Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 98


__ADS_3

Makan malam di keluarga Bisseling malam ini dengan formasi lengkap, hanya Garnier yang tidak ada, selama dalam acara makan malam mereka semua nampak bahagia, nona An sudah semakin pintar dalam menyendok makanan, menu untuk Hanifah, tetap beda dari yang lainnya, selesai makan makan malam Hanifah bersama nona An, Tuan Bisseling nyonya Bisseling, bermain sebentar sambil menonton TV, di ruang tengah.


Nona An, bertingkah lucu seperti biasa, dia lari ke sana ke mari, Lancelot dengan senang hati mendampingi nona An. Setelah capak dan hari juga sudah malam Hanifah pamit undur diri, untuk menidurkan nona An. Hanifah mengajari nona An untuk mengucap selamat malam dam juga memberi ciuman selamat papa, Lancelot, tuan dan nyonya Bisseling.


Lancelot, tuan dan nyonya Bisseling mereka melakukan diskusi, kali ini Lancelot membicarakan tentang rencana proyek yang akan di laksanakan di kota Malang.


"Lanc, papa setuju dengan rencana proyekmu selanjutnya, aku percaya kamu bisa menghandel, namun selesaikan dulu proyek kita yang ada di Cina, dan juga di Macao, jika dua proyek itu sudah selesai kita akan lebih mudah menggarap proyek selanjutnya," saran tuan Bisseling.


"Ya Pa, pasti itu proyek yang di Cina tinggal sepuluh persen sedang yang di Macao tinggal lima persen, itu artinya enam bulan lagi dua proyek itu sudah kelar," sahut Lancelot.


"Untuk proyek yang ada di Taiwan, papa berencana untuk dihentikan dulu, sebab setelah Papa teliti ternyata ada yang janggal, sebaiknya kamu selesai dari Cina kita segera terbang ke Taiwan, kita hentikan sementara sampai ada jalan keluar yang tidak merugikan itu jika kamu setuju, kemarin ada laporan para pekerja mogok kerja sudah satu minggu lebih, jika tidak segera kita atasi kamu tahu sendiri kan akibatnya." ujar tuan Bisseling.


"Baiklah, setelah ini Lanc, cek proyek yang ada di Taiwan, biar Lanc pelajari dulu," sahut Lancelot.


"Itu, artinya Hani dan An akan tinggal di sini lebih lama lagi," ucap nyonya Bisseling senang.


"Biarkan mereka tinggal di sini, Lanc, aku tidak ingin A ling melukai mereka berdua seperti beberapa waktu lalu." tegas tuan Bisseling.


"Jika papa dan mama tidak keberatan, mereka tinggal di sini membuatku bekerja lebih tenang dan fokus." ucap Lancelot.


"Aku sangat tidak keberatan, anggap saja aku menemukan dua anak perempuan, sudah malam aku mau istirahat badanku rasanya capek sekali." nyonya Bisseling beranjak dari duduknya.


"Papa juga mau istirahat, besok pagi-pagi sekali papa juga mau ke kantor." tuan Bisseling mengikuti nyonya Bisseling bangkit berdiri untuk meninggalkan Lancelot yang masih bersantai duduk di sofa.


"Selamat malam, Pa, Ma." Lancelot mengucapkan selamat malam pada kedua orang tuanya.


"Malam." sahut tuan dan nyonya Bisseling besamaan.


Lancelot malanjutkan nonton televisi di ruang tengah sambil memainkan tabletnya, Lancelot sudah mulai fokus meneliti proyek yang telah di sampaikan oleh tuan Bisseling tadi, kecerdasan otak Lancelot dalam menangani masalah sudah tidak hida di ragukan lagi bahkan Lancelot tergolong pengusaha yang sangat berani.

__ADS_1


Jam menunjukan pukul satu malam, Lancelot mematikan televisi, lalu beranjak meninggalkan sofa tersebut, Lancelot menuju kamar yang ada di lantai empat, namun Lancelot tidak masuk di kamar tidurnya dia lebih memilih tidur di kamar satunya, kamar yang biasa dia pakai untuk bekerja.


Hanifah tidak bisa segera tidur, Hanifah khawatir jika Lancelot, masuk ke dalam kamarnya, pasalnya dalam satu bulan ini Hanifah merasa bebas karena Lancelot, berada di dalam luar negeri. Karena Hanifah tidak bisa tidur Hanifah melakukan panggilan dengan tenan Tatuk, temanya sampai saat ini Hanifah, juga tidak pernah menceritakan tentang tugas-tugasnya, kalau menceritakan itu hanya yang normal-normal saja, dan yang Tatuk ketahui tentang gahi Hanifah yaitu gaji Hanifah, yang ber jumlah dua kali lipat.


"Tuk, tidak terasa satu tahun sudah kira tidak bertemu, sebentar lagi kontrak u habis, kan bagaimana rencanamu selanjutnya?" tanya Hanifah pada Tatuk.


"Aku tetap nambah kontrak, dan aku berencana cuti walau keuanganku menipis, tapi kedua anakku sudah sangat merindukanku, rencana aku mau utang Bank, untuk aku bawa pulang," curhat Tatuk.


"Kapan kamu ambil cuti?" tanya Hanifah pada Tatuk.


"Tiga bulan lagi, bulan depan baru tanda tangan kontrak baru,"


"Apa kamu gak rugi jika kamu utang Bank?" tanya Hanifah.


"Ya, mau bagaimana lagi, aku itu pingin nyenengi anakku dan juga pingin tahu rumahku walau belum jadi, yang penting bisa ketemu anak dulu Han." ujar Tatuk.


"Hutangku ke kamu baru saja baru lunas bulan ini, masa mau utang lagi to Han... Han!"


"Nyantai saja Tuk, dulu kamu yang selalu menolongku, kamu yang selalu meminjami aku uang, memberiku semangat hingga aku bisa begini, hidup kita ini terbalik Tuk, aku yang sekarang tidak butuh banyak duwit malah aku mendapatkan berlimpah, dulu saat aku butuh banget duwit malah blas gak punya, sekarang eh malah berlimpah, Tuk, mumpung aku ada uang kamu pakai saja yang penting kamu bisa menyenangkan anakmu dan bisa bertemu dengan keluargamu," ucap Hanifah.


"Memang sudah aku putuskan untuk pulang cuti kok Han." tutur Tatuk.


"Jika kamu cuti, aku bisa nitip." ucap Hanifah.


"Boleh, Han, mau nitip apa, silakan dengan senang hati, asal jangan nitip hati saja," ucap Tatuk, ngelantur.


"Hati, ayam kali," kelakar Hanifah garing "Pokoknya kamu itu kalau butuh uang jangan sungkan bilang ke aku Tuk, mumpung aku punya rejeki banyak, bisa berbagi dengan kamu dan keponakanku." ucap Hanifah.


"Terima kasih Han, kamu sahabatku yang baik," ucap Tatuk.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan sekarang ini, tidak ada apa-apanya dengan apa yang kamu lakukan padaku dulu, Tuk, wes to pokok e kamu santai saja, bulan depan habis gajian aku transfer ke kamu, tapu maaf gak bisa ketemuan sama kamu, penjagaanku semakin ketat." tutur Hanifah.


"Ya, namanya juga ikut orang Han, bagaimanapun kita harus mengikuti aturan mereka, yang penting dapat majikan baik gajian lancar, aman Han." tutur Tatuk.


"So pasti Tuk, penting sabar dan ikhlas," tutur Hanifah.


Hanifah menceritakan tentang kebebasan beribadah yang diberikan oleh Lancelot padanya, dan juga kebebasan dalam berpakaian serta hadiah baju Muslim yang di berikan oleh Lancelot padanya.


"Han, jangan-jangan majikanmu narih hati padamu," celetuk Tatuk.


"Mungkin, tapi yo gak mungkin to Tuk, wong dia itu bagai pangeran kerajaan, siapalah aku, lagian sekalipun dia naksir dan cinta aku, ngajak aku nikahpun aku tolak Tuk." sahut Hanifah santai.


"Memangnya kenapa?" tanya Tatuk penasaran.


"Memang kamu mau menikah dengan orang yang gak sunat, dan juga bukan seiman, kalau aku ya enggak maulah." sahut Hanifah.


"Memang kamu tahu kalau majikanmu gak sunat, jangan-jangan jangan-jangan," Tatuk langsung tertawa terpingkal-pingkal.


"Jangan punya pikiran ngaco kamu tuk," sahut Hanifah di iringi tawa renyah.


"Usia pakmu berapa to Han?, penasaran aku," tanya Tatuk kepo.


"Empat puluh tahun, kenapa?" Hanifah menjawab dengan polosnya.


"Jadikan gulo daddy kaya di novel-novel itu lo Han."


"Emange mau bikin kopi apa, dasar kamu kecanduan novel, wes malem besok kita kerja lagi, yang penting jangan sampai kamu utang Bank, segera aku transfer." pungkas Hanifah.


Tatuk dan Hanifah mengakhiri panggilan teleponnya di jam dua pagi, sebab kebetulan Tatuk juga masih sedang menjalankan tugasnya menunggu majikannya main mahjong, biasanya Tatuk, baru boleh tidur jika sang majikan sudah selesai main mahjong.

__ADS_1


__ADS_2