Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 21


__ADS_3

Lancelot tidak berani lagi membantah perintah nyonya Bisseling, karena acara belum benar-benar usai, namun Lancelot punya tanggung jawab untuk mengantar, Hanifah nona kecil An, dan suster untuk pulang ke ruamh, sedang yang lain boleh pesta sampai pagi karena Lancelot membuka pestanya sampai pagi, tidak terkecuali termasuk pelayan yang ada di rumah Lancelot, sebab Lancelot meliburkan semua pelayan di rumahnya selama dua hari, hanya Hanifah dan suster yang tidak libur, untuk suster bisa libur secara bergantian dengan suster satunya, namun untuk Hanifah sudah empat bulan bekerja belum sekalipun pergi berlibur di hari minggu seperti pekerja lainya.


Mobil ferrari hitam metalik meluncur membelah suasana ramai jalan raya di negara Hongkong di malam hari, nona An kini sudah terlelap dalam tidurnya karena capek, Lancelot, Hanifah dan suster mereka menikmati perjalanannya dalam diam tidak satupun diantara mereka yang bersuara, sebuah gerbang otomatis terbuka dengan sendirinya begitu mobil Lancelot mau memasuki halaman rumahnya.


Begitu sampai di rumah Hanifah segera menggendong nona An untuk menuju kamarnya, sedang suster membawa barang bawaannya dengan di bantu oleh Lancelot, sampai kamar nona An, Hanifah segera menidurkan nona An, kedalam bok bayinya, dan Hanifah segera ganti baju dan membersihkan diri sebelum beristirahat.


Hanifah dengan pelan-pelan mengganti baju dan diapers nona An, sedangkan suster sibuk mengemasi barang bawaannya tadi. Lancelot mengurungksn niatnya yang tadinya ingin kembali ke hotel untuk melanjutkan pestanya, Lancelot menyadari jika pekerja di rumah Lancelot sedang tidak ada hanya ada tiga penjaga rumah, dan pastinya suster, Hanifah dan anaknya.


"Mbak aku titip nona An, aku lapar tadi gak sempat makan, aku mau masak mie di dapur kamu mau tidak?" pamit Hanifah pada suster yang sudah selesai membersihkan diri.


"Gak usah, mbak, tadi Aku sudah makan banyak di sana, mbak saja yang makan." sahut suster.


Hanifah menuju dapur, di dalam dapur Hanifah segera menuju lemari makan khusus buat Hanifah, di dalam lemari tersedia semua makanan yang berlabel halal, Bukan hanya itu dapur tempat masak buat Hanifah juga khusus alatnya-pun juga dipisah dengan yang lain sehingga, yang masak juga sendiri.


"Han," sapa Lancelot yang berdiri di ambang pintu dapur mini yang disediakn khusus buat Hanifah.


"Selamat malam tuan." sapa Hanifah balik.


"Kamu cari apa?" tanya Lancelot penasaran.


"Saya mau masak mie tuan." sahut Hanifah jujur.

__ADS_1


Lancelot baru sadar jika dari tadi Hanifah sibuk dengan putrinya dan Hanifah belum sempat makan, bukan hanya itu menunya juga tidak sesuai dengan Hanifah, jadi Hanifah hanya makan dessert saja.


"Bagaimana An?"


"Nona sedang tidur nyenyak mungkin kecapek-an." sahut Hanifah sambil mulai memasak mie instan, mienya juga produk Indonesia.


"Jangan terlalu banyak makan mie tidak baik untuk kesehatan." nasehat Lancelot "Oh ya Han, untuk dua hari kedepan mama dan kak Nier ada di sini, berhubung para pekerja libur maka mama dan kak Nier yang mengatur semua untuk makanmu sudah aku pesankan dari restaurant yang ber label halal, selesai makan cepat tidur." nasehat Lancelot.


"Baik tuan." sahut Hanifah tanpa menawari makanan pada Lancelot.


Lancelot pergi meninggalkan dapur, sedang Hanifah melanjutkan aktifitasnya memasak mie rebus rasa soto dan menikmatinya sendiri. Selesai makan mie Hanifah tidak langsung tidur, Hanifah bermain hp, Hanifah melihat chat dari aplikasi berwarna hijau itu ada beberapa chat dari temannya yang menyatakan kangen dan ingin bertemu, atau sekedar saling sapa tanya kabar, untuk mlelepas kangen dan kebetulan temannya masih belum selesai bekeja Hanifah memutuskan melakuakan panggilan video call dengan Tatuk, Tatuk merupakan teman kecil dan juga sahabat yang selama ini bisa menjadi sahabat dan suka maupuj duka.


"Assalamu'alaikum,Tuk." bisik Hanifah, tentu Hanifah tidak berbicara dengan keras sebab jam sudah menunjukan pukul satu malam dan penghuni rumah tentunya sudah tidur nyenyak.


"Tumben kamu belum istirahat Tuk?" tanya Hanifah.


"Anaknya ulang tahun hot pot di rumah, bayangin saja Han, hot pot jam sepuluh baru mulai, makannya dua jam, gak selesai, apanya jam segini gak begadang." keluh Tatuk.


"Sama, Tuk, hari ini aku capek, gak sempat makan pula, acara seratus harinya nona kecilku, di hotel mewah tapi gak sempat makan semua sibuk sendiri-sendiri." kini ganti Hanifah yang bercerita.


"Wes, nasib kita han, untung tadi jam delapan aku makan duluan Han, jadi aman, tapi sekarang ya lapar lagi, mana kerjaan banyak banget Han, sekarang saja mereka malah tamajok di taman Tu, entah jam berapa nanti kukutnya." Tatuk menceritakan keadannya sekarang.

__ADS_1


"Yang penting gaji beres to Tuk."


"Boro-boro Han, mesti molornya, kadang aku pusing dengan majikanku setiap kali waktunya aku gajian penyakit amnesianya kumat." Tatuk menceritakan dengan sedikit kesal. " Untung saja kalau kerja sampai malam gini langsung dapat amplop merah dan dua kertas merah bisa ku genggam dan aku miliki lumayan bisa buat sangu libur besok minggu , alhamdulillah rejeki." beber Tatuk bahagia ketiga mendapat bonus dua ratus dolar Hongkong, Tatuk bekerja pada orang biasa yang tinggal di apartment.


"Enak kamu bisa libur tuk, la Aku entah kapan aku bisa libur," keluh Hanifah, bagaimanapun Hanifah sama dengan pembantu lainnya dia juga pingin refreshing namun mau meninggalkan nona kecilnya tidak tega.


"Sering libur ya ngabisin uang Han seperti sekarang ini Liburnya banyak, anak-anak waktunya butuh masuk sekolah dah orang tuaku lagi sakit, hah... Aku wajib kuat Han." ucap tatuk sambil menyamangatu dirinya sendiri.


"Kamu pasti kuat Tuk, apalagi suamimu juga rajin bekerja dan tidak aneh-aneh." nasehat Hanifah.


"Iyo, bener Han, aku gak bisa bayangin jika punya suami tidak benar, suamiku memang idaman tenan Han, bayangin aja dia harus bekerja dan harus mengurus bapakku han, entah rumahku seperti apa aku gak tahu, semua penghuninya para laki-laki semua, anakku dua semua juga laki-laki," Tatuk sedikit menceritakan akan keluarganya.


"Di rumah kamu, kamu pasti paling cantikkan." goda Hanifah pada Tatuk.


"Iya, paling cantik dan juga paling cerewet." ucap Hanifah.


"Han, minta o ijin libur sebentar saja, aku itu kangen sama kamu." rayu Tatuk pada Hanifah.


"Entahlah Tuk, aku tuh ya pingin libur tapi bayiku bagaimana?"


"Yo biar di asuh mboknya to." ujar Tatuk yang tidak tahu tentang majiakan Hanifah.

__ADS_1


"Mboknya bagai batu kali yang terus bergeming, entahlah Tuk, sudah malam aku ngantuk dah juga capek, kapan-kapan telpon lagi, ayo istirahat Tuk, ingat jopo montrone di-apalkan sepuluh juta, sepuluh juta, sepuluh juta." gurau Hanifah.


Hanifah dan Tatuk tertawa terpingkal-pingkal di balik layar masing-masing monitor masing-masing.


__ADS_2