
Keberadaan nona An di rumah Hanifah membuat banyak para tetangga yang penasaran apalagi pembawaan nona, An yang sangat ceria sehingga bahtaj yang menyukai sifat dan sikap nona, An. Di kediaman orang tua Hanifah sudah mulai ada tanda-tanda kesibukan para tetangga untuk ikut membantu pelaksanaan pernikahan Hanifah dan Lancelot. Sebagaimana pada umumnya para tetangga melakukan tugasnya masing-masing, ada yang persiapan untuk membuat jajanan, rencana Hanifah hanya, akad nikah saja tanpa adanya pesta, karena Lancelot belum pernah menikah akhirnya adat jawa lengkap. Berita pernikahan Hanifah dan Lancelot sudah tersebar luas kampung tempat Hanifah tinggal.
Sebuah tenda telah terpasang rapi di halaman rumah Hanifah, lalu lalang tetangga dan kerabat telah ikut meramaikan suasana kediaman keluarga Hanifah. Persiapan demi persiapan telah di lakukan oleh para tetangga, Hanifah masih belum percaya jika dia akan menikah dalam waktu dekat.
Dari set dekorasi telah terpasang rapi di halaman rumah keluarga Hanifah, dekorasi bernuansa putih menjadi pilihan Hanifah dan Lancelot waktu itu.
"Han, kamu benar-benar sudah ikhlas?" tanya Semi.
"Inshaallah, sudah buk." sahut Hanifah berusaha meyakinkan.
"Ibuk lega jika kamu ikhlas, ibuk tidak ingin kami melakukannya karena terpaksa." nasehat Semi.
"Ibuk jangan khawatir saya sudah ikhlas dengan ink semua, semoga pernikahan ini bisa kekal salamanya buk, doakan Han, ya buk." pinta Hanifah pada ibunya.
"Tentu Nduk, ibuk pasti mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaanmu lihatlah An, dia terlihat sangat bahagia sekali." ucap Semi lagi.
"Ibuk tidak malu kan memiliki mantu yang usianya hampir sama dengan ibuk ?" tanya Hanifah.
"Nduk jodoh, mati, rezeki itu rahasia ilahi, aku dan bapakmu sudah pasrah dengan semua yang sudah menjadi ketentuan dari Allah." nasehat Semi lagi.
"Ibuk tidak malu menjadi gunjinhan tetangga?" tanya Hanifah ambigu.
"Han, kita hidup di dunia itu sudah barang tentu bakal di omong oleh orang entah itu dalam kebaikan maupun dalam hal keburukan, semua itu sudah menjadi hukum alam Han, kita nikmati saja yang baik kita dengan dan kita ikuti dan yang jelek kita buang saja, kamu mengerti Han?." nasehat Semi lembut.
__ADS_1
"Terima kasih buk, Han akan berusaha ingin menjalani kehidupan ini dengan baik." pungkas Hanifah.
"Calon suamimu benar sudah datang?" tanya semi.
"Mereka berangkat dengan penerbangan nanti siang buk, karena semalam tengah malam baru saja menyelesaikan metingnya," jawab Hanifah.
"Baiklah doakan yang terbaik untuk perjalanan mereka," nasehat semi.
"Iya, Buk, sebenarnya mau berangkat kemarin tapi orang sibuk seprti papanya An, sangat sulit untuk di predikdi waktunya apalagi dua baru kembali aktif di kantor dalam waktu dekat ini setelah lebih dari setahun di sakit terbaring di rumah sakit." jelas Hanifah.
"Ibuk percaya Han, rasanya seperti mimpi jika ibuk tetap memiliki cucu yang begitu lucu dan usianya juga tidak terpaut jauh." ujar Semi.
Di kediaman keluarga Bisseling Harbour semua seluruh anggota heboh dengan persiapan keberangkatannys menuju Indonesia. Tuan dan nyonya Bisseling sudah siap sejak pagi bahkan sejak tadi malam sudah tidak sabar untuk menunggu datangnya siang.
"Lanc, ayo berangkat!" perintah Garnier.
"Kak, baru juga jam setengah sebelas, kita berangkat ke bandara jam sebelas kak," jawan Lancelot tenanv walau hatinya berdebar kencang.
"Lanc, semua sudah siap kan, tidak ada yang ketinggalan jangan sampai ada yang tertinggal." nasehat nyonya Bisseling.
"Semua sudah beres ma, jangan khawatir." sahut Lancelot.
Beberapa koper barang bawaan mereja susah teejanar rapi di ruang tengah, semua penghuni rumah kekuarga Bisseling di buat ikut gugup dan heboh.
__ADS_1
"Kak, pastikan semua sudah siap ketika kami kembali pulang." pesan nyonya Bisseling pada pekerjanya.
"Baik nyonya." sahut pekerjanya.
"Tuan nyonya sudah jam sebelas sebaiknya kita segera berangkat ke bandara." ucap Dandruff yang sudah terlihat siap.
"Kopernya?" tanya nyonya Bisseling.
"Semua sudah kami masukan ke dalam mobil nyonya." sahut Dandruff sopan.
"Ayo berangkat jangan sampai ada tang ketinggalan!" seru Garnier memperingatkan yang lainnya.
Tiga buah mobil telah berangkat untuk menuju bandara, hati Lancelot di hinggapi perasaan sangat berdebar, biasnya dia tidak pernah merasakan hal seprti ini. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit mereka semua sampailah di bandara, di bandara Ang dan istrinya sudah menunggunya di sana, Ang baru saja selesai check in. Mereka yang baru datang langsung melakukan check in, setelah chek in mereka segera menutup pintu keberangkatan.
"Kamu terlihat gugup selaku Lanc?" tanya Ang.
"Iya, baru kali ini Aku merasakan kegugupan yang hebat, Ang." sahut Lancelot jujur.
"Wajar hal itu terjadi, dulu aku menjelang menikah juga merasakan hal yang sama." jujur Ang.
"Aku kira hanya aku saja, aku benar-benar gugup sekali Ang, sebesar apapun masalah yang aku hadapi baru kali ini Aku benar-benar merasakan gugup yang luar biasa." ucap Lancelot jujur.
"Tenang, kalau kamu gugup nanti takutnya malah kamu salah mengucapkan janji," Ang memberi semangat pada Lancelot.
__ADS_1
Tidak begitu sebuah pengumuman telah menggema, jika seluruh calon penumpang agar segera menuju pintu masuk, Lancelot sudah sembuh total dia tidak lagi menggunakan kursi roda maupun tongkst penyangga, Lancelot berjalan begitu gagah dengan di iringo oleh segenap kekuarganga yang di undang secara khusus untuk menghadiri pernikahannya di negara Indonesia.