Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 68


__ADS_3

Kamar nona An kembali berwarna penuh canda dan tangis setelah beberapa hari sangat sepi karena sang penghuni telah berada di luar negeri. Lancelot, nona An, Hanifah dan juga suster mereka bermain bersama, nona An semakin pintar dan juta menggemaskan. Riuh canda tawa mewarnai malam mereka, nona An tidak henti-hentinya membuat ulah yang begitu lucu sehingga mengundang tawa semua yang ada di dalam kamar.


"Nona, tolong berikan ini pada papa." Hanifah memberi instruksi pada nona An untuk memberikan sebuah mainan buah apel pada Lancelot.


"Ma ma ma." dengan tetap berceloteh nona An segera berjalan menuju Lancelot dan memberikan mainan buah apel pada Lancelot.


"Anak papa pinter sekali, terima kasih sayang, ayo panggil papa." ucap Lancelot setelah menerima barang tersebut satu nona An.


"Ma ma ma ma." nona tetap pada pendiriannya.


"Baiklah kalau begitu, sekarang An ganti berikan ini pada mama ya." Lancelot memberikan sebuah pizza mainan pada nona An.


Nona An yang mendapat perintah dari Lancelot segera menuju ke arah Hanifah dengan senang sekali "Ma ma ma." nona An menyodorkan maian tersebut pada Hanifah.


"Terima kasih sayang." Hanifah setelah menerima mainan tersebut langsung memeluk dan mencium kedua pipi nona An gemas, nona An merasa sangat bahagia mendapat perlakuan dari Hanifah," Ayo sekarang cium pipi mama." nona An, tanpa pikir panjang langsung mencium pipi Hanifah, samakin hari Lancelot merasa iri dengan kedakatan putrinya dan Hanifah, benar-benar seperti sebuah hubungan antara anak dan orang tua kandung yang tanpa jeda.


"Anak papa, sekarang ganti-an papa dong." rayu Lancelot.


"Ayo sayang, cium papa." perintah nian An, nona An tidak langsung jalan dia malah asyik duduk di pangkuan Hanifah.


Hanifah terus merayu agar nona An, mau mencium Lancelot, bukan perkara mudah untuk bisa membuat nona An mau berdekatan dengan Lancelot, setelah sedikit drama dan Lancelot juga berusaha merayu akirnya nona An mau mencium Lancelot. Bisa merayu nona An sudah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Lancelot, kebersamaan mereka hanya sampai di jam sembilan malam karena nona An, harus segera tidur.


Hanifah setelah menidurkan nona An, dia kembali ke kamarnya sendiri untuk istirahat dan ingin bercerita dengan Tatuk temannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Han." sapa Tatuk dari seberang.


"Wa'alaikum salam, Tuk, kamu sudah istirahat?" tanya Hanifah di balik layar hand phone-nya.


"Sudah, baru saja selesai, bagaimana kabarmu Han? kamu sudah balik ke Hongkong ya? kapan?" Tatuk meberondong pertanyaan ke Hanifah.


"Alhamdulillah sudah Tuk tadi pagi, ini koperku saja belum tak rapikan aku ada oleh-oleh buat kamu Tuk, tapi entah kapan aku bisa mgasih ke kamu, soalnya aku tidak bisa leluasa untuk keluar." ungkap Hanifah.


"Tenang saja Han, kapan-kapan saja jika sudah ada waktu untuk keluar, majikanmu benar-benar tajir melintir Han, kado saja tidak tanggung-tanggung," puji Tatuk.


"Iya Tuk, aku gak nyangka bisa bekerja di keluarga yang kaya raya, tak syukuri saja Tuk, walau tidak bisa libur." ucap Hanifah.


"Terima kasih banyak lo Han, hadiahnya benar-benar bikin jiwa miskinku meronta, mau beli tas seharga dua ratus dolar saja mikir seribu kali Han, la ini kamu ngasih dompet seharga hampir dua bulan gajiku, tapi aku ya takut juga Han." ucap Tatuk jujur.


"Takut, dicemburui majikan, kalau majikannya seperti majikanmu ya nyantai saja, wong majikanku itu aku baru memiliki barang agak mahal dia susah sewot, haduih nasib Han, Han." keluh Tatuk.


"Semua sudah memiliki porsi sendiri-sendiri Tuk, di balik hadiah yang banyak aku terima ada nyawa yang menjadi tanggung jawabku Tuk." curhat Hanifah.


"Maksudnya gimana Han?" tanya Tatuk penasaran.


Hanifah sedikit menceritakan tentang apa yang telah terjadi dalam perjalanan pulang tadi, Tatuk langsung terkejut karena ternyata pekerjaan Hanifah penuh dengan tantangan, dan bertaruh nyawa.


"Han, apapun itu aku selalu berdoa untukmu agar kamu selamat, benar-benar ngeri, beruntung kamu menguasai ilmu bela diri kalau nggak, gak tahu deh ternyata bekerja pada orang kaya resikonya juga besar ya Han." ungkap Tatuk.

__ADS_1


"Semua punya resiko Tuk, wes di jalani saja memang sudah takdirnya begitu, selamat malam, kapan-kapan hadiah ya aku kasihkan ke kamu." pungkas Hanifah.


"Hati-hati Han, terima kasih, ada apa-apa segera hubungi aku."


Tatuk dan Hanifah mengakiri panggilan telponnya mereka sama-sama bermanja-manja dengan kasur, selimut dan bantal di bawah temaran redupnya cahaya lampu dari luar yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca.


Tahun ini kehidupan Hanifah benar-benar berubah total dari setahun lalu saat baru mulai bekerja di rumah Lancelot, untuk persiapan acara makan malam nanti jam empat sore salah satu pegawai salon utusan Lancelot telah datang ke rumah untuk membantu Hanifah melakukan perawatan, dalam satu tahun pegawai tersebut sudah empat kali datang ke rumah Lancelot hanya untuk merawat tubuh dan kulit Hanifah, bahkan setiap bulan Hanifah wajib melakukan tes kesehatan dengan dokter spesial yang di sewa khusus oleh keluarga Bisseling.


Jam tujuh malam Hanifahdan nona An sudah siap, mereka tinggal menunggu Lancelot untuk bersiap-siap. Gaun yang Hanifah pakai tidak beda jauh dari sebelumya, blus lengan panjang dan celana kain panjang sedikit lebar, dengan rambut disanggul dengan model sanggul sleek low bun. Tukang make up mendandani Hanifah, sedemikian rupa sederhana namun tetap anggun dan berkelas, apalagi malam ini mulai yang di pakai Hanifah semua barang merek terkenal dunia.


"Han, hati-hati." pesan Joyce " Aku tahu kenapa tuan tidak membawa suster karena sister tidak bisa bela diri." ucap Joyce.


Hanifah terkejut mendengar penuturan Joyce, pasalnya Hanifah tidak pernah bilang jika dia bisa bela diri" Dari mana kak Joyce, tahu?" tanya Hanifah penasaran.


"Kami, di sini sudah tahu kenapa nyonya besar memilih kamu, untuk menjaga nona muda di butuhkan wanita yang tangguh sepertimu, kamu tidak perlu merasa tidak enak dengan kami dengan semua fasilitas yang di berikan tuan untuk kamu, karena tugasmu itu luar biasa beratnya, tugasmu hampir sama dengan tuan Dandruff." jelas Joyce.


"Dari mana kak Joyce tahu jika aku bisa bela diri?" tanya Hanifah tetap penasaran..


"Nyonya besar dan tuan Lanc, yang memberitahu kami." jelas Joyce.


"Benarkah kak?"


"Iya, benar kamu jangan heran Han, siapa yang bekerja di sini tidak pernah luput dari penyidikan tuan Lancelot dan juga tuan besar, biar kita tidak memberi tahukan pada mereka, mereka pasti sudah mengirim detektif untuk menyelidiki latar belakang kita dan keluarga kita, tapi aku juga tidak menyangka jika tuan besar bisa mengirim detektif sampai di negaramu, kamu jangan khawatir asal kita tidak berhianat mereka tidak akan menggsnggu hidup keluarga kita." jelas Joyce panjang lebar.

__ADS_1


Hanifah hanya mengangguk tanda mengerti "Ya Allah hidup macam apa ini, lebih enak jadi orang biasa, tenang, santai tidak perlu khawatir kemanapun bebas, biar hidup pas-pasan." gumam Hanifah dalam hati.


__ADS_2