
Lancelot memerintahakan Dandruff untuk menjemput teman Hanifah, Tatuk, setelah mendapatkan alamat dan nomor telepin Tatuk Dandruff denagn di temani seorang sopir menuju alamat yang di share oleh Tatuk, Tatuk memilih lokasi yang agak jauh dari rumah majikannya agar tidak di curiga jika Tatuk telah di jemput oleh Dandruff utusan Lancelot. Mobil yang di tumpangi oleh Dandruff dan Tatuk telah terparkir rapi di area pelabuhan di mana kapal pesiar teesebut berlabuh.
"Nona silahkan ikut kami, nyonya kami sudah menunggu nona." ucap Dandruff sopan.
Tatuk merasa sangat kaku dan kikuk mendapat sambutan penuh hormat dari orang-orang Lancelot.
"Terima kasih tuan." sahut Tatuk gugup.
Dandruff mengajak Tatuk untuk masuk ke dalam ruangan, di mana di ruangan tersebut sudah ada Lancelot, Hanifah dan nona An, yang sedang bercengkerama.
"Tuan, nyonya, nona Tatuk sudah datang." lapor Dandruff sopan.
"Assalamu'alaikum tuan." sapa Tatuk bingung harus menyapa Hanifah apa.
"Wa'alaikum salam." sahut Lancelot dan Hanifah bersamaan.
"Ya Allah tuk, alhamdulillah akhirnya kita bisa bertemu kembali." Hanifah langsung memeluk Tatuk, erat penuh haru.
"Alhamdulillah, Han kita bisa bertemu lagi, tambah cantik saja, selamat alhamdulillah sudah bertemu dengan jodohmu Han, aku ikut senang mendengarnya, sayangnya aku tidak bisa hadir di pestamu, maaf ya." ucap Tatuk penuh haru" Tuan terima kasih sudah mengijinkan saya untuk datang ke sini." ucap Tatuk, sopan.
"Kamu sahabat istriku sejak lama, aku juga sudah sering mendengar cerita tentang kamu, tidak usah sungkan jadi kamu merupakan bagian dari sahabatku juga jika kamu ada waktu kaku." ucap Lancelot bijak.
"Terima kasih tuan." ucap Tatuk sopan.
"Suamiku tadi yang memberi ijin dan kebetulan bapak dan ibukku juga masih di sini kok Tuk, tapi gak tahu lagi ada di mana soalnya, kapal ini luas aku tidak tahu jalan." ucap Hanifah jujur.
__ADS_1
"Aku sendiri kalau jadi kamu juga bakal bingung Han, apalagi semuanya terjadi secara tiba-tiba, tanpa persiapan matang." ucap Tatuk.
"Ya, kalau aku sendiri memang tidak memiliki persiapan apapun, beda dengan suamiku dia sudah menyiapkan semua secara khusus, jadi aku terima beres saja." jelas Hanifah "Maaf, ayo duduk dulu aku sampai lupa tuk." Hanifah mengajak Tatuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Sayang, kamu belum salim sama tante." perintah Lancelot.
"Oh ya, maaf sampai lupa ini An, anaku " Hanifah kembali memperkenalkan nona An pada Tatuk, padahal hanifah juga tahu jika Tatuk sudah lama kenal nona An.
"Hai, nona yang cantik." sapa Tatuk pada nona An, ramah.
"Tante apa kabal?" sapa nona An lalu bersalaman dengan Tatuk dan mencium tangan Tatuk.
"Barakaallah, anak pintar." puji Tatuk.
"Baik, tante kok tante kemalin gak ikut pesta?" tanya nona An.
"Kalian berdu, ternyata sudah akrab sekali." celetuk Lancelot.
"Iya, pah biasanya kami video call ngobrol bersama-sama dan sudah beberapa kali kita juga bertemu." jelas Hanifah pada Lancelot.
"Baiklah, kalian ngobrol saja, nona jangan sungkan tetaplah bersahabat dengan istriku," pinta Lancelot pada Tatuk.
"Baik tuan terima kasih sudah menerima kehadiran saya." jawab Tatuk tetap sopan.
Lancelot memberi kesempatan pada Hanifah dan Tatuk untuk melepas kangen, sedang Lancelot mengajak nona An, bermain di kolam renang mini yang ada di kapal pesiar. Tatuk menikmati indahnya laut dari dalam kapal pesiar, Tatuk tidak hanya ngobrol dengan Hanifah namun juga ngobrol dan menghabiskan waktu dengan kedua orang tua Hanifah karena mereka sudah saling kenal, dan kebetulan sudah lama tidak berjumpa.
__ADS_1
Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah mereka, terutama Lancelot dia baru kali ini merasakan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang sempurna, Tatuk di jamu sebagaimana tamu pada umumnya, Lancelot dan yang lain tidak membedakan status sosial di antara mereka.
"Han, sudah sore aku tak pulang dulu, soalnya aku harus masuk rumah jam sembilan malam dan sebelum pulang aku mau ke toko Indonesia, beli sesuatu." ucap Tatuk.
"Kamu mau kemana biar di antar oleh Tuan Dandruff, sampai di tujuan, oh ya lain kali main ke rumah ya," ucap Hanifah.
"Pasti, jika suamimu mengijinkan aku sangat senang bisa bebas bertemu dengan kamu tidak seperti biasanya, kita ketemu saja seperti tahanan luar saja." ucap Tatuk di iringi tawa.
"Iya ya, ketemu kamu saja di jaga ketat." timpal Hanifah dengan tawa renyahnya.
Hanifah memberi tahu pada Lancelot jika Tatuk mau pulang, Lancelot segera memerintahakan Dandruff untuk menyuruh sopir mengantar Tatuk sampai di tempat tujuan. Setelah Tatuk pamit ternyata tuan dan nyonya Bisseling serta orang tua Hanifah juga sudah merencanakan sesuatu.
"Kalian, tetap di sini kami akan ajak An pulang, ya kan An." ucap nyonya Bisseling.
"Iya, nanti aku mau tidul sama oma mama sepelti dulu, bial aku cepet punya adik." sahut nona An, polos sambil memamerkan giginya.
Hanifah terkejut dengan ucapan mereka "Tapi Ma, Buk, bagaimana jika An tidak bisa tidur?" Hanifah sangat khawatir.
"Aku tahu kamu khawatir, selama ini kamu sudah menghabiskan waktu untuk merawat cucuku sekarang istirahatlah barang sejenak, mumpung besok masih tanggal merah An, juga masih libur sekolah kalian butuh waktu untuk berdua." ucap nyonya Bisseling bijak.
"Kami, juga mau pulang, kami makan malam di rumah saja." ucap tuan Bisseling.
"Hati-hati kami pamit, dulu." pamit Semi.
"Jaga diri kalian baik-baik." pesan Legi.
__ADS_1
"Terima kasih, jangan khawatir saya akan jaga Han, dengan baik, sebagai menjaga diriku sendiri." sahut Lancelot penuh percaya diri.
Sepeninggalan mereka Lancelot mengajak Hanifah untuk menikmati senja dari kapal pesiar. Lancelot sebenarnya mengajak Hanifah untuk berenang namun karena angin kencang sehingga Hanifah merasa dingin maka Hanifah menolak ajakan Lancelot.