
"Besar juga nyalimu tuan keluar tanpa pengawal." ucap salah satu bodyguard A ling, saat ini tidak satupun bodyguard Lancelot yang bersamanya.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, dan kalian rupanya sangat berani, bagus." ucap Lancelot dingin, Lancelot segera memencet tanda bahaya yang di pakainya tanpa sepengetahuan orang-orang A ling.
Hanifah yang sudah dikepung anak buah A ling sama sekali tidak gentar sedikitpun, Hanifah tetap tenang sambil menggendong nona An beruntung nona An juga tidak menangis.
"Ternyata kekasihmu tidak takut mati, cukup besar juga nyalinya mau menjadi kekasihmu, dia tidak tahu siapa saingannya." A ling tiba-tiba sudah muncul dari belakang.
Hanifah tetap diam sama sekali tidak terkejut dan tetap tenang, Lancelot melihat Hanifah yang tetap tenang membuat Lancelot semakin yakin jika Hanifah memang bukan orang sembarangan, dan pastinya membuat Lancelot tambah tenang.
"Justru aku yang khawatir jika kamu bakal menyesal berhadapan dengan kekasihku." ejekLancelot tetap dingin namun santai.
"Jangan pernah bergerak." A ling sudah menaruh pisau di pinggang Hanifah.
"Seorang ksatria tidak akan mengancam wanita yang sedang menggendong anak kecil." ejek Hanifah tenang dan santai.
Semua yang mendengar suara Hanifah sedikit terkejut, pasalnya jarang ada wanita dengan status pembantu yang memiliki nyali besar. A ling yang mendapat ejekkan dari Hanifah semakin geram" Aku pastikan kamu bakal menyesal, Jalan!" perintah A ling.
"Kita lihat saja, siapa yang akan menyesal dan aku ingatkan, sedikit saja kalian melukai nona An, aku pastikan kalian tidak akan pernah selamat." Hanifah bersuara dengan tenang namun penuh penekanan sambil menggendong nona An.
"Kita, buktikan." ucap A ling.
Mereka berjalan mengikuti A ling, A ling membawa Lancelot, Hanifah dan nona An menuju atap hotel paling atas. Hanifah maupun Lancelot sengaja mengikuti perintah A ling tanpa ada perlawanan, karena lokasinya tidak mendukung buat Hanifah maupun Lancelot untuk melawan sebab ada nona An yang harus di selamatkan. Setelah berjalan lewat lift mereka sampai di lantai paling atas, di atas sangat luas dan tentu dengan sinar lampu remang-remang. Lancelot sudah paham jika A ling bakal menyadap CCTV di hotel, namun A ling juga tidak pernah menyangka jika di hotel tersebut masih ada CCTV rahasia yang tidak di ketahui oleh siapapun kecuali Lancelot dan Dandruff, jadi Hanifah maupun Lancelot tetap bersikap tenang.
Dandruff dan para bodyguard yang mendapat sinyal bahaya segera mengikuti petunjuk yang sudah tersambung dengan hand phone masing-masing.
Lancelot dan Hanifah berdiri di tengah dan sudah dikepung oleh enam bodyguard A ling, Hanifah dan Lancelot selalu waspada dengan orang-orang sekitar, tangan Lancelot selalu menggenggam tangan Hanifah.
"Han, maaf jika kamu harus terlibat." bisik Lancelot lirih.
"Bukan saatnya untuk meminta maaf tuan, nyawa nona An, lebih berharga dari pada kata maaf." sahut Hanifah dingin.
"Kita harus siap-siap dengan segala kemungkinan." bisik Lancelot.
"Tuan, tenang saja, semua akan baik-baik saja." bisik Hanifah lirih.
__ADS_1
"Kalian, takut? Sayangku tenang saja jika kamu mau menjadi kekasihku dan menjadikqn aku ibu dari anakmu, maka kedua wanita ini aman." ucap A ling.
"Silakan bermimpi A ling, kamu sunghu tidak pantas untuk menjadi ibu dari anak-anakku," ejek Lancelot tenang.
"Jangan pernah membuat aku emosi, Lanc, akan Aku habisi nyawa anakmu dan wanita ini." A ling mulai terpqncing emosinya.
"Ternyata, baru begitu emosimu sudah meledak, bertarung dengan membabi buta tidak akan membuatmu menang A ling, musuhmu itu aku bukan mereka." ucap Lancelot.
"Siapa yang merebut kamu dariku dia harus mati termasuk kekasihmu ini dan juga anakmu." geram A ling dengan emosi sudah berada di ubun-ubun.
Mendengar ucapan A ling Lancelot langsung mengepalkan tangannya memendam amarah.
"Tuan, jangan terpancing emosi, dia hanya ingin tuan emosi dan bertindak gegabah, ada nona An, yang menjadi prioritas kita jangan sampai emosi kita melukai nona An." nasehat Hanifah lirih.
Lancelot mendengar nasehat dari Hanifah dia langsung ambil nafas panjang untuk meredam amarahnya. A ling melihat reaksi Lancelot yang nurut kata-kata Hanifah dia semakin emosi.
"Kau memang benar-benar perempuan bedebah," bentak A ling.
A ling berusaha untuk menyerang Hanifah namun dengan cekatan Hanifah dapat menangis serangan A ling dengan tangan satu bahkan hanya satu kali tendangan sudah membuat A ling senpoyongan. Bodyguard A ling juga sudah mulai menyerang Lancelot, pertempuran tidak bisa dielakan lagi.
"Bedebah kau!" umpat A ling marah sambil memegangi perutnya karena tendangan dari Hanifah.
Lancelot dengan gesit melawan enam bodyguard A ling, "Han, hati-hati!" teriak Lancelot memperingatkan Hanifah karena ada bodyguard A ling yang akan menyerang Hanifah, mendengar instruksi dari Lancelot Hanifah dengan gesit bisa menghindari dan bahkan hanya dengan kakinya Hanifah dapat menyerang balik bodyguard A ling.
Lancelot dan Hanifah ke posisinya semua mereka saling memunggungi dan memutar karena mereka di kepung oleh bodyguard A ling dan A ling sendiri.
"Kalian, hanya berani pada perempuan yang menggendong anak, hanya segitu kemampuan kalian." enek Lancelot.
"Jangan sombong kalian!" bentak A ling sudah semakin menggila.
Dandruff dan bodyguard Lancelot berlari naik ke atas melalui tangga karena lift-nya telah di rusak oleh komplotan A ling.
"Han, kamu siap?" bisik Lancelot.
"Siap Tuan, jangan khawatirkan saya." jawab Hanifah.
__ADS_1
"Kenapa kalian takut?" tanya A ling.
"Sama sekali tidak takut," ucap Lancelot.
"Serang!" perintah A ling penuh amarah.
A ling dan bodyguardnya menyerang Lancelot dan Hanifah secara membabi buta, namun demikian Hanifah tetap tenang dan selalu bisa menangkis serangan dengan baik bahkan lawan Hanifah sering mendapat serangan balik dari Hanifah padahal Hanifah sambil menggendong nona An. Untuk menenangkan nona An, Hanifah telah merapalkan doa untuk nona An agar nona An tidak menangis. Pertarumgan mereka berjalan hampir dua puluh menit bodyguard A ling dan A ling sendiri mulai kehabisan tenaga bahkan Lancelot juga sudah mulai kelelahan, namun tidak dengan Hanifah dia tetap bisa berdiri Kokoh sambil menggendong nona An.
"Tuan anda baik-baik saja?" tanya Hanifah pada Lancelot.
"Kamu tengah saja, aku baik-baik saja." jawab Lancelot.
Hanifah sedikit tidak fokus karena melihat Lancelot, ketika Hanifah sedikit lengaj A ling berusaha menyerang Hanifah, karena Hanifah tidak begitu siap akirnya serangan A ling hampir mengenai nona An, melihat hal itu kekuatan Hanifah langsung bertambah.
"Baiklah, sudah cukup main-mannya jangan salahkan aku jika kalian sampai tidak bisa jalan." ucap Hanifah dingin " Tuan tolong gendong nona An," Hanifah menyerahkan nona An, pada Lancelot.
"Han, biar aku lawan mereka." ucap Lancelot.
"Maaf tuan, kali ini tuan harus menurut instruksi dari saya." ucap Hanifah dingin.
Hanifah setelah menyerahkan nona An pada Lancelot dia langsung mengambil posisi kuda-kuda untuk mengumpulkan kekutan, hanya dalam sekejap gerakan Hanifah sangat lincah menendang dan mencakar musuhnya tanpa ampun bagai harimau yang sedang kesurupan, beberapa bodyguard A ling langsung timbang tidak berdaya, untuk A ling Hanifah masih memberi kesempatan.
"Silakan kari jika kamu bisa lari nyonya, bukankah tadi saya sudah memperingatkan anda jangan menyentuh nona An." ucap Hanifah dingin dengan tatapan tajam setajam mata harimau yang siap menerkam mangsanya.
Lancelot yang melihat langsung kilalatan apai amarah Hanifah benar-benar ngeri.
"Aku tidak ajak menyerah, sebelum aku membuatmu tidak berdaya." sumbar A ling walau sudah hampir kehabisan tenaga.
"Seorang ksatria tidak akan melawan lawannya yang sudah tidak berdaya." ucap Hanifah dingin.
"Silakan bedebah," umpat A ling penuh amarah " Serang."
"Baik, kita lanjutkan." sahut Hanifah dingin.
Hanifah di serang kembali oleh dan tiga bodyguard A ling yang masih punya tenaga, Lancelot yang melihat peristiwa itu langsung membantu Hanifah sambil menggendong nona An.
__ADS_1
"Tuan, lindungi nona, biar mereka aku yang urus." perintah Hanifah.
Hanifah dengan gesit menangkis dan menyerang A ling dan bodyguard, hanya dalam waktu lima belas menit A ling dan bodyguardnya sudah tumbang, Hanifah bergerak sangat lincah bagai kapas yang terkena nagin benar-benar terasa ringan, bahkan tenangnya tidak bisa dihalau oleh A ling dan bodyguardnya saking cepatnya.