Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 117


__ADS_3

Hanifah mendengarkam semua penuturan nyonya Bisseling dengan seksama tanpa menbantah, yang ada di pikiran Hanifah sekarang bagaimana nasip nona An, selanjutnya. Nyonya Bisseling setelah ngobrol sesaat dengan Hanifah dia kembali ke kamarnya untuk istirahat karena hari sudah mulai larut malam. Setelah kepergian nyonya Bisseling Hanifah segera mengambil air wudhu, Hanifah menggelar sajadah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat Muslim. Hanifah melafadkan doa dengan khusuk khusus untuk keselamatan Lancelot dan juga nona An.


Selesai melaksanakan kewajibannya Hanifah membaca ayat suci Al qur'an, walau tidak rutin setiap hari Hanifah, berusaha semaksimal mungkin untuk tetap melantunkan ayat-ayat Allah walau pekerjaan yang di pegangnya sangat menyita waktu dan apalagi di dalam keluarga Bisseling maupun Lancelot hanya Hanifah, yang ber-agama Islam jadi tidak mudah untuk tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Waktu terus merayap semakin larut jam sebelas malam Hanifah merebahkan dirinya di samping nona An, seperti biasanya Hanifah selalu membelai lembut dan mencium nona An, sebelum dia tidur.


"Han," panggil Lancelot ketika Hanifah duduk menamani nona An bermain, di sebuah taman yang indah dan baru pertama kali di kunjunginya.


"Tuan, tuan ada di sini juga, taman ini Indah sekali Tuan!" seru Hanifah senang, nona An bermain sendiri berlari kesana kemari, melihat bunga yang bermekaran Indah menghiasi taman.

__ADS_1


"Ya, indah sekali tapi kalian tidak boleh lama-lama tinggal di sini, kalian harus pulang," ucap Lancelot lembut.


"Bagaimana dengan tuan?" tanya Hanifah.


"Aku masih ingin di sini, aku lelah aku ingin istirahat, Han, aku suka suaramu, doa-doamu sangat menyejukkan hatiku, aku menjadi lebih damai dan tenang, aku akan tinggal di sini sementara waktu untuk mencari jati diriku." ucap Lancelot.


"Tuan, sampai kapan tuan akan berada di sini? cepatlah pulang kami semua sudah merindukan tuan," ucap Hanifah.


"Saya pasti menunggu tuan kembali, kami semua sangat mencintai dan menyayangi tuan, jangan lama-lama cepatlah kembali tuan." pinta Hanifah memelas"Kasihan nona An, nyonya dan tuan Bisseling."

__ADS_1


"Termasuk kamu, aku pasti kembali Han, titip An, selama aku tidak bisa menjaganya, aku percayakan An, pada kamu," pesan Lancelot pada Hanifah bersungguh-sungguh "An, sini" panggil Lancelot pada An yang asyik bermaim dengan bunga, mendengar di panggil Lancelot nona An, menghampiri Lancelot, Lancelot segera menggendong nona An, "Anak papa sudah besar sudah sekolah ya, papa pasti kembali, sekarang An, harus nurut sama mama Hani, jangan buat mama Hani, bersedih kita pasti bisa bersama-sama lagi sekarang An, pulang dulu sama mama Hani, ya tunggu papa pulang, papa sayang sekali dengan An." Lancelot mencium lalu menyerahkan nona An pada Hanifah. Setelah menyerahkan nona An pada Hanifah lambat laun Hanifah merasa ada yang menarik untuk keluar dari taman tersebut.


"Tuan...tuan.... tuan."


Hanifah terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran dan nafas yang tersengal-sengal.


"Astaqfirullah hal'adzim." ucap Hanifah ketika baru sadar akan mimpinya.


Hanifah memandangi nona An yang terlelap dalam mimpinya, lalu membelai kepala nona An dan menciumnya."Saya akan jalankan amanat anda tuan."

__ADS_1


Hanifah melihat jam ternyata jam menunjukkan baru pukul tiga pagi, di mana semua penghuni bumi Hongkong masih terbuai dengan alam mimpinya. Karean masih ngantuk dan capek Hanifah kembali memejamkan matanya lagi.


__ADS_2