
Hanifah momong nona An sambil terus berpikir keras siapa kira-kira orang yang telah menaruh uang di dalam paketnya. Nyonya Bisseling yang tidak biasa melihat Hanifah dalam keadaan serius segera menghampiri Hanifah yang sedang momong sambil berpikir.
"Han," sapa nyonya Bisseling ramah.
"Nyonya," sahut Hanifah sedikit terkejut.
"Apa ada masalah, kelihatannya seperti ada yang kamu pikirkan? Tadi siapa yang telon?" tanya nyonya Bisseling menghampiri Hanifah dan nona An yang sedang bermain di kamar Lancelot.
"Tadi orang tua saya mengabari jika paketannya sudah sampai namun ada sedikit keanehan, karena tidak ada nama ekpedisi yang tercantum di paketan serta di dalam paketan terdapat uang jika di kurs-kan ke dolar Hongkong mencapai sekitar tiga puluh ribu dolar Hongkong, namun yang di dalam paket sudah dalam bentuk rupiah," cerita Hanifah jujur.
"Barang yang diterima bagaimana, sama atau berbeda dari apa yang kamu kirim?" tanya nyonya Bisseling tidak terkejut sama sekali.
"Semua barang sama cuma yang membuat berbeda hanya uangnya saja, saya takut ada orang yang sengaja ingin berbuat jahat pada kedua orang tua saya," sahut Hanifah dengan mimik wajah khawatir.
"Kamu, sudah tanya majikanmu apa belum?" tanya nyonya Bisseling santai.
"Belum nyonya, nanti malam saja jika tuan Lanc, sudah istirahat," sahut Hanifah.
"Daripada kamu kepikiran telpon saja majikanmu sekarang, biar aku sambungkan," ucap nyonya Bisseling langsung memencet nomor Lancelot tanpa minta persetujuan dari Hanifah.
Tut tut tut tut.
"Hai Ma," sapa Lancelot di balik layar monitor.
"Hani, mau ngomong sama kamu," ucap nyonya Bisseling.
"Ada apa Hani, nyari aku apa An sakit?" tanya Lancelot cemas.
"Han, kamu ngomong sendiri." nyonya Bisseling memanggil Hanifah yang masih bercengkerama dengan nona An.
"Apa tidak mengganggu tuan, Nyonya?" tanya Hanifah ragu.
__ADS_1
"Tuanmu hari ini lagi santai, biar aku dan suster yang menjaga An, kamu ngobrol sama tuanmu ," perintah nyonya Bisseling.
Hanifah menerima hand phone yang di sodorkaan oleh nyonya Bisseling "Hai Tuan maaf mengganggu." sapa Hanifah sopan.
"Ada apa Han, kata mama ada hal penting yang ingin kamu tanyakan?" tanya Lancelot pada Hanifah yang sudah berada di balik layar.
"Begini Tuan barusan kedua orang tua saya memberi kabar jika paketannya sudah sampai rumah, dan ibu saya yang menerimanya namun ada hal yang sedikit ganjil, semua barang sama tapi di dalam paketam ada uang tunai sebesar kisaran tiga puluh ribu dolar Hongkong, jika di kurs-kan ke dolar Hongkong, dan di dalam bungkus paketan tidak ada nama ekpedisinya, jadi saya mau tanya Tuan menggunakan jasa ekpedisi apa, biar saya bisa melacaknya," jelas Hanifah "Atau jangan-jangan Tuan sendiri yang menaruh uang tersebut?" tanya Hanifah tanpa ragu.
"Oh, soal itu aku kira kamu mau minta pulang ke Indonesia," sahut Lancelot santai.
"Jadi bagaimana tuan?" tanya Hanifah masih penasaran.
"Aku tidak menggunakan jasa ekpedisi, orang suruhan dari rekan kerjaku yang mengantarnya kebetulan mereka ada proyek di kotamu, soal uang itu bukankah kamu memintaku untuk transfer ke orang tuamu, jadi mumpung aku lagi ada di Bali, aku kirimkan uangnya sekalian biar orang tuamu jika butuh yang tidak perlu pergi ke Bank untuk mengambilnya," jelas Lancelot.
"Baik Tuan terima kasih, nanti Tuan tinggal potong gaji saya saja atau sampai rumah langsung saya bayar," Hanifah tidak menyadari jika Lancelot berada di kota Malang.
"Jika kurang kamu tinggal bilang saja, mumpung saya masih berada di Bali, saya bisa minta tolong ke teman saya agar bisa mengantar langsung ke rumahmu," Lancelot menawarkan bantuan pada Hanifah.
"Saya telpon orang tua saya dulu tuan soalnya saya kurang paham mereka butuh berapa? soalnya baru tadi pagi mencapai sepakat untuk jual beli tanahnya, dan orang tua saya juga belum ngasih kabar ke saya." jelas Hanifah.
"Nona sangat baik dan tentunya nona An juga merindukan papanya." sahut Hanifah jujur.
"Kerjaanku sebenarnya sudah selesai sejak kemarin namun kami ingin melihat dan survey lokasi baru, untuk proyek baru, aku senang jika An merindukan papanya namun akan lebih senang lagi jika mamanya An, juga merindukan papanya An." jelas Lancelot percaya diri.
"Lihat nona An, sedang asyik bermain dengan nyonya dan suster, nona An mulai pandai main perosotan yang baru saja di beli oleh nyonya besar kemarin lusa." cerita Hanifah tentang nona An.
Lancelot sangat antusias melihat setiap gerak-gerik nona An yang sangat lincah, dan terlihat semakin bahagia, hampir setengah jam Lancelot melihat perilaku nona An, dari balik layar tanpa bicara sedang Hanifah fokus memegang hand phone-nya, sambil terus mengawasi nona An yang semakin lincah.
"Tidak terasa sudah hampir sebulan aku tinggalkan An, sekarang sudah tambah pintar saja anakku," ucap Lancelot bangga.
"Anak-anak sangat cepat bertumbuhnya, jangankan satu bulan satu hari saja tidak mengetahuinya sudah ketinggalan banyak,Tuan." sahut Hanifah santai apa adanya.
__ADS_1
Nyonya Bisseling dan suster mengamati bagaimana reaksi Hanifah, saat berbicara dengan Lancelot, semua masih sama tidak ada yang berubah, Hanifah tetap santai dan setiap kali telepon yang di bahas tidak lain dan tidak bukan pasti nona An, tidak pernah membahas tentang hati mereka, sekuat apapun Lancelot, memancing Hanifah, namun Hanifah tetap pada pendiriannya.
"Han, kamu mau pesen apa mungkin ada yang kamu pingini, mumpung aku lagi ada di pulau Bali," Lancelot menawarkan sesuatu pada Hanifah.
"Hanifah di tawari, mama kok gak di tawari!" protes nyonya Bisseling untuk menggoda Lancelot.
"Mama mau apa, nanti Lanc bawakan." sahut Lancelot santai.
"Aku gak aneh-aneh mintanya, masih sama seperti puluhan tahun yang lalu, aku hanya ingin An, punya mama," jawab nyonya Bisseling.
"Mama, bilang sama Hani, mama bujuk Hani biar Hani, mau mau menjadi mamanya An," ucap Lancelot tanpa sungkan.
"Han, bagaimana?" tanya nyonya Bisseling pada Hanifah.
"Apanya, Nyonya yang bagaimana?" Hanifah malah bertanya balik pada nyonya Bisseling.
"Seperti yang Lanc, bilang menjadi mamanya An," ucap nyonya Bisseling enteng tanpa beban.
"Sekarang nona An, sudah menanggil mama, toh sama saja." sahut Hanifah asal.
"Jadi, kamu siap menikah dengan putraku begitu?" goda nyonya Bisseling.
"Jadi mama nona An?, bukan berarti harus menikah-kan, sebutan mama itu boleh pada siapa saja-kan Nyonya, termasuk pada saya yang telah menyusui nona An." sahut Hanifah santai.
"Betul juga." sahut nyonya Bisseling mengalah.
Lancelot yang mendengar langsung ucapan Hanifah, membuat Lancelot semakin membulatkan tekadnya untuk menaklukan hati Hanifah, Lancelot akan menggunakan kesempatannya di Indonesia untuk menggali informasi lebih dalam tentang Hanifah, agar Lancelot bisa menaklukan Hanifah, dan mumpung Lancelot masih berada di Indonesia, lebih tepatnya di kota Malang, kota tempat tinggal Hanifah.
Hanifah seperti biasa tidak begitu peduli dangan ucapan Lancelot maupun nyonya Bisseling, Hanifah tetap cuek dan fokus pada nona An.
"Han, ayo cepat katakan kamu mau aku bawakan apa dari sini, mumpung aku masih berada di Indonesia." ucap Lancelot lagi.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan, tidak perlu !" tolak Hanifah tetap santun.
"Baiklah, hati-hati Han, jaga An." pesan Lancelot lalu menutup panggilan video call-nya.