Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 26


__ADS_3

"Hani, mana Lanc?" tanya nyonya Bisseling yang sudah duduk di meja makan bersama dengan tuan Bisseling.


"Hani, sedang menyusui An." jawab Lancelot jujur dengan wajah sedikit gusar setelah melihat pemandangan tadi, pemandangan Hanifah yang sedang menyusui anaknya.


"Kalau gitu kita makan saja dulu, ayo sus kita makan bersama, biar nanti bisa gantian jaga An." ujar nyonya Bisseling.


Lancelot berusaha setenang mungkin agar tidak ada yang mengetahuinya, Lancelot yang sudah lama tidak lagi mengenal wanita lebih dekat, apalagi sampai melihat secara langsung kegiatan Hanifah dalam menyusui putrinya sesuatu yang tidak pernah Lancelot lihat selama ini. Lancelot segera menyelesaikan makan malamnya sebelum Hanifah turun sebab Lancelot juga menangkap akan kegugupan Hanifah dan kecangguangn Hanifah tadi.


"Kamu kenapa Lanc, cepat sekali makannya?" tanya tuan Bisseling penasaran.


"Capek Pa, aku mau segera menyelesaiakan pekerjaanku dan aku ingin segera beristirahat." bohong Lancelot.


"Oh, apa kamu tidak enak badan Lanc?" kini nyonya Bisseling yang bertanya.


"Cuma capek saja ma, nanti setelah minum vitamin juga bakal baik-baik saja." sahut Lancelot masih dengan kebohongannya. Sayangnya orang tua tidak mudah untuk dibohongi anaknya, walau masih menyimpan rasa penasarannya akan perubahan Lancelot tuan dan nyonya Bisseling tetap melanjutkan makan malamnya dengan ditemani oleh suster.


Lancelot segera meninggalkan meja makan dan menuju ruang kerjanya, konsentrasi Lancelot langsung buyar seketika, tadinya Lancelot ingin bermain dengan An, langsung di urungkan. Selama ini Lancelot tidak pernah melihat tubuh Hanifah seperti sevilgar tadi, pasalnya selama ini Hanifah selalu memakai pakaian yang sopan dan tertutup karena AC di rumah Lancelot yang tidak pernah mati membuat Hanifah kedinginan sehingga Hanifah harus berpakaian serba panjang agar tidak sakit, sebab tubuh Hanifah tidak bisa menerima dingin yang disebabkan oleh AC.


"Sus, Hanifah kok belum turun, apa dia belum selesai menyusui cucuku, sudah lebih setengah jam." ujar nyonya Bisseling penasaran.


"Tadi sepertinya nona An, ngantuk mungkin mbak Hani menidurkan nona An, dulu." sahut suster apa adanya, sebab tadi sebelum minum ASI nona An sudah mulai rewel karena ngantuk.


"Pantas saja sudah setengah jam Hani, tidak turun." ujar nyonya Bisseling, sedang tuan Bisseling tetap tenang dengan menikmati makan malnya dengam lambat.


"Nyonya, tuan saya lihat dulu nona An dan Hanifah." pamit suster yang sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Ya, tolong panggil Hani, makanannya keburu dingin, dan tolong bilang Hani kami menunggunya." ucap nyonya Bisseling.


"Baik, Tuan, Nyonya."

__ADS_1


Suster langsung bangkit berdiri untuk meninggalkan meja makan, suster pergi menuju lantai dua untuk memanggil Hanifah. Hanifah masih berada di kamar nona An, padahal nona An sudah tidur sejak tadi, karena Hanifah malu untuk bertemu dengan Lancelot sehingga Hanifah tidak langsung turun untuk menghindari bertemu dengan Lancelot.


"Mbak, ditunggu nyonya dan tuan besar di meja makan, katanya tuan mau makan bareng mbak." ujar suster menyampaikan pesan dari tuan dan nyonya Bisseling.


"Iya, sus, nona An, baru saja tidur jadi aku belum bisa meninggalkannya." bohong Hanifah, dengan terpaksa dan perasaan tidak menentu Hanifah turun untuk makan karena cacing dalam perutnya sudah protes minta jatah makan.


Hanifah melangkah dengan perasaan ragu, Hanifah melangkah pelan-pelan, sambil terus melihat di ruang makan untuk memastikan keberadaan Lancelot. Hanifah merasa lega ketika tidak melihat Lancelot ada di meja makan, Hanifah berdoa semoga Lancelot benar-benar tidak ada dan tidak kembali ke meja makan.


"Selamat malam tuan, selamat malam nyonya." sapa Hanifah ramah.


"Selamat malam Han." sahut nyonya Bisseling dan tuan Bisseling ramah dan penuh persabatan.


"Maaf, baru selesai menyusui nona An." ucap Hanifah merasa tidak enak, Hanifah ingin mengucapkan jika menunggu lama tinggal saja, namun tidak enak karena jika bilang begitu bagi orang cina dirasa tidak sopan dan tidak mengharagai, maka Hanifah putuskan diam saja.


"Silakan makan, Han, itu tadi Aku beli di restaurant halal yang ada di kota Wan chai, untuk dua hari ini tidak ada pelayan di rumah ini jadi kita akan deliveri saja." jelas nyonya Bisseling.


"Silakan, Han." nyonya mempersilahkan dengan sopan begitu pula tuan Bisseling. Sebenarnya nyonya Bisseling dan tuan Bisseling sudah selesai makan namun karena hanya ingin memastikan Hanifah makan yang baik dan benar sehingga nyonya Bisseling tetap berada di meja makan sampai Hanifah selesai menghabiskan makan malamnya dengan baik.


"Pelan-pelan saja ham makanya." perintah nyonya Bisseling.


"Iya nyonya." jawab Hanifah sopan dan lembut "Nyonya Tuan Lanc, apa tidak makan?" tanya Hanifah penasaran karena tidak melihat Lancelot ada di meja makan.


"Sudah tadi, tapi katanya lagi banyak kerjaan jadi dia buru-buru." jawab nyonya Bisseling.


Dua puluh menit Hanifah menyelesaikan makan malamnya, begitu selesai makan malam Hanifah segera memberesi meja makan dengan di bantu oleh nyonya Bisseling, sebab di rumah tidak ada satupun pelayan yang masuk kerja, untuk dua hari ini yang bersih-bersih rumah, Lancelot memanggil tukang bersih-bersih dari kantor yang menyediakan jasa bersih-bersih rumah yang bayarnya perjam, jadi mereka bekerja berdasarkan jam.


Hanifah dengan cekatan mencuci peralatan makan tadi, Hanifah tidak minta bantuan suster sebab Hanifah tahu tugas susternya hanya membantu untuk merawat nona An, dan sang perawat juga tidak mungkin mahutahu tentang perdapuran.


"Han, kami mau bicara sebentar denganmu." ucap nyonya Bisseling begitu melihat Hanifah sudah menyelesaiakan pekerjaan dapurnya.

__ADS_1


"Baik nyonya." sahut Hanifah, Hanifah tahu harus kemana tentunya menuju ruang tengah karena tuan Bisseling sudah menunggu di sana Hanifah menyimpan beberapa pertanyaan.


"Silakan duduk, Han." perintah tuan Bisseling.


Hanifah menjawab singkat dan langsung duduk dengan perasaan takut, Hanifah takut jika Hanifah membuat kesalahan sehingga membuat dirinya harus kehilangan pekerjaan.


"Han, kamu sakit kenapa gelisah begitu?" tanya nyonya Bisseling.


"Tidak, nyonya. " jawab Hanifah nafuv gugup.


"Begini Han, selama dua minggu ini aku dan tuan besar akan tinggal di sini, seban dua minggu lagi laki kau berangkat ke Kanada untuk liburan." jelas nyonya Bisseling.


"Benar yang di katakan nyonya besar, Han, tolong jaga dan rawat cucu kami, jika tuanmu berlaku tidak baik padamu kamu langsung lapor kami, kali akan menghukuk tuanmu, aku yakin kamu mampu merawat cucuku dengan baik, maka aku percayakan padamu." ucap tuan Bisseling.


"Baik Tuan, Nyonya, saya akan laksanakan pesan dari tuan dan nyonya dengan baik, saya akan jaga dan merawat nona An, seperti menjaga dan merawat anak saya penuh kasih." jawab Hanifah lega apa yang di takutkan tidak terjadi.


"Han, bagaimana dengan perkembangan putriku?" tanya tuan Bisseling ingin tahu jawab dari Hanifah.


"Semua baik-baik saja tuan, dan nona An, berkembang dengan baik." jawan Hanifah.


"Han, kamu tahukan jika cucuku tidak memiliki ibu, Bukan tidak memiliki namun karena kekonyolan anakku, sehingga untuk memiliki anak Lancelot memilih jalan kontrak rahim." jelas tuan Bisseling.


"Apa? Bagaimana bisa rahim di kontrak dan bagaimana caranya?" Hanifah langsung terkejut dan tentunya tidak paham akan dunia luar.


"Bisa, Han, tapi ya itu mahal biayanya." jelas tuan Bisseling singkat.


"Maaf, kenapa tuan Lanc tidak menikah saja kan enak, dan saya masih tidak mengerti dengan tentang rahim kontrak itu bagaimana?" tanya Hanifah polos.


"Rahim Kontrak itu, si wanita tugasnya hanya mengandung tanpa ada ikatan pernikahan, dan jika anaknya susah lahir ya sudah berarti kontraknya habis." jelas tuan Bisseling, sedang Hanifah hanya manggut-manggut berusaha untuk mengerti penjelasan tuan Bisseling.

__ADS_1


__ADS_2