
Hanifah begitu selesai membantu nona An untuk cuci muka ganti baju dan sikat gigi, Hanifah segera menemani nona An untuk tidur, nona An tidak begitu lama dia langsung tidur, sedang Hanifah melakukan panggilan terhadap ibunya karena jika siang Hanifah selalu di sibukkan dengan pekerjaannya, jika nona An sedang tidur siang nyonya Bisseling selalu mengajak Hanifah untuk bercerita.
Hanifah duduk di sofa salah satu sudut kamar Lancelot sambil melihat pemandangan luar dari balik jendela, bahkan semenjak berada di rumah keluarga Bisseling Hanifah tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan hand phone lebih banyak sehingga Tatuk juga riska tahu keberadaan Hanifah sekarang.
Tut tut tut.
Satu kali dial tidak ada jawaban
Tut tut tut.
Dua kali dial, baru mendapat jawaban dari seberang.
"Assalamu'alaikum Pak," sapa Hanifah begitu melihat wajah bapaknya di balik layar.
"Wa'alaikum salam yo opo kabare, sehat? suwi gak telpon ibukmu kangen." suara bapaknya Hanifah.
"Alhamdulillah sehat, maaf Pak soale aku di titipno di rumah orang tuanya." sahut Hanifah jujur.
"O... Gak ada masalah to Han, kok sampai di titipno ke orang tuanya?" tanya bapaknya Hanifah khawatir.
"Alhamdulillah tidak pak, karena majikanku pergi ke luar negeri dalam waktu agak lama makanya aku di titipkan ke orang tuanya." jelas Hanifah jujur "Ibuk mana?" Hanifah mepertanyaan kepada orang tuanya.
"Ibukmu masih di toilet sebentar lagi keluar." sahut bapaknya Hanifah.
"Pak, sewayah-wayah jika ada paketan datang, tapi aku gak tahu kapan pastinya soale majikan yang ngurus." ucap Hanifah jujur, orang tua Hanifah sudah paham sebab selama bekerja untuk kirim uang juga majikannya yang menguruskan." beber Hanifah jujur.
__ADS_1
"Buk, Han telpon!" seru bapaknya Hanifah.
"Assalamu'alaikum Han, lama gak telpon bagaimana kabarnya, sehat to nduk?" sapa ibunya Hanifah.
"Alhamdulillah sehat Buk, cuma sekarang untuk sementara waktu aku tinggal di rumah orang tuanya majikanku, majikanku lagi tidak ada di Hongkong, dia lagi tugas ke luar negeri dalam waktu agak lama." beber Hanifah.
"Yo wes, gak apa-apa yo nduk yang penting sehat, saiki sudah lima belas bulan berarti sembilan bulan lagi bisa pulang yo Han?" tanya ibunya Hanifah.
"Menurut kontrak kerja begitu buk, tapi gak tahu lagi, momonganku bisa tak tinggal apa tidak, ibuk tahu sendiri momonganku gak ada mbok e." jawab Hanifah jujur.
"Momonganmu yo bawa pulang ae Han, hutang-hutangmu sudah lama lunas semua, pikirkan masa depanmu Han, kerja ya kerja kalau sudah cukup pulang, uang kirimanmu sisa bayar hutang juga masih utuh rencanane bapakmu mau di belikan tanah, kebetulan ada yang jual tanah kaplingan bisa di angsur," jelas ibunya Hanifah.
"Memang ada uang Buk?" Hanifah penasaran.
"Ya, ada itu uang yang kamu kirim masih utuh, kemarin hanya kepakai sedikit." jelas ibunya Hanifah.
"Kami sudah cukup kok nduk, alhamdulillah hasil kebun sayur cukup buat bapak dan ibuk, ibuk sama bapak itu pinginnya kamu tidak usah lama-lama kerja di luar negeri nduk, anak bapak sama ibuk itu ya cuma satu kamu saja, nduk, mbok yo ojo jauh-jauh, yo ojo terlalu lama kerja di luar negeri, gak usah terlalu kaya yang penting cukup nduk, mencari harta tidak ada habisnya, itu sebabnya uang hasil kerjamu yo kita simpen untuk masa depan kamu untuk modal kamu saat pulang." nasehat ibunya Hanifah panjang lebar, tentu dengan tutikan air mata kerinduan.
Hanifah ikut menitikan air mata ketika mendengar penuturan dari ibunya.
"Inshaallah buk, Han, hanya mengambil dua kontrak saja minimal momongam Han, berumur empat tahun, kalau sekarang Han, belum tega untuk meninggalkan nona An, Buk." sahut Hanifah dengan menitikan air mata.
"Ya, ibuk sama bapak hanya bisa mendoakan, nduk, kamu hati-hati di sana jangan lupa ibadahnya dan jags kesehatan." nasehat ibunya Hanifah.
"Iya, Buk rencana Han, hasil kerja yang satu kontrak bisa buat modal usaha, oh ya buk berapa harga tanah per-kaplingnya, Han, ada tabungan sedikit nanti bisa Han, kirim." ucap Hanifah yang menyetujui usulan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ini ada minta seratus juta lumayan lebar cukup untuk bangun satu rumah, kamu tahu tanah kosong yang di dekat jalan itu, yang punya tanah butuh uang segera, siapa tahu boleh di cicil." sahut bapaknya Hanifah "Ini uangmu di bang masih ada lima puluh juta Han, kalau kamu setuju coba bapak bicarakan dengan pemiliknya besok, tanahnya untuk nanam sayuran cukup bagus." tambah bapaknya Hanifah.
"Iya pak coba bapak bicarakan dengan pemiliknya, inshaallah han bisa melunasinya," ucap Hanifah serius.
"Nduk, kamu gak nyolong to?" tanya bapak dan ibunya Hanifah cemas.
"Buk, Pak, Han, tidak nyolong, dari awal kerja Han mendapatkan gaji yang lebih karena Han, tidak libur dan juga majikan Han, itu sangat kaya raya, selain gaji kami semua pekerjanya juga sering dapat bonus buk," jelas Hanifah.
"Ibuk dan bapak pesan jangan pernah mengambil yang bukan hak kita ya Han, sebab apa yang kita tanam itu juga yang bakal kita panen nantinya, biar sedikit yang penting halal dan berkah biar awet, setiap bulan sepuluh persen uang kiriman darimu juga sudah kami sedekahkan agar hidup kita selamat dunia dan akhirat," nasehat ibunya Hanifah bijak"Han, biar kita miskin di dunia asal jangan sampai rugi di akhirat." tambah ibunya Hanifah lagi.
"Han, selalu ingat pesan ibuk dan bapak." sahut Hanifah.
"Sudah malam Han, kamu cepetan istirahat dan jangan lupa beribadah, jangan sampai lupa dengan gusti Allah." pesan bapaknya Hanifah "Jangan tergoda dengan gemerlap ya dunia."
"Iya, pak buk, doakan anakmu ini buk pak, semoga habis kontrak bisa pulang untik cuti, aku sudah kangen dengan bapak dan ibuk, aku juga ingin ngejar ke makam almarhum anakku dan suamiku buk." ucap Hanifah dengan wajah sudah mulai sendu.
"Ya, hampir setiap malam jumat aku dan bapakmu ke makam anak dan suamimu jika tidak hujan." terang ibunya Hanifah.
"Terima kasih buk," suara Hanifah sudah serak, dan air mata Hanifah sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Tenangkan hatimu, anak dan suamimu sudah tenang di sana, istirahatlah soal tanah besok biar bapakmu yang menanyakan." ucap ibunya Hanifah masih dengan suara seraknya karena berusaha menahan tangisan.
"Ya buk terima kasih assalamu'alaikum, Buk, Pak."
"Wa'alaikum salam, hati-hati dan jaga diri baik-baik, dijaga badannya agar tetap sehat." pungkas ibunya Hanifah dan menutup panggilan video calnya.
__ADS_1
Hanifah tidak bisa menahan airmatanya, di seberang lautan nun jauh di sana, Lancelot mendengar semua pembicaraan yang di lakukan oleh Hanifah. Lancelot berhasil merekam semua yang tengah di bicarakan antara Hanifah dan kedua orang tuanya, sebab tanpa di ketahui oleh Hanifah Lancelot sudah menyadap nomor WhatsApp Hanifah.
Selesai melakukan panggilan dengan kedua orang tuanya Hanifah menaruh hand phone-nya di atas nakas.