
"Han, memang cocok memakai pakaian seperti ini, anngun." Lancelot terang-tarangan memuji Hanifah di hadapan semuanya.
Hanifah mendapat pujian dari Lancelot sama sekali tidak terpengaruh karena terlalu seringnya Lancelot memuji Hanifah. Setengah hari ini mereka melewatkan waktu untuk bersama, sore ini Lancelot, meminta kepada Legi untuk menjadi imam sholatnya, Hanifah, Semi, Lancelot dan Legi melaksanakan sholat ashar berjamaah di kamarnya Hanifah, nona An, juga ikut serta untuk sholat berjamaah. Nona An walau di usianya yang baru tiga tahun namun dia sudah hafal sekali dengan semua gerakan sholat. Tuan dan nyonya Bisseling memilih keluar dari kamar Hanifah, agar tidak mengganggu kekhusukan sholat mereka. Setelah selesai sholat berjamaah, Lancelot menggoda nona An.
"Anak papa susah bisa gerakan sholatnya?" tanya Lancelot penasaran.
"Tentu papa."jawab nona An, percaya diri.
"Coba." goda Lancelot.
Nona An, tanpa banyak bicara dia segera memperagakan gerakan sholat tentu dengan pengucapan doa-doa sholat yang belum sempurna, namun soal gerakan nona An, sudah sangat hafal dari awal hingga akhir.
"Pinter sekali anak, papa, papa, Sah kalah." Lancelot memuji nona, An dengan bangga.
"Maaf, tuan nona An, selalu senang jika saya perbolehkan untuk mengikuti saya sholat." ucap Hanifah sopan.
"Terima kasih Han, aku tahu itu kamu jangan merasa tidak enak begitu." ucap Lancelot "Bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan sebentar." ajak Lancelot.
__ADS_1
"Nona An, waktunya tidur tuan, dari tadi pagi nona An, belum tidur sama sekali." tolak Hanifah sopan.
"Kalau begitu aku juga mau istirahat saja, mungkin karena ini yang pertama kalinya pergi jauh jadi tubuh ini masih kaget, capeknya gak ilang-ilang." ucap Legi.
"Iya, tubuh ini capeknya awet sekali padahal dari kemarin sama sekali tidak bekerja." tambah Semi.
"Yo wes, kita ke kamar saja, Han nanti jika waktunya sholat magrib jangan lupa panggil bapak dan ibuk karena kami tidak tahu kapan waktu masuk sholat." pinta Legi, sebelum meninggalkan kamar Hanifah.
"Baik, Pak, Buk." sahut Hanifah.
"Oma, opa tidur." ucap nona An yang tidak beraturan.
"Ya, sayang oma dan opa perlu istirahat." ucap Lancelot lembut, sedang nona An mengangguk tanda mengerti.
"Aku, mau papa." rengek nona An.
"Papa akan temani Putri papa," ucap Lancelot girang.
__ADS_1
Tanpa bantuan dari siapapun Lancelot pindah dari kursi roda ke ranjang, Lancelot rajin berlatih untuk bisa pindah dari kursi roda ke atas ranjang tanpa bantuan siapapun. Nona An bermain sebentar dengan Lancelot di atas ranjang. Sedangkan Hanifah hanya menonton saja tanpa ikut bermain, nona An sangat menikmati kebersamaannya.
"Ma ma mama!" panggil nona An, manja.
"Iya, sayang," sahut Hanifah penuh kasih.
"Sini!" seru nona An, meminta Hanifah untuk ikut naik di atas ranjang.
"Baiklah Han!" perintah Lancelot.
Hanifah menuruti kemauan nona An, setelah Hanifah, naik ke atas ranjang nona An segera berpindah dari pelukan Lancelot ke pelukan Hanifah. Hanifah memeluknya untuk menidurkannya tanpa banyak drama maupun kemauan nona An, segera terlelap. Setelah nona An tidur Hanifah, turun dari ranjang begitu juga Lancelot, turun dari ranjang.
"Han, kalau kamu ingin bertanya-tanya saja." ucap Lancelot, yang menangkap penasaran di wajah Hanifah.
"Maaf, jika pertanyaan saya menyinggung perasaan tuan." ucap Hanifah sopan.
"Aku tidak akan tersinggung aku justru senang itu artinya kamu sangat perhatian denganku maupun An." jawab Lancelot santai.
__ADS_1