menghabiskan waktunya menemani Putri kecilnya, bahkan beberapa jadwal meting dengan beberapa perusahaan telah di wakilkan pada Dandruff dan juga tuan Bisseling. Nona An benar-benar manja tidak hanya minta ditemani oleh Lancelot sang papa namun juga tidak mau ditinggal oleh Hanifah, alhasil hari ini nona An, benar-benar menjadi Putri yang ingin dimanja dan dikelilingi oleh orang tersayang dan terdekat. Kecanggungan Lancelot pada Hanifah sedikit terkikis karena ulah putri tunggalnya, sore hari nona An, sudah tidak demam dan juga sudah kembali ceria seperti sedia kala, nona An kini sudah kembali belajar tengkurap dan jika berhasil tengkurap senyum kebahagiaan dan kemenangan menghiasi bibir nona An.
"Anak papa pintar sekali!" seru Lancelot memuji nona An, yang baru saja berhasil untuk tengkurap.
Sorak sorai kebagian menghiasi kamar nona An, hingga menjelang malam setelah nona An, tidur dengan pulas Lancelot baru meninggalkan putri kecilnya, bahkan sebelum tidur nona An, juga meminta agar Lancelot dan Hanifah tidak jauh darinya.
"Nona kecil sudah tidur, sebaiknya tuan segera beristirahat." perintah Hanifah pada Lancelot.
__ADS_1
"Baiklah, selamat malam." Lancelot segera pergi meninggalkan kamar nona An.
Setelah meninggalkan kamar nona An, Lancelot menuju ruang kerjanya untuk mengecek dan mengerjakan pekerjaannya yang tidak bisa di kerjakan hari ini. Kini Lancelot sudah berkutat dengan komputernya walau tubuhnya terasa sangat capek sebab seharian menemani Putrinya, setelah sekian bulan ini kali pertama Lancelot menemani putrinya seharian penuh.
Tok Tok Tok.
"Lanc, boleh mama masuk." suara nyonya Bisseling meminta ijin dari luar ruang kerja Lancelot.
"Silakan, Ma," sahut Lancelot sambil terus melakukan pekerjaannya.
"Sibuk?" tanya nyonya Bisseling singkat langsung duduk di sofa yang ada di ruang kerja Lancelot.
"Soal kamu, dan sikapmu selama seminggu ini, mama perhatikan kamu seperti menghindari putrimu, apa ada masalah?" tanya nyonya Bisseling berhati-hati.
"Aku hanya banyak kerjaan Ma," sahut Lancelot enteng namun bohong.
"Seberapa sibuknya kamu, sehingga kamu bisa mengabaikan putrimu, Lanc kamu harus ingat kamu satu-satunya orang tua kandung yang An, miliki, mama harap kamu berterus terang pada mama." ucap nyonya Bisseling lembut namun memaksa.
"Mama, jangan terbawa perasaan, Lanc benar-benar banyak kerjaan Ma." Lancelot meyakinkan mamanya.
"Terlalu bodoh jika kamu bisa mbohongi mamamu ini, Lanc, An hanya memiliki orang tua kandung yaitu kamu, jangan kamu jadikan korban anakmu karena keegoisan kamu," nasehat nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Mama." protes Lancelot.
"Sekalipun kamu tidak suka dengan ocehan mama, mama tetap akan mengingatkanmu tentang An." ujar nyonya Bisseling.
"OK, Lanc ngaku kenapa dalam sepekan ini Lanc pulang larut, Lanc ada sedikit masalah," Lanc berhenti karena tidak tahu harus memulai cerita dari mana.
"Dengan Hani." tebak nyonya Bisseling, dan sayangnya tebakannya sangat tepat sekali.
"Ya," jawan Lancelot singkat.
Nyonya Bisseling terus mendesak Lancelot untuk menceritakan hal yang sebernya terjadi. Karena desakkan dari nyonya Bisseling akhirnya Lancelot menceritakan semua tentang kejadian beberapa hari yang lalu secara menyeluruh agar tidak terjadi kesalah pahaman kedepannya, Lancelot seorang yang keras kepala namun tidak bisa berbohong dengan kedua orang tuanya.
"Lalu apa langkah kamu selanjutnya Lanc?" tanya Nyonya Bisseling.
"Aku akan berusaha bersikap seperti biasa, agar tidak ada yang menaruh curiga termasuk Hanifah." jelas Lancelot.
Setelah mendengar penjelasan dari Lancelot nyonya Bisseling menarik kesimpulan sendiri, nyonya Bisseling yakin jika Lancelot mulai bisa membuka hati, ya dan pilihannya jatuh pada Hanifah ibu susu nona An.
"Pikirkan tentang masa depan An, cucuku bagaimanapun mama dan papa tidak ingin An, tidak memiliki ibu, sekalipun kita tidak tahu siapa ibu kandung An, namun mama tetap berharap kamu bisa memberikan ibu yang tulus pada An, cucuku." ucap nyonya Bisseling memekankan " Sudah malam mama mau istirahat, ingat pikirkan tentang An."
Selesai menasehati Lancelot Nyonya Bisseling pergi meninggalkan Lancelot yang masih tetap berada di dalam ruang kerjanya.
__ADS_1