Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 159


__ADS_3

Hari pernikahan Lancelot dan Hanifah semakin dekat, Lancelot masih sangat sibuk dengan pekerjaannya, sedang Hanifah sibuk menyiapkan pernikahannya sendiri tanpa ada bantuan dari Lancelot. Antara Hanifah dan Lancelot setiap hari selalu saling berkirim kabar. Sesibuk-sibuknya Lancelot dia selalu selalu menghubungi Hanifah dan nona An, setiap kali melakukan panggilan video call nona An, selalu memamerkan kebolehanhnya, serta menceritakan semua kegiatannya selama berada di rumah orang tua Hanifah. seperti sekarang Lancelot sepulang dari kantor setelah makan dan membersihkan diri dia langsung melakukan panggilan video call dengan Hanifah dan nona An.


"Assalamu'alaikum Putri papa yang cantik." sapa Lancelot pada nona An, karena nona An yang berada di depan layar.


"Wa'alaikum salam papa, hali ini aku capek sekali pa, sekalang aku sudah bisa naik sepeda." Nona An langsung memamerkan diri jika sudah bisa naik sepeda.


"Pakai roda tiga apa roda dua?" goda Lancelot.


"Loda dua dong Pa, juga tidak di bantu mama." Nona An, sangat antusias memamerkan kebolehanhnya.


"Mama mana?" tanya Lancelot mencari Hanifah.


"Mama, lagi maem." sahut nona An.


"An, sudah maem apa belum?"


"Sudah dong, tadi Aku maem sama sayul, telus tadi sole petik buah stlobeli di lumah olang, temanku namanya Monde." cerita nona An.


"Dapat berapa steroberinya?" tanya Lancelot.


"Satu klesek ada sepuluh besal besal, mama malah dapat banyak." pamer nona An.


"Papa minta boleh?" goda Lancelot.

__ADS_1


"Ndak boleh nanti abis, pa tadi Aku lihat ada, sapi sama kambing banyak sekali pa ada lima." pamer nona An, lagi.


"An, suka tinggal di rumah oma mama?" tanya Lancelot.


"Suka sekali pa, di sini tiap hali ketemu ayam jalan-jalan, ketemu kambing jalan-jalan, ketemu bebek jalan-jalan, ketemu yang loncat-loncat banyak sekali pa." Nona An menceritakan sangat antusias.


Selama setengah jam nona An dan Lancelot bercerita, Lancelot sangat senang menanggapi ocehan nona An.


"Assalamu'alaikum tuan," sapa Hanifah yang baru muncul di balik layar monitor.


"Wa'alaikum salam Han, semakin hari An semakin pintar saja, hari ini kemana saja?" tanya Lancelot.


"Pagi tadi seperti biasa dia bermain dengan Monde dan teman lainnya bekajar sepeda di halaman depan rumah, sorenya aku ajak ke kebon bulek metik strawberry, kebetulan sudah waktunya metik." jelas Hanifah "Oh ya Tuan sebenarnya ada tugas dari sekolahnya nona An jika masuk nanti harus mengumpulkan sebuah cerita tentang kegiatan selama liburan." ucap Hanifah.


"Apa yang harus saya tulis, sedang saya belum begitu pandai menulis menggunakan tulisan cina." jelas Hanifah.


"Kamu tulis pakai bahasa inggris, nanti aku yang nulis pakai tulisan cina." perintah Lancelot.


"Apa yang harus saya tulis Tuan." tanya Hanifah karena takut salah tulis.


"Kamu tulis selama liburan apa kegiatan An, contoh kegiatan hari ini seperti yang di-ucapkan An, tadi main sepeda, pergi ke kebun dapat strawberry, terus ketemu apa saja, misal ketemu ayam ya tulis ketemu ayam, ceritakan semua kegiatan An, selama bersanamu apapun isinya kamu tulis sesuai fakta jangan mengada-ngada karena selain tulisan gurunya nanti bertanya langsung pada muridnya." jelas Lancelot.


"Baik tuan, nanti malam saya tulis dan tuan salin ke tulisan cina, semua surat-surat kita sudah clear tidak ada masalah, jika dalam konsep dekotasi dan kostum tuan ada perubahan bisa segera dibicarakan dengan pihak WO." jelas Hanifah pada Lancelot.

__ADS_1


"Aku tidak ada perubahan selalu aku sudah tertarik dengan model yang kita pilih dulu itu, bagaimana An, apa, dia bikin ulah, dan kelihatannya dia sangat menikmatinya." ucap Lancelot.


"Anak-anak ada temannya sebata bermain pasti senang Tuan, tapi ya itu nona An, kulit ya sedikit gelap." ucap Hanifah.


"Cocok jadi anak kamu, selama kaku Sam An di sana apa ada gossip tidak sedap menerpa kamu?" yang Lancelot khawatir.


"Alhamdulillah, semua aman terkendali tuan, mereka juga bisa mikir pakai logika mana ada kerja empat tahun pulang mebawa anak usia empat tahun pula, sedang di PT, juga cuma tiga bulan sudah berangkat kerja, kan gak mungkin sampai di rumah tuan saya melahirkan." kelakar Hanifah.


"Sembilan bulan lagi jika Allah memberi rejeki pada kita, pasti kamu melahirkan." ucap Lancelot.


"Nona An, masih terlalu kecil untuk memiliki adik tuan, saya masih ingin memberikan semua kasih sayang sayang saya pada nona, An," sahut Hanifah.


"Iya juga sih, sudah malam sebaiknya kita tidur, An mana kok gak ada suaranya?" tanya Lancelot yang mencari keberadaan nona An.


"Lihat." Hanifah mengarahkan kameranya pada nona An, yang sedang terlelap dalam mimpinya di kasur lantai dengan di temani oleh kedua orang tua Hanifah. Tangan Semi, tak henti-hentinya memijit tubuh nona An sangat lembut.


"Ya Allah An, perasaan baru saja ngobrol sama aku sekarang sudah terbuai di alam mimpinya, sekarang kamu istirahat aku tidak ingin kamu kecapek an," ucap Lancelot.


"Baik Tuan Assalamu'alaikum." Hanifah mengucap salam penutup.


"Wa'alaikum salam." sahut Lancelot dan langsung mematikan hand phone nya.


Hanifah setelah menaruh hand phone-nya, dia segera memindah nona An, kedalam kamar Hanifah, sedang Lancelot melanjutkan pekerjaanya karena sebentar lagi akan di tinggal lagi.

__ADS_1


__ADS_2