
Hanifah menghampiri nona An dan Lancelot sambil menyodorkan semangkuk kecil menu buat nona An, nona An kini sudah mulai bisa makan nasi namun juga dengan lauk special untuk balita.
"Anak, manis lapar ya, ayo makan dulu nurutnya disuapi sama papa," nasehat Hanifah lembut.
"Ma ma ma ma." nona An langsung girang melihat ada semangkuk makanan untuknya.
"Ayo, panggil Pa... pa... pa... pa.... " Hanifah mengajari nona An memanggil kata papa.
"Pa... ma ma." walau hanya satu kata nona An bisa memanggil papa pada Lancelot.
"Pinter anak papa, ayo sekali lagi." pinta Lancelot.
"Tuan maaf saya kira nona An sedah sangat lapar sebaiknya tuan suapi dulu nona, nanti keburu nangis, apalagi sekarang sudah siang, dan lagi kalau nyuapi nona sedikit-sedikit saja segini sepucuk sendok." nasehat Hanifah pada Lancelot sambil menunjukan sendik berisi makanan untuk nona An.
"Baiklah, papa suapi ya sayang anak manis makan yang banyak agar cepat besar dan kuat, cantik seperti mama Hani, a a a." ucap Lancelot tanpa sadar sambil menyodorkan sendok pada mulut nona An.
Hanifah mendengar ocehan Lancelot hanya geleng-geleng kepala sambil terus menikmati sarapan paginya, Hanifah benar-benar tidak terpengaruh dengan ucapan Lancelot barusan. Lancelot terus menyuapi nona An sedangkan nona An juga menikmati suapan dari Lancelot walau yang terjadi sungguh di luar dugaan Hanifah, nasi jatuh berceceran karena kadang nona An malah memainkan nasinya di sembur-sembur sambil tertawa riang gembira. Lancelot, ya tubuh Lancelot juga tidak luout dari nasi hasil karya nona An, nona An terus terkekeh girang seperti memiliki maianan baru.
"Anak manis, kamu pinter sekali mepermainan papa ya!" gurau nona An, kali ini yang tertawa lepas bukan hanya nona An saja, namun Lancelot juga ikut tertawa lepas seolah tidak peduli dengan adanya Hanifah di dekatnya.
"Tuan, saya ke kamar mandi dulu sebentar." pamit Hanifah pada Lancelot.
"Silakan, kamu sedang tidak sakit kan Han, baei saja di kamar mandi belum ada satu jam sudah mau ke kamar mandi lagi?" ucap Lancelot heran.
"Tidak apa-apa tuan." sahut Hanifah sedikit salah tingkah, karena datang bulannya yang sudah mulai banyak, otomatis harus sering ganti tisu.
"Baiklah, jika sakit aku panggilan dokter." ucap Lancelot.
"Tidak perlu dokter tuan, cuma nunggu nyonya besar saja." sahut Hanifah langsung menuju kamar mandi.
__ADS_1
Lancelot masih berpikir tentang tingkah aneh Hanifah, setalah Hanifah sudah madil ke kamar mandi Lancelot kembali menyuapi nona An, entah apa yang di lakukan oleh nona An hampir satu jam nasi dalam mangkuk kecilnya belum habis juga. Kali ini Hanifah hanya butuh waktu sepuluh menit berada di kamar mandi, selesai mengganti tissu Hanifah segera menghampiri Lancelot.
"Tuan, Silakan tuan sarapan biar saya yang menyuapi nona." pinta Hanifah.
"Kamu benar tidak sakit kan, Han?" Lancelot masih belum puas dengan semua jawaban Hanifah.
"Tenang saja, tuan sekarang belum namun entah nanti." sahut Hanifah santai.
"Maksudmu?" tanya Lancelot semakin penasaran.
"Sebaiknya tuan makan saja dulu, kalau ngomong terus kapan selesainya." ucap Hanifah akhirnya.
"Baiklah." Lancelot mengalah tidak lagi bertanya, Lancelot segera memulai menyantap menu sarapannya sedangkan Hanifah melanjutkan untuk menyuapi nona An.
"A a a a, sayang," Hanifah menyuapi nona An, nona An makan dengan lahap dan juga tidak memainkan nasinya.
Nona An maupun Lancelot menikmati sarapannya tanpa suara, hanya dalam waktu dua puluh menit nona An sudah menghabiskan sisa makanannya yang masih setengah mangkuk tadi.
Lancelot yang sedang menikmati menu sarapannya senyum-senyum sendiri melihat tingkah putrinya dan Hanifah. Selesai menyuapi nona An, Hanifah membersihkan tubuh nona An dari nasi yang bertebaran. Hanifah juga segera membersihkan lantai dan juga tempat yang ada nasinya akibat ulah nona An. Lancelot kini juga sudah selesai makan, kali ini Lancelot membersihkan sendiri sisa makanannya mengingat Hanifah yang sudah sangat sibuk dengan nona An.
"Han, siang ini kita tidak jadi keluar besok saja, mama kirim pesan katanya sangat capek dan pingin istirahat." ucap Lancelot, tadi saya sudah kirim pesan ke mama, sejam lagi mama kesini, sebab mama baru saja bangun." ucap Lancelot, tanpa Hanifah ketahui ternyata Lancelot sudah mengirim pesan ke nyonya Bisseling.
"Baik tuan," sahut hanifah sedikit lega.
Lancelot kembali bermain dengan nona An, Lancelot membantu nona An yang sedang belajar berjalan, selangkah sampai sepuluh langkah nona An sudah mulai bisa, dan soal belajar jalan nona An juga jarang jatuh.
"Ayo, sayang ke arah papa!" seru Lancelot girang melihat putrinya yang semakin pintar jalan
"Ma ma ma ma." ocehan nona An tetap mama manun nona An berjalan menuju ke arah Lancelot duduk.
__ADS_1
"Sayang ayo panggil Pa pa pa." ucap Hanifah pelan.
"Pa pa." dua kata papa, dan nona An langsung memeluk Lancelot begitu sudah mencapai Lancelot.
"Anak papa pintar sekali." Lancelot memeluk dan mencium nona An penuh haru.
Hanifah dan Lancelot benar-benar memanjakan nona An, Hanifah merawat nona An rasanya seperti merawat anaknya sendiri, dari segi apapun Hanifah selalu menomor satukan nona An. Lancelot hari ini benar-benar ada hanya untuk putrinya, Lancelot menghabiskan paginya menemani nona An, banyak sekali video nona An yang diambil oleh Lancelot atau Hanifah yang membantu mevideokan Lancelot dan nona An sedang bercengkerama. Jam dua belas siang nyonya Bisseling, memencet bel pintu kamar Hanifah, sambil memanggil nama Hanifah, mendengar suara nyonya Bisseling Hanifah segera menuju pintu dan membukakannya untuk nyonya Bisseling.
"Siang, Han," sapa nyonya Bisseling ramah.
"Selamat siang nyonya," sahut Hanifah sopan.
"Kata Lanc, kamu ada perlu saya aku, ada apa Han?" tanya nyonya Bisseling langsung pada Hanifah.
"Begini nyonya ehm... ehm.... " Hanifah tetap ragu ingin mengutamakan keinginannya.
"Ada apa Han, katakan!" pinta nyonya Bisseling lembut.
"Begini nyonya, saya sedang ehm... ehm... saya sedang datang bulan sedangkan di kamar ini tidak ada pembalut, saya mau beli tapi tidak tahu di mana belinya dan saya tidak memilki uang negara ini." ucap Hanifah lirih agar tidak di dengar oleh Lancelot.
"Oalah, itu to, kamu pakai pembalut merek apa biar Lanc yang beli, soalnya aku lagi malas keluar pingin istirahat saja hari ini." ucap nyonya Bisseling keras dan juga santai.
Muka Hanifah langsung merah padam menahan malu mendengar ucapan nyonya Bisseling yang begitu keras dan santai.
"Lanc, kamu tolong belikan pembalut, buat Hani, maka lagi malas keluar." perintah nyonya Bisseling pada Lancelot.
"Apa ma, pembalut !" sahut Lancelot terkejud dengan perintah nyonya Bisseling.
"Iya, pembalut, kamu beli merek Xxxx, biasnya Joyce beli itu untuk semua pekerja di rumahmu." jelas nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Kenapa dari tadi kamu gak bilang Han!" ucap Lancelot seolah tidak keberatan dengan perintah nyonya Bisseling untuk membelikan pembalut buat Hanifah yang notabennya pembantunya.
Wajah Hanifah benar-benar merah padam menahan malu karena akhirnya Lancelot yang pergi untuk membelikan pembalut buat dirinya. Di balik rasa malu Hanifah juga menahan tawa geli bagaimana seorang Lancelot harus membeli pembalut untuk pembantunya.