
Takdir manusia tidak ada yang tahu, Tuhanlah yang Maha membolak-balikan hati manusia Lancelot semakin gigih berlatih agar bisa berjalan kembali. Selama masih dalam masa penyembuhan Lancelot, mulai belajar tentang islam dari sahabatnya yang berasal dari indonesia yaitu tuan Setu Pon tanpa sepengetahuan Hanifah, selain belajar dari Setu Pon Lancelot juga sedikit -sedikit berkonsultasi dengan Hanifah. Sedikit demi sedikit Lancelot mulai meninggalkan apa yang menjadi larangan bagi umat Islam. Tanpa sepengetahuan Hanifah Lancelot mulai mengubah semua yang ada di dalam rumahnya sendiri, jika dulu hanya dapur kecil khusus buat Hanifah yang harus steril dan halal, sekarang semua peralatan dapur sudah di ganti semua oleh Lancelot.
Tidak terasa masa cuti Lancelot selama satu bulan sudah habis, Lancelot harus kembali ke kantor walau belum bisa berjalan dengsn normal. Selama satu bulan Lancelot tidak seharipun Lancelot absen untuk ikut Hanifah dan antar jemput sekolah nona An, Lancelot benar-benar menggunakan kesempatan dengan baik. Pagi ini Lancelot tetap ikut mengantar nona An, pergi ke sekolah, sebelum berangkat ke kantor.
"Anak papa, nanti siang hanya mana yang menjemput belajar yang rajin ya sayang, papa harus kerja agar kita bisa kerumah mama, An mau jalan-jalan ke rumah mama dan ketemu omanya mama," ucap Lancelot pada nona An, di dalam mobil.
"Mau pa." sahut nona An, girang.
"Sudah sampai, ayo pamit sama papa dulu." perintah Hanifah pada nona An.
"Da, pa." nona An, keluar dari mobil setelah bersalaman dan mencium tangan Lancelot.
Seperti biasa Hanifah mengantar nona An, nona An, sangat bahagia sekali nona An tidak pernah tahu jika Hanifah bukanlah mama kandungnya. Nona An, tetap berlaku seperti sama dengan anak di usianya, manja, ingin dilindungi. Selesai mengantar nona An, Hanifah kembali ke mobil.
"Sudah Han?" tanya Lancelot.
"Sudah tuan." sahut Hanifah yang sudah duduk di sebelah Lancelot.
"Terpaksa kamu harus mengantar aku me kantor dulu, setelah itu kamu baru pulang Han, menurutmu enak tinggal di rumah mama apa di rumahku sendiri?" tanya Lancelot pada Hanifah.
"Menurut saya enak semua karena mereka semua baik-baik, kalau tinggal di rumah nyonya besar minimal bisa membuat tuan dan nyonya besar bahagia, di masa tuanya mafih bisa berkumpul dengan anak dan cucunya." sahut Hanifah mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Apa kamu sangat menyayangi kedua orang tuamu Han?" tanya Lancelot pada Hanifah.
"Tentu tuan, saya sangat menyayangi beliau itu sebabnya saya ingin selalu dekat dengan kedua orang tua saya, apalagi saya anak satu-satunya, jadi sudah seharusnya saya menyayangi mereka," jelas Hanifah.
"Sudah tiga tahun lebih kamu tidak bertemu dengan kedua orang tuamu, apa kamu benar-benar merindukan mereka?" tanya Lancelot penuh selidik.
"Tidak ada anak yang tidak merindukan kedua orang tuanya Tuan, tentu saya sangat merindukan kedua orang tua saya." jelas Hanifah meyakinkan.
"Jika kedua orang tuamu datang ke sini apa kamu bahagia?" tanya Lancelot lagi.
"Tentu saya sangat bahagia, karena cita-cita saya, selain bisa memberangkatkan kedua orang tua saya ke tanah suci, saya ingin mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri walau hanya sekali." jujur Hanifah sangat antusias dan berbinar-binar.
"Apa kamu juga menyayangi kedua orang tuaku?" tanya Lancelot lagi bak seorang wartawan.
"Terima kasih untuk jawabanmu Han, ya aku sudah tahu bagaimana hubungan kamu dengan kedus orang tuaku, kalian sangat dekat dan bisa saling mengisi," ungkap Lancelot "Oh ya Han, tolong doakan aku agar aku benar-benar bisa memantapkan hayo dalam menentukan pilihan hidupku," pinta Lancelot pada Hanifah bersungguh-sungguh.
"Tentu Tuan bagaimanapun saya ingin nona An, bahagia dan bangga memiliki papa yang sangat hebat seperti anda Tuan."
"Terima kasih, Han, sekarang aku sudah sampai, kamu mau mengukutiku ke kantor atau pulang?" tanya Lancelot menggoda Hanifah.
"Saya pulang saja Tuan, lagisn di kantor juga mau ngapain malah mengganggu Tuan." ucap Hanifah.
__ADS_1
"Baiklah, segera pulang jangan kelayapan." pesan Lancelot lalu keluar dari mobil dengan di bantu oleh Dandruff dan sopir untuk pindah ke kursi rodanya.
Sopir selesai membantu Lancelot dia kembali masuk ke dalam mobil.
"Nona mau kemana?" tanya sopir pada Hanifah.
"Pulang Tuan," sahut Hanifah ramah.
"Nona tidak ingin jalan-jalan kemana gitu, selama ini aku lihat Nona hanya fokus pada nona An, tidak ada acara jajan-jalan begitu." ucap sopir sambil menjalankan mobilnya.
"Saya ini pengasuh nona An, Tuan sudah sepantasnya nona An, menjadi prioriras utama saya, apalagi nona An, tidak memiliki mama, jadi semaksimal mungkin saya akan memberinya kasih sayang penuh walau tidak sempurna seperti mama kandungnya." jelas Hanifah tulus dan bersungguh-sungguh.
"Saya rasa apa yang nona lakukan itu sudah melebihi orang tua kandung, siapapun tidak akan ada yang tahu jika Nona, bukan orang tua kandung nona An, Nona begitu tulus menyayangi nona An." sang sopir memuji Hanifah setinggi langit.
"Biasa saja Tuan, saya ini seorang wanita dan juga seorang ibu, nona An, anak yang manis, pintar, menggemaskan sudah sewajarnya dia harus di sayang dan di manja Tuan," jelas Hanifah.
"Ya, pantas saja tuan dan nyonya besar sangat menyayangi anda Nona, belum lagi tuan muda yang sangat tergila-gila pada anda, selama hampir dua puluh tahun saya bekerja pada tuan besar baru kali ini saya melihat tuan muda begitu tertarik dan memuliakan seorang wanita, anda memang wanita penakluk yang hebat nona," sopir trus memberi pujian pada Hanifah.
"Maaf tuan saya sama sekali tidak menaklukan siapapun, apa yang saya lakukan saya rasa normal saja seperti manusia pada umumnya, tidak ada yang hebat." ucap Hanifah tetap pada pendiriannya.
"Nona kenapa anda tidak merayu tuan muda, padahal sangat mudah bagi anda untuk mendapatkan tuan muda karena sebenarnya anda sudah memegang kartu As, sudah pasti anda menenangkan hari tuan muda namun anda malah dingin dengan tuan muda, jujur nona selama ini banyak wanita yang ingin dekat dan bisa hidup bersama tuan muda, mereka menggunakan sejuta rayuan untuk mendapatkan hati tuam muda, sayangnya tidak ada yang berhasil," jelas sang sopir panjang lebar.
__ADS_1
"Tuan, sekarang sudah sampai di rumah, saya turun dulu, soal hal rayu merayu cukup suami saya saja yang says rayu, terima kasih tuan." pamit Hanifah dan turun dari mobil.
Sang sopir hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dan kelakuan Hanifah.