Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 112


__ADS_3

Semalaman nyonya Bisseling, Dandruff, dan pelayan yang berada koridor rumah sakit tidak tidur, sedang Hanifah membawa nona An, di dalam mobil karena nona An, terlalu kecil untuk berada di dalam rumah sakit terlalu lama, tentunya tidak baik untuk kesehatan nona An, selama Hanifah dan nona An berada di dalam mobil yang di parkir di parkiran beberapa pengawal menjaga mereka.


"Keluarga tuan Lancelot!" seorang dojter mencari keberadaan keluarga Lancelot.


"Ya, sus!" nyonya Bisseling dan Dandruff segera berdiri menghampiri suster yang mencari keluarga Lancelot.


"Tuan Lancelot sudah melewati masa kritisnya namun masih harus berada di ruang ICU, tadi kami mendengar dia menyebut nama An dan Hani." tutur suster.


"Dand, segera panggil An dan Hani ke sini!" perintah nyonya Bisseling.


"Baik nyonya." Dandruff segera menelpon pengawalnya untuk membawa Hanifah dan nona An, datang.


Pengawal yang mendapat perintah dari Dandruff segera memberitahukan pada Hanifah.


"Nona, nyonya minta anda dan nona kecil untuk ke ruang ICU, tuan muda mencari anda dan nona An." lapor pengawal.


Wajah Hanifah yang tadinya sayu kini langsung berubah berbinar "Baik tuan, kami segera ke sana," sahut Hanifah semangat "Sus, kita segera ke sana,"


Suster segera membantu Hanifah untuk bersiap-siap, dengan di kawal oleh para bodyguard Lancelot Hanifah dan suster segera melangkah sedikit berlari menuju ruang ICU tempat Lancelot di rawat.


Nyonya Bisseling menunggu kedatangan Hanifah dengan cemas, tidak sampai sepuluh menit Hanifah sudah berada di hadapan nyonya Bisseling.


"Han!" seru nyonya Bisseling menyambut kedatangan Hanifah dan nona An.


"Nyonya bagaimana keadaan tuan?" ucap Hanifah dengan wajah penuh tanya.


"Kita, masuk bawa An, Lanc, mencari kalian." ucap nyonya Bisseling.

__ADS_1


Hanifah menganggukkkan kepala tanda setuju, mulut Hanifah terkunci dia tidak bisa berucap, hanya rapalan doa untuk Lancelot yang selalu dia ucapkan dalam hatinya, Hanifah semakin erat memeluk nona An, nona An tidak ladi rewel.


"Sus, ini An dan Hani yang di cari oleh pasien." lapor nyonya Bisseling pada suster yang berjaga.


"Baik nyonya, nyonya Silakan kenakan pakaian ini sebelum masuk menjenguk pasien." perintah suster sambil menyodorkan baju khusus pada Hanifah, nyonya Bisseling dan juga nona An.


"Terima kasih sus," nyonya Bisseling menerima baju pemberian suster dan segera mengenakannya, begitu juga Hanifah dengan cekatan segera memakai baju khusus tersebut.


Nyonya Bisseling, Hanifah dan nona An dengan di bimbing oleh suster mereka masuk ke ruangan khusus tempat Lancelot dirawat, di ruangan tersebut hanya ada Lancelot sendiri yang terbaring kaku penuh dengan alat medis, dan beberapa bagian tubuhnya di perban karena mengalami patah tulang di bagian tangan dan kaki, bahkan kepala Lancelot juga di perban akibat terbentur benda keras saat kecelakaan tadi.


Hanifah begitu melihat keadaan Lancelot tanpa bisa di bendung lagi airmatanya sudah membasahi pipinya, begitu juga nyonya Bisseling, mereka tidak dapat menyebunyikan kesedihannya.


"Lanc, lihatlah kami datang, Hani, An, mama tahu kamu sangat menyayangi mereka, bangun sayang." ucap nyonya Bisseling di tengah-tengah isak tangis kesedihannya.


"Tuan, cepat sembuh saya berjanji akan menjaga, merawat, dan mendidik nona An sebagaimana Putri saya sendiri, saya bersedia dan iklas menjadi mamanya nona An." ucap Hanifah lirih di tengah isak tangisnya.


"Sus," ucap nyonya Bisseling.


"Tuan Lancelot, bisa merespon dengan itu artinya Harapan untuk tuan sembuh masih kuat, namun kapan tuan Lancelot bisa bangun lagi kita tidak tahu dukungan serta kasih sayang orang terdekat sangat membantu proses kesembuhannya." jelas suster lirih.


"Tuan, kami semua menyayangi tuan, bangunlah tuan, saya yakin tuan orang yang kuat, bangunlah tuan nona An, sangat membutuhkan tuan." ucap Hanifah lirih di tengah isak tangisnya, tangannya menuntun tangan nona An untuk menggenggan tangan Lancelot.


Nyonya Bisseling melihat Hanifah dan nona An, memegang tangan Lancelot nyonya Bisseling juga ikut memegangnya.


"Lanc, segeralah bangun jangan terlalu lama tidur kalau kamu tidak ingin kehilangan Hani, kami sangat menyayangimu, apa kamu dapat merasakan betapa cemasnya Hani, melihat keadaanmu seperti ini." tutur nyonya Bisseling lirih tepat di telinga Lancelot.


Mendengar ucapan mereka berdua Lancelot meresponnya dengan mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Waktunya sudah habis, biarkan pasien istirahat." tutur suster yang mendampingi mereka.


"Tuan, kami tinggal dulu, setiap hari saya akan membawa nona An, untuk datang ke sini." tutur Hanifah sebelum meninggalkan kamar ICU.


"Lanc, mama lega mendengar ucapan Hani, tadi, cepatlah bangun tanggung jawabmu masih banyak, mama dan Hani, pulang dulu semalaman Hani tidak tidur, menunggu kamu, kami sangat menyayangimu." tutur nyonya Bisseling.


Nyonya Bisseling, Hanifah keluar dari ruang ICU dengan di kawal oleh suster jaga.


"Han kamu pulang lah, Lanc biar mama yang jaga." perintah nyonya Bisseling.


"Nyonya, saya tidak tega melihat tuan seperti ini." ucap Hanifah, tulus.


"Terima kasih Han, tolong cintai dan sayangi anak dan cucuku, cinta mu dan kasih sayangmu untuk Lanc, sangat membantu kesembuhan Lanc, kamu tahu Han, pertama yang di ucapkan Lancelot adalah namamu." tutur nyonya Bisseling jujur dan tulus.


"Saya akan menyangi dan mencintainya Sebagaimana saya menyayangi dan mencintai nona An." tutur Hanifah dengan mata yang masih berkata-kaca.


"Nyonya, tuan besar sedang dalam perjalanan menuju bandara, akan sampai di negara Hongkong kurang lebih tiga jam." lapor Dandruff.


"Iya, aku tahu." sahut nyonya Bisseling dengan parau.


"Han, bawa An pulang dan kamu juga istirahat di rumah, ada apa-apa segera aku kabari kalian!" perintah nyonya Bisseling pada Hanifah.


"Nyonya, sebaiknya anda juga istirahat biar tuan saya yang jaga." tutur Dandruff.


"Aku akan di sini sampai tuan besar datang." sahut nyonya Bisseling.


"Saya dan nona pamit dulu nyonya." pamit Hanifah pada nyonya Bisseling.

__ADS_1


Hanifah menuruti perintah nyonya Bisseling, dia segera pamit undur diri, Hanifah pulang dengan di kawal ketat oleh para bodyguard yang di tugaskan khusus untuk mengawal Hanifah.


__ADS_2