
Lancelot menemani Hanifah masuk ke kamar Hanifah, Lancelot membantu Hanifah untuk manjaga nona An, Lancelot benar-benar fokus berperan menjadi orang tua untuk nona An. Sesampainya di kamar Hanifah segera meletakkan nona An di atas ranjang, dan menggantikan baju nona An, karena sudah malam dan nona An juga sudah tidur maka hanya menggantikan baju saja. Kehadiran Lancelot di dalam kamarnya membuat Hanifah merasa tidak enak hari, beberapa hari ini Lancelot memberikan perhatian extra padanya, pada awalnya Hanifah berpikir semua yang dilakukan oleh Lancelot karena nona An, namun jika hanya demi nona An rasanya terlalu berlebihan.
"Tuan, maaf apa nanti tuan akan tidur di sini lagi?" Hanifah memberanikan diri bertanya pada Lancelot.
"Ya, setelah aku mandi dan ganti baju aku akan tidur di sini, hari ini hari ulang tahunmu dan bukankah kemarin lusa ulang tahun An, jadi sudah sewajarnya aku menjaga dan memanjakan kalian." sahut Lancelot dengan sebuah senyum kepuasan.
"Maaf Tuan, bukannya saya tidak mau di temani rasanya tidak etis jika tuan tetap berada dalam satu kamar dengan kami, Tuan seorang majikan, masa majikan akan tidur di sofa lagi."tolak Hanifah halus.
__ADS_1
"Di sini siapapun bebas, mau sekamar dengan siapapun juga bebas tidak akan ada yang mengadili, tidak ada bantahan aku akan tetap berada di sini, oh ya An sudah tidur sebaiknya kamu mandi dan segera istirahat." perintah Lancelot santai.
Lancelot meninggalkan Hanifah yang masih mencerna ucapan Lancelot tadi, setelah Lancelot pergi dan nona An juga sudah nyaman dengan tidurnya, Hanifah segera masuk kamar mandi untuk mandi, tidak lupa Hanifah selalu membawa bajunya masuk ke kamar mandi. Baju tidur dengan lengan panjang dan celana panjang menjadi andalan Hanifah, selama bekerja pada Lancelot untuk urusan baju Hanifah tidak pernah membelinya sendiri selalunya nyonya Bisseling yang membelikannya dan kadang tanpa persetujuannya, namun nyonya Bisseling paham jika Hanifah tidak suka dengan baju yang berbahan minim atau seksi.
Hanifah mandi dengan cepat sekali agar disaat Lancelot masuk kamar, Hanifah sudah bisa bersembunyi di balik selimut tanpa harus mengucap selamat malam atau menjawab pertanyaan dari Lancelot, padahal tadinya Hanifah ingin menelpon Tatuk menceritakan tentang perjalanannya hari ini. Hanifah sudah tidak peduli dengan Lancelot mau tidur di mana yang penting Hanifah ingin istirahat, walau terus terang istirahatnys tetap tidak nyaman dengan adanya Lancelot yang berada di dalam satu kamar, hanya berbatas tirai saja. Rasa capek dan kantuk yang dialami oleh Hanifah akirnya membuat Hanifah segera terlena dalam mimpinya.
Lancelot setelah mandi tidak segera kembali ke kamar Hanifah, Lancelot sebenarnya ingin menelpon Dandruff sang sekretaris namun tidak mungkin karena di negara Hongkong sudah sangat larut menjelang pagi tidak mungkin Lancelot mengganggu jam istirahat Dandruff. Lancelot sengaja tidak segera masuk ke kamar Hanifah agar Hanifah tidur lebih dulu, Lancelot sebenarnya juga tahu jika Hanifah tidak begitu nyaman dengan kehadiran dirinya di kamarnya. Setelah hampir satu setengah jam di kamarnya sendiri Lancelot masuk ke kamar Hanifah, keadaan kamar Hanifah sudah sepi yang tedengar hanya suara nafas lembut dari dua sosok wanita yang kini telah menguasai hati Lancelot.
__ADS_1
"Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya jika pada akhirnya kalian sangat mirip, dan kamu An, kamu tahu enggak kalau papa sangat sayang putri papa ini, tentu papa juga sayang pada mama Hani, kalau An sayang sama mama Hani, ikat mama Hani, untuk kita ya sayang, papa akan menjaga kalian sepenuh jiwa raga." gumam Lancelot dalam hati sambil membelai lembut nona An, dan senyum penuh pengharapan.
Lancelot berada di samping nona An hingga setengah jam, tadinya Lancelot hampir memejamkan mata di sebelah nona An, namun Lancelot segera sadar lalu segera beranjak dari ranjang yang di tempati oleh nona An dan Hanifah. Lancelot menuju sofa. Di atas sofa Lancelot segera membaringkan diri di atas sofa, Lancelot berusaha untuk memejamkan mata namun terlalu sulit sebab bayangan wajah Hanifah dan putrinya hari ini benar-benar menyita kewarasan otak Lancelot, beberapa hari ini Lancelot menikmati pemandangan terindahnya yaitu kebahagiaan Hanifah dan putrinya.
"Apa ini yang di namakan puber kedua, sudah lama aku tidak merasakan sebuah rasa cinta dan sayang pada wanita, itu sebabnya aku memilih menyewa rahim dari wanita yang tidak aku kenal dan tidak aku sentuh untuk mendapatkan keturunan, faktanya sekarang dengan hadirnya putriku malah mendatangkan seorang wanita yang bisa melelahkan keangkuhan hatiku." gumam Lancelot dalam hati.
Pikiran Lancelot kembali berputar pada Peristiwa beberapa tahun lalu saat A ling mempermainkannya. Peristiwa di sebuah club malam tanpa A ling sadari jika Lancelot juga Berada di tempat yang sama saat A ling bermesraan dan membahas rencana untuk menguasai Brown Group milik keluarga Bisseling melalui cinta palsu yang di berikan oleh Aing buat Lancelot.
__ADS_1
"Selama ini yang mendekatiku hanya karena harta, Hani, tapi tidak dengan Hani, dia tetap berada pada posisinya tanpa menggunakan kesempatan untuk merayuku, padahal dengan lewat Kedekatannya dengan putriku memudahkan dirinya agar bisa mendekatiku, tapi nyatanya tidak, selama satu tahun ini semua sikapnya masih sama seperti baru pertama kali datang, selalu tenang dan berseri, walau selalu dengan wajah datar." pikiran Lancelot terus berkelana memikirkan tentang Hanifah.
Lambat laun mata Lancelot tertutup karena rasa kantuk yang berat dan juga rasa lelah, setelah seharian menemani keluarganya jalan-jalan. Apa yang dipikirkan oleh Lancelot sampai terbawa mimpi, di dalam mimpipun Hanifah tidak luput dari pikiran Lancelot. Malam merambat semakin larut suara nafas lembut saling bersahutan dari ketika insan yang berada di dalam yang di tempati Hanifah. Nona An yang biasanya bangun di tengah malam, malam ini benar-benar tidur dengan pulas seolah benar-benar merasakan jika papanya sedang bersamanya walau tidak tidur seranjang. Hanifah berkali-kali membuka mata sekedar memastikan jika nona An dalam keadaan baik-baik saja. Hanifah juga melihat ke sofa dan ternyata Lancelot tenang dengan alam mimpinya.