Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 63


__ADS_3

Hanifah menuruti perintah Lancelot, pelan-pelan Hanifah membuka kotak tersebut, mata Hanifah langsung terbelalak sebuah kalung mas putih dengan liontin berbentuk matahari yang bertaburan berlian kecil-kecil, kalung tersebut merupakan perhiasan merek dunia yang sudah terkenal, untuk harga Hanifah tidak begitu paham namun Hanifah tahu jika merek tersebut yang sering dipakai oleh Garnier maupun nyonya Bisseling.


"Jika kamu tidak suka dengan modelnya kamu bisa ganti dengan yang lain, karena aku juga tidak tahu selera kamu, aku memilih bentuk matahari karena kamu bagai sinar kehidupan buat kehidupan putriku, kamu bagai nafas kekuatan buat putriku." jelas Lancelot.


Hanifah tidak bisa menjawab apa-apa karena masih terperangah dengan kadonya, karena Hanifah tidak pernah menyangka jika tahun ini semua berbalik dari tahun lalu, jika tahun lalu Hanifah berselimut duka kali ini bagai ketiban berlian runtuh.


"Han, kamu coba, dulu cocok apa tidak?" perintah Lancelot pada Hanifah.


"Tuan, maaf apa ini tidak berlebihan dan apa tidak akan menimbulkan cemburu sosial, bagi yang lain?" tanya Hanifah ragu, bagaimanapun Hanifah tetap khawatir apalagi Hanifah merupakan pekerja baru di kediaman Lancelot.


"Semua sudah memiliki jatah sesuai dengan porsi kinerja masing-masing, apa yang lain bisa memberi ASI di saat anakku membutuhkan, tidakkan? Kamu jangan khawatir karena aku sudah berusaha adil buat mereka, tahun lalu aku belum ngasih hadiah ulang tahun padamu, jadi anggap saja ini rapelan hadiah dari tahun kemarin," Lancelot menjelaskan secara gamblang.


"Terima kasih, Tuan semoga Tuhan selalu memberkati keluarga tuan." ucap Hanifah tetap sopan.


"Cobalah." perintah Lancelot.


Hanifah mengangguk pertanda setuju, Hanifah segera mengambil kalung tersebut dan memakainya, hanya dalam waktu sekejap kalung pemberian Lancelot sudah mingkar di leher Hanifah tanpa bantuan siapapun.


"Sangat bagus, cocok untuk kamu." puji Lancelot "Jika kamu tidak percaya kanu ngaca di cermin." perintah Lancelot.


"Baik tuan." sahut Hanifah.


Hanifah segera berdiri meninggalkan Lancelot, Hanifah melangkah ke kamar mandi, Hanifah memilih cermin yang ada di kamar mandi karena selain bebas berekpresi, di kamar mandi juga terang lampunya, tidak remang-remang. Sesampainya di kamar mandi Hanifah segera mematut dirinya di depan cermin. Hanifah sangat bahagia mendapat hadiah yang sangat mewah namun juga khawatir jika ada udang di balik rempeyek, setelah mematit sebentar Hanifah kali menemui Lancelot yang masih duduk di sofa sambil menikmati acara televisi walau dengan volume yang sangat pelan.

__ADS_1


"Tuan."


"Bagaimana, Han ?" Tanya Lancelot penasaran ingin tahu pendapat Hanifah tentang kalung.


"Terlalu bagus tuan, apa saya pantas memakai perhiasan yang sangat mahal seperti ini." cicit Hanifah sungkan.


"Sangat pantas, kamu tidak suka?" ucap Lancelot.


"Saya, sangat suka Tuan, cuma saya tidak berani memakainya, pertama saya takut nona An menarik kalung saya, kedua saya takut ada yang merampok." ucap Hanifah jujur.


"Yang penting kamu suka, pakai jika perlu saja," saran Lancelot.


"Tuan, ehm... apa nanti says tidak akan di tuduh mencuri?" tanya Hanifah polos.


"Terima kasih Tuan, sudah malam saya istirahat dulu." pamit Hanifah.


"Masih ada lagi, ini barang belanjaan u tadi." Lancelot memberikan beberapa kantong kertas besar pada Hanifah.


"Belanjaan saya?" Hanifah tidak percaya dengan beberapa kantung kertas bertuliskan produk terkenal dunia yang di sidorkan Lancelot pada Hanifah, karena tadi Hanifah merasa tidak belanja segitu banyaknya.


"Iya, ini semua punya kamu." kekeh Lancelot.


Hanifah segera mengecek isinya, wow isinya sungguh fantastis satu pasang sepatu, tas, serta gaun perempuan yang tadi di cobanya, Bukan hanya itu masih ada baju laki-laki dan perempuan yang tadi bukan pilihannya.

__ADS_1


"Tuan, maaf saya tidak belanja ini semua, tadi saya kan hanya memilih lima dompet saja, kenapa sekarang banyak sekali, dan saya harus menyicil berapa kali untuk membayarnya," tanya Hanifah masih diselimuti perasaan bingung.


"Cukup kamu kerja yang baik, kamu tenang saja soal cicilan tidak akan lama bukankah gajimu dariku juga sangat besar, aku rasa cukup menggunakan tiga bulan dari gajimu sudah cukup." jelas Lancelot, sengaja Lancelot tidak menjelaskan jika ini hadiah untuknya.


Hanifah melongo mendengar jawaban dari Lancelot, bagaimana dia harus menggunakan uang seratus lima puluh ribu dolar untuk sebuah pakaian dan juga kado.


"Tuan, bukannya saya tidak mau bayar tapi tadi saya merasa tidak membeli ini semua, berarti saya tidak perlu ambil ini semua, saya akan ambil apa yang memang saya pilih tadi, tadi saya hanya memilih lims buah dompet dan camilan ini, jadi yang lain saya kembalikan ke tuan." ucap Hanifah menyodorkan kembali beberapa tas kertas dari Lancelot tadi.


"Kenapa? Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi, jadi mau atau tidak kamu harus tetap menerimanya dan membayarnya" ucap Lancelot tegas yang sengaja ingin membuat Hanifah kesal.


"Tuan, saya benar-benar tidak butuh ini semua, bagi saya ini sangat mahal dan tubuh saya langsung gatal-gatal jika memakai baju merek dunia dan mahal macam ini, buat saya uang sebanyak itu dari pada saya belikan baju macam gini lebih baik saya belikan tanah atau hewan ternak, searatus lima puluh ribu dolar Hongkong untuk beli baju sungguh sangat mubadzir." ucap Hanifah sedikit kesal.


"Apa itu mubadzir?" tanya Lancelot yang memang tidak tahu tentang arti bahasa yang digunakan oleh Hanifah.


"Mubadzir itu sia-sia tuan." sahut Hanifah sedikit dongkol.


"Oh, sudah malam sebaiknya kita istirahat, oh ya barang yang sudah di beli tidak bisa di kembalikan, jadi mau tidak mau kamu harus membayarnya." jelas Lancelot.


"Baiklah, Tuan potong saja gaji saya." ujar Hanifah kesal.


"Tanpa kamu minta bulan depan sudah pasti aku potong gajimu tenang saja, aku sangat professional dalam bekerja." jelas Lancelot santai dengsn senyum penuh kenenangan.


Lancelot merasa puas setelah melihat Hanifah kesal, Hanifah dengan perasaan dongkol dia meninggalkan Lancelot yang tetap duduk santai di sofa tanpa mengucapkan selamat malam. Hanifah tidak lagi memikirkan tentang barang belanjaannya tadi, Hanifah justru memikirkan apa maksud dan tujuan Lancelot padanya, barusan dia senang mendapat hadiah yang sangat mewah, namun dalam sekejap dia harus membayar barang belanjaan yang merupakan bukan pilihannya sendiri.

__ADS_1


Hanifah tidak bisa tidur memikirkan tentang peristiwa barusan, sedang Lancelot dia sudah terbuai mengukir mimpinya di atas sofa tanpa beban. Karena tidak bisa tidur Hanifah menuju kamar mandi sambil membawa hand phone-nya. Hanifah untuk menghilangkan rasa kesalnya dia mendial nomor Tatuk bermaksud untuk curhat tentang peristiwa yang terjadi barusan.


__ADS_2