Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 114


__ADS_3

Hanifah semenjak pulang dari rumah sakit dia berusaha bersikap biasa saja, namun sekeras apapun Hanifah berusaha bersikap biasa namun dari guratan wajahnya tidak bisa di bohongi betapa Hanifah, juga merasakan kesedihan yang mendalam. Sejak kemarin lusa nona An, tidak mau lepas dari Hanifah, semenjak sepulang dari rumah sakit tadi, nona An semakin lengket dengan Hanifah, jika biasanya nona An, setelah mimum susu dia akan terlelap dengan mimpinya, kali ini dari sepulang dari rumah sakit tadi nona An, tidur sambil minum ASI, jadi Hanifah menyusui nona An, sambil berbaring miring, ketika Hanifah ingin melepas susunya dari mulut nona An, sat itu juga nona An, terbangun dan menangis terus menerus.


"Han, kak Joyce datang," ucap suster memberi tahu Hanifah.


"Kak, Joyce," sapa Hanifah begitu melihat Joyce sudah berada di kamar Lancelot yang sekarang menjadi kamar nona An, dan Hanifah.


"Han, hari ini dan besok aku yang di sini, menenanimu dan nona An, Tuan dan nyonya besar menyuruh suster untuk istirahat," tutur Joyce "Bagaimana keadaan tuan muda?" tanya Joyce.


"Tuan, masih koma," tutur Hanifah dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.


"Sus, segeralah turun sopir sudah menunggumu, kanh cepat istirahat ingat besok kamu libur," Joyce memperingatkan suster.


"Baik, kak Joyce aku pamit pulang dulu, Han, aku pamit."


"Hati-hati sus." sahut Joyce dan Hanifah bersamaan.


Setelah berpamitan suster meninggalkan kamar Hanifah dan nona An, nona An msuh di posisi yang sama minum ASI sambil tidur.


"Sejak kapan nona An, tidur sambil terus minum ASI?" tanya Joyce.


"Sejak beberaos hari yang lalu, mungkin dia tahu akan terjadi sesuatu pada papanya," sahut Hanifah berusaha tenang di hadapan Joyce.


"Tugasmu semakin tidak mudah Han," tutur Joyce "Lihatlah nona An, seolah tidak mau lepas dari hidupmu." ucap Joyce menghampiri Hanifah dan nona aan di atas ranjang lalu mengusao oucuk kepala nona An.


"Akhir-akhir ini tuan muda selalu berpesan padaku untuk menjaga, merawat mendidik dan menyayangi Nona An, sebagai aku menyayangi anakku selagi tuan tidak ada, dan ternyata ini jawaban dari semua pesan-pesannya beberapa waktu lalu," ucap Hanifah menerawang.


"Hm Hm Hm Hm Hm." suara nona An sambil terus minum ASI.


"Tenang sayang, mana Hani tidak akan pernah meninggalkanmu, mama Hani sangat sayang padamu." ucap Joyce "karena mama Hani adalah wanita yang cocok untuk menjadi mamamu." tambah Joyce.

__ADS_1


Hanifah hanya diam, dia tidak begitu menghiraukan ocehan Joyce yang mungkin sedikit melantur.


"Han, kapan kerumah sakit kembali?" tanya Joyce.


"Aku belum tahu kak, kata nyonya sore hari baru ke sana lagi, pas jam jenguk pasien." tutur Hanifah.


"Semoga tuan Lanc, bisa segera sembuh." doa Joyce.


"Aamiin." Hanifah mengaminkan doa Joyce.


Joyce dan Hanifah terlihat percakapan ringan dan juga lirih, setelah beberapa saat tuan dan nyonya Bisseling masuk kamar yang di tempati Hanifah dan dan nona An.


"Han,Joyce !" sapa nyonya dan tuan Bisseling bersamaan.


"Tuan nyonya," sahut Joyce dan Hanifah, Hanifah tetap berbaring karena nona An tetap pada posisinya, sedangkan Joyce bangkit berdiri memberi hormat pada tuan dan nyonya Bisseling.


"Bagaimana keadaan An cucuku?" tanya nyonya Bisseling pada Hanifah dan menghampiri Hanifah yang sedang menyusui nona An sambil tiduran.


"Dia membutuhkan perlindungan darimu Han, sabar titip cucuku, sekarang yang di miliki oleh An yaitu kamu," tutur nyonya Bisseling.


"Saya akan berusaha nyonya," sahut Hanifah sambil menahan sesak di dadanya.


"Nanti sore jam setengah lima kita akan ke rumah sakit kembali, kalian harus ikut, masih dua jam sekarang istirahatlah!" perintah tuan Bisseling. "Karena An, sedang tidur aku mau keluar dulu, Ma temani cucu kita dan istirahatlah sebentar Ma." perintah tuan Bisseling.


"Baik, pa." sahut nyonya Bisseling enteng.


"Bagaimana keadaan tuan, nyonya?" tanya Hanifah.


"Masih sama kita doakan yang terbaik untuk Lanc." sahut nyonya Bisseling, ikut berbaring di sebelah nona An.

__ADS_1


"Iya, nyonya." sahut Hanifah.


"Aku ngantuk sekali, aku pingin tidur di sini, Joyce tolong siapkan tas untuk keperluan An nanti sore." perintah nyonya Bisseling.


"Baik nyonya." sahut Joyce segera melakukan perintah dari nyonya Bisseling.


Tidak sampai lima belas menit nyonya Bisseling terbuai di alam mimpinya sambil memeluk nona An, jadi kini nona An tidur dalsm pelukan Hanifah dan nyonya Bisseling. Tubuh Hanifah terasa pegal sekali karena hampir tiga jam menyusui nona An sambil berbaring, Hanifah juga merasakan kantuk yang sangat berat namun matanya tidak mau di ajak terpejam.


Tuan Bisseling berada di taman sambil melakukan panggilan kepada beberapa relasinya. Berita tentang kecelakaan Lancelot menyebar begitu cepat di seluruh media cetak maupun elektronik di negara Hongkong.


"Kenapa semuanya Begini, aku tidak ingin kekasihku mati, kalian begitu bodoh!" A ling marah tanpa alasan yang jelas sambil melempar beberapa koran yang memuat berita tentang kecelakaan yang menimpa Lancelot.


A ling semakin depresi dengan ambisinya yang salah sasaran.


"Keluar!" teriak A ling." dua pengawal A ling yang sedang menemaninya langsung keluar tanpa menjawab.


Setelah dua pelayannya keluar, A ling mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tidak dia kenal.


"A ling, rupanya kamu masih belum puas, dengan apa yang pernah kamu lakukan pada Lanc, sekalipun kamu berusaha menghilangkan buktinya kaku tidak akan selamat dariku." suara tuan Bisseling menggelegar hingga memekak telinga A ling.


"Ayah, mertua silakan saja, karena ayah mertua tidak akan bisar menemukan semua bukt-bukti yang akurat, yang bisa menghancurkan saya." jawan A ling percaya diri.


"Yang kamu hadapi sekarang bukan hanya Lancelot, tapi aku."ucap tuan Bisseling dingin "Bersiap-siaplah untuk kabur karena aku akan terus mengejarmu."


Tanpa menunggu jawaban dari A ling ruang Bisseling mematikan sambungan telponnya. A ling semakin geram dengan sikap tuan Bisseling, A ling tahu sepak terjang tuan Bisseling dalam dunia bisnis dan tentunya A ling juga tahu bagaimana tuan Bisseling bisa menghancurkan musuhnya dengan rapi dan juga tanpa jejak. A ling setelah mendapat pangggilan dari tuan Bisseling dia semakin gusar dan kacau, karena tuan Bisseling bukan lawan yang mudah untuk di kalahkan.


Waktu berlalu lamban sekali, Hanifah sudah tidak sabar menunggu waktu untuk pergi ke rumah sakit, jam empat sore Hanifah berusaha membangunkan nyonya Bisseling agar segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Setelah hampir dua jam tertidur nyonya Bisseling bangun itupun juga di karenakan Hanifah yang membangunkannya. Setelah bebeapa saat, nyonya Bisseling sudah menunggu di ruang tengah bersama dengan tuan Bisseling.


"Tuan, Nyonya!" sapa Hanifah yang menggendong nona An, dengan di kawal oleh Joyce.

__ADS_1


"Ayo berangkat," ajak nyonya Bisseling.


Nyonya Bisseling, Tuan Bisseling, Hanifah beserta Joyce menuju parkiran mobil. Mereka berangkat ke rumah sakit menggunakan satu mobil saja demi keamanan dan memudahkan penyelamatan jika orang-orang A ling tiba-tiba menyerang.


__ADS_2