Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 144


__ADS_3

Jam sebelas siang Lancelot dan rombongannya meninggalkan hotel tempat mereka menginap, formasi masih seperti kemarin, namun kali ini ada yang sedikit berbeda dengan penampilan Lancelot, penampilan Lancelot kali ini lain dari biasanya, Lancelot memakai baju koko dengan warna senada dengan warna gamis Hanifah dan juga nona An. Hanifah tidak berani bertanya mau kemana dan ada acara apa, Hanifah hanya mengikuti saja kemanapun Lancelot membawanya.


Setelah mobil melaju sepuluh menit tibalah rombongan di area parkir dekat dengan masjid yang berada di kota Tst, semua rombongan segera turun sesuai dengan permintaan Lancelot, karena Lancelot sudah membuat janji dengan takmir masjid, maka pengurus masjid juga sudah siap menyambut kedatangan Lancelot dan rombongan, pihk takmir masjid dengan senang hati menyambut kedatangan Lancelot dan keluarga. Suasana masjid Tst sangat ramai sekali karena bertepatan dengan hari minggu, sehingga banyak para tkw yang mengahabiskan minggunya di masjid, mereka melakukan kegiatannya sesuai dengan jadwal masing-masing.


Takmir masjid mempersilakan Lancelot untuk masuk, sedangkan tuan dan nyonya Bisseling juga turut ikut ke Masjid yang ada di kota Tst. Begitu sudah masuk ke dalam masjid semua yang barusan datang di suruh duduk. Seorang takmir masjid mengumumkan tentang kemantapan Lancelot untuk menjadi seorang Muslim, semua yang berada di dalam masjid menyambut dengan takbir, bagitu pula Hanifah dia sama sekali tidak menyangka jika majikannya benar-benar ingin menjadi seorang mualaf.


Acara pelafalan dua kalimah syahadat telah usai, sambutan takbir untuk menyambut keluarga Muslim baru langsung bergema memenuhi ruangan masjid tersebut, tangis haru juga mengiringi setiap doa yang telah dilafadkan oleh takmir masjid tersebut.


"Alhamdulillah, selamat datang saudara ku." takmir masjid memeluk erat Lancelot.


"Alhamdulillah."


Airmata haru tidak bisa di bendung lagi oleh Lancelot, dan juga para pengunjung lainnya. Acara berlangsung begitu cepat setelah selesai melafadkan dua kalimah shahadat Lancelot langsung sungkem kepada kedua orang tuanya untuk meminta restu dari kedua orang tuanya.


"Ma."

__ADS_1


"Terlepas apapun pilihanmu mama harap bisa menjadikanmu pribadi yang lebih baik dan berguna." pesan nyonya Bisseling saat Lancelot sungkem padanya.


"Papa juga berharap begitu Lanc, kasilah pribadi yang bermanfaat untuk orang lain, namun bermanfaat untuk kebaikan bukan kesesatan." tambah tuan Bisseling, mengusap punggung Lancelot yang masih mencium dan menyalami tangan nyonya Bisseling.


"Pa, Ma, terima kasih." Lancelot tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya lagi, karena tenggorokkan Lancelot teecekat.


Dari sekian tahun bahkan dari kecil sampai di usulnya yang lebih dari empat puluh tahun baru kali ini Lancelot merasakan magned yang begitu kuat tentang orang tuanya, selama ini Lancelot terlena dengan ke-egoisannya, kedekatannya dengan kedua orang tuanya belum pernah sedekah sekarang.


Setelah selesai sungkem dengan kedua orang tuanya Lancelot, baru menerima ucapan selamat selamat dari para jamaah laki-laki yang ikut menyaksikan acara sakral tersebut. Selesai acara bertepatan dengan masuk waktu sholat dhuhur, semua jamaah dan takmir masjid mengajak Lancelot untuk ikut sholat berjamaah di masjid tersebut, Lancelot menyetujuinya, Lancelot tentu di temani oleh beberapa kolegannya yang berasal dari Indonesia yang beragama Islam dan juga Legi bapaknya Hanifah. Sedangkan kan Hanifah dan ibunya tidak menyia-nyiaksn kesempatannya until bisa ikut sholat berjamaah di masjid tersebut.


"Han, mana?" tanya Lancelot pada kedua orang tuanya.


"Itu baru keluar," sahut nyonya Bisseling di saat bersamaan melihat Hanifah, Semi dan nona An, baru saja keluar dari masjid.


Lancelot menoleh ke arah Hanifah, nona An dan semi, hati Lancelot sangat berbunga-bunga begitu melihat wajah Hanifah dan nona An, berseri-seri saat baru keluar dari masjid.

__ADS_1


"Maaf, jika menunggu lama." Hanifah mengucapkan kata maaf karena merasa dari tadi jadi pusat perhatian Lancelot dan juga yang lainnya" Maaf, jika saya mengajak nona An, ikut sholat tanpa minta ijin ke tuan Lanc."


"Aku juga baru saja keluar, kita kembali ke hotel tadi Aku sudah pesan makanan khusus buat kita semua." ucap Lancelot lebih sopan dari sebelumnya.


Formasi kali ini berbeda, orang tua Hanifah duduk satu mobil dengan tuan dan nyonya Bisseling, Lancelot bersama dengan Hanifah, nona An dan Dandruff. Wajah Lancelot jauh berbeda dengan sebelumnya, hari ini wajah Lancelot sangat berseri dan teduh.


Selama perjalanan dari masjid menuju hotel antara Hanifah dan Lancelot tidak terlalu banyaj percakapan di antara mereka, sebenarnya Hanifah ingin menanyakan alasan Lancelot memilih menjadi mualaf, namun karena ada Dandruff sehingga Hanifah mehannya, Hanifah malah berbicara dengan tema yang lainnya.


Sesampainya di hotel semua langsung menuju ruangan khusus buat mereja untuk menyantap makan, siang karena Lancelot sudah memesannya sejak kemarin jadi di saat Lancelot dan yang lainnya datang beberapa menu sudah tersedia di atas meja.


Pekerja di restaurant Hotel tersebut bekerja dengan bagus dan juga cepat sekali, begitu mereka masuk ruangan tidak sampai menunggu terlalu lama semua menu sudah terhidang di atas meja. Mereka semua sangat menikmati hidangan yang di pilih oleh Lancelot, semua memuji kelezatan hidangan yang di sajikannya. Selesai acara makan siang relasi Lancelot memilih untuk jalan-jalan menikmati indahnya negara Hongkong.


Lancelot sebenarnya ingin mengajak orang tua Hanifah untuk jalan-jalan, namun orang tua Hanifah menolaknya dengan alasan ingin menikmati kebersamaannya dengan Hanifah di hotel saja sambil beristirahat. Tuan dan nyonya Bisseling memilih menemani orang tua Hanifah, akhirnya sekarang Lancelot, Hanifah, nona An, orang tua hanifah dan orang tua Lancelot mereka berkumpul di kamar Hanifah, dari pancaran wajah nona An, terlihat dengan jelas bahwa nona An, sangat bahagia sekali, bahkan nona An, sama sekali tidak canggung bermain dengan kedua orang tua Hanifah dan yang lainnya.


"Han, kamu sungguh cantik memakai baju ini," Nyonya Bisseling memuji kecantikan Hanifah.

__ADS_1


"Terima kasih, nyonya." sahut Hanifah merasa tidak enak.


__ADS_2