Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 175


__ADS_3

Garnier, nyonya Ang dan Hanifah, memilih pergi ke dalam villa sedangkan Lancelot dan Ang, tetap duduk di teras, mereka berdua melanjutkan ngobrolnysla namun yang di obrolkan oleh Lancelot dan Ang, sekarang lebih ke urusan bisnis.


"Han, bagaimana perasaanmu, terhadap Lancelot, antara dulu dan sekarang?" tanya Garnier penasaran.


"Gimana ya, kak, sampai saat ini saya itu belum percaya jika status saya itu sebagai istri dan tuan Lanc, sebulan yang lalu hubungan kami masih antara majikan dan pekerja, sekarang semua telah berubah, entahlah kak." ucap Hanifah yang masih belum yakin dengan perasaannya.


"Apapun perasaan kamu terhadap adikku, yang terpenting sekarang kalian bahagia, dan keponakanku tetap memiliki mama sebagaimana anak pada umumnya, sudah Han, jangan di pikirkan pertanyaanku tadi, tanpa kamu bicara aku sudah tahu jawabanmu, kakak ucapkan banyak terima kasih sebab kehadiranmu dalam kehidupan adikku merubah segalanya," ucap Garnier.


"Setelah ini kita akan sering ketemu Han, aku juga melihat ada perubahan yang sangat drastis dalam diri Lancelot, Lancelot jadi lebih lembut dan lebih bisa terbuka." ucap Ang.


"Namun, saya masih kepikiran nona A ling, entahlah aku dapat feeling kurang baik tentang nona A ling," ucap Hanifah.


"Wanita setan itu, aku tahu dia pasti marah jika tahu kalau Lanc, sudah menikah denganmu, kakak harap semua baik-baik saja." ucap Garnier.


"Iya, Han, semoga itu hanya perasaanmu saja, atau jangan-jangan kami takut kehilangan Lancelot, kaku jangan khawatir aku sudah lama kenal Lancelot, karena dulu kami itu teman sekolah, jadi aku tahu bagaimana Lancelot, kalau dia sudah memilihmu bararti hidup dan nyawanya untukmu." ucap nyonya Ang, berusaha meyakinkan Hanifah.


Nyonya Bisseling masuk ke ruang tengah dengan nona An, hampir dua jam nyonya Bisseling menemani nona An bermain di kebon bersama dengan penjaga villa.


"Ma, bajuku!" seru nona An, manja sorri biasnya.

__ADS_1


"Sini, mama bantu ganti bajunya," ucap Hanifah langsung bangkit berdiri dan menggendong nona An "Kak, nyonya aku tinggal dulu." pamit Hanifah, berlaku pergi menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Ya, silakan Han." sahut nyonya Ang dan Garnier.


"Ya, ampun kak lihatlah betapa manjanya An, pada Hani, pantesan jika adikmu itu kalah." celetuk nyonya Ang.


"Dari dulu, An dan Hani memang begitu, apalagi di saat Lancelot koma, yang selalu berada di samping An, ya Hani jadi An tahunnya Hani itu mamanya, tadinya aku takut sekali kalau Hani, tidak mau menikah dengan Lanc, bagaimana aku menjelaskan pada gadis itu, untung Tuhan berkehendak merestui pernikahan mereka ," jelas nyonya Bisseling sangat lega.


"Ya, Nier sendiri tadinya juga bingung ma, oh ya ma untuk acara resepsi mereka berdua semua sudah selesai, segera Nier, siapkan jadi jika ada perubahan segera beri tahu Nier." libra Garnier.


"Besok kamu ikut kami pulang to Nier ?" tanya Bisseling.


"Iya, besok aku, suami dan anak-anak ikut mama kembali, soalnya mana tahu sendiri Nier, mau menyiapkan acara pernikahan mereka." jelas Garnier.


Sesampainya di rumah orang tua Hanifah, mereka melakukan aktifitas seperti biasa, mereka makan bersama dengan keluarga besar Hanifah, karena beberapa kerabat Hanifah masih tinggal di rumah orang tua Hanifah untuk membantu orang tua Hanifah, dalam merapikan kembali rumahnya.


Malam ini Hanifah dan Lancelot masih mengalami situasi yang sama seperti malam kemarin, kalau kemarin karena keduanya kecapek-an, namun kali ini karena nona An mengalami demam, sehingga membuat Hanifah lebih konsentrasi ke nona An, dan jika nona An sedang sakit nona An tidak pernah mau lepas dari pelukan Hanifah.


"Han, bagaimana dengan anakmu apa perlu kita panggilkan dokter!" seru semi dari Bali pintu kamar.

__ADS_1


"Anakku sudah tidur kok buk, mungkin kecapek-an saja, biasanya jika kecapek-an setelah aku pijiti dan aku kompres demamnya pasti turun." sahut Hanifah tenang.


"Baiklah, jika sampai satu jam lagi demamnya tidak turun, biar di panggilkan dokter oleh bapakmu atau kita ke klinik." ucap Semi.


"Iya buk." sahut Hanifah.


"Han, apa gak sebaiknya kita bawa An, ke dokter?" ucap Lancelot.


"Pa, tadi An, sudah minum obat dan juga sudah aku pijiti, ini juga demam ya juga sudah turun, papa jangan khawatir anak kita baik-bsik saja." ucap Hanifah lembut sambil membelai lembut nona An.


Untuk kesekian kalinya, Lancelot di buat terharu dengan sikap Hanifah, Lancelot tidak bosan-bosan memandangi wajah Hanifah yang begitu teduh dan menyejukkan.


"Ma, mama tidur saja dan istirahat, biar An, papa yang jaga." ucap Lancelot.


"Ibu mana yang bisa tidur jika anaknya dalam keadaan sakit, mama sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini papa tenang saja, anak kita ajak baik-baik saja, sejam lagi dia bakal bisa tidur pulas." jekas Hanifah menenangkan Lancelot.


"Selama aku koma, apa An pernah seprti ini, karena semenjak aku sadar aku baru melihat An, sakit seprti ini juga baru kali ini aja." ucap Lancelot.


"Terakir dia sakit, setahun yang lalu, saat itu papa masih belum sadar, setalah satu tahun lebih ya baru kali ini saja anak kita, sakit." terang Hanifah.

__ADS_1


"Dia, memang anak yang kuat," ucap Lancelot.


Lancelot yan tadinya duduk di sebelah An, kini Lancelot ikut berbaring dengan posisi seprti biasa, nona An berada di antara Hanifah dan Lancelot.


__ADS_2