
Semalaman tuan Bisseling berada di rumah sakit menunggu Lancelot dengan di temani oleh beberapa bodyguardnya memastikan keselamatan Lancelot, dan tentunya untuk mencegah para pemburu berita datang, Garnier yang baru mendarat di bandara Hongkong dia segera menghubungi tuan Bisseling yang masih terjaga di rumah sakit, mengabarkan jika dia sudah berada di Hongkong.
Garnier tidak langsung ke rumah sakit namun menuju rumah tuan dan nyonya Bisseling dulu, karena waktu juga sudah menjelang pagi. Nyonya Bisseling yang mendapat kabar dari Garnier dia menunggu kedatangan putrinya di ruang tengah sendirian sambil menonton televisi.
Berita tentang kecelakaan yang di alami Lancelot sudah mulai menghiasi layar kaca televisi di seluruh negara Hongkong. Nyonya Bisseling sangat miris ketika melihat mobil Lancelot yang ringsek tidak berbentuk lagi.
"Mama!" seru Garnier begitu masuk ke ruang tengah.
"Nier, adikmu!" nyonya Bisseling langsung memeluk Garnier yang baru says datang.
"Lanc, bagaimana Ma?" mata Garnier sudah sembab karena dari kemarin Garnier menangis terus menerus.
"Adikmu koma Nier, entah kapan dia bisa bangun," ucap nyonya Bisseling sedih ber-urai airmata.
"Ya, Tuhan!" Garnier benar-benar sedih.
"Duduklah dulu." perintah nyonya Bisseling.
__ADS_1
Garnier dan nyonya Bisseling duduk di ruang tengah, mereka duduk bedua dengan di temani segelas susu hangat yang di sediakan khusus oleh nyonya Bisseling until menyambut kedatangan putrinya.
"Anak mama hanya kamu dan Lanc, semoga Lanc, bisa segera kembali sadar seperti sedia kala, mama tidak tega melihat keadaan adikmu Nier, kasihan An dan juga Hani." keluh nyonya.
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Garnier tidak begitu konsentrasi.
Nyonya Bisseling duduk di ruang keluarga dengan di temani oleh gar ysbv baru saja sampai, nyonya menceritakan apa yang telah do akami oleh Lancelot. Mereka bercerita hingga pukul lima pagi, Nyonya Bisseling masuk ke kanarnya sedang Garnier juga masuk di kamarnya sendiri untuk istirahat.
Jam sebelas siang Hanifah sudah bersiap-siap untuk turun ke bawah karena sebentar lagi berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk Lancelot. Hanifah turun ke bawah dengan di temani oleh Joyce, sambil mengandung nona An. Di ruang tengah nyonya Bisseling dan Garnier sudah duduk menanti kedatangan Hanifah dan nona An.
"Halo, ponak-an tante yang cantik dan manis tambah pinter saja!" seru Garnier senang.
"Nyonya, selamat siang," sapa Hanifah sopan.
"Selamat siang Han," sahut nyonya Bisseling dan Garnier bersamaan.
"Selamat siang nyonya," sapa Joyce sopan.
__ADS_1
"Siang Joyce," sapa nyonya Bisseling dan Garnier.
"Lihatlah An, dia tidak bisa lepas dari Hani," ucap nyonya Bisseling.
"Nona ayo, sapa tante." rayu Hanifah lembut pada nona An, nona An menggeleng dan semakin erat menekuk Hanifah.
"Keponakan tante, ayo sini, tante sudah kangen sekali." rayu Garnier pada nona An.
"Tidak ada yang bisa merayu An, kecuali mamanya." ucap nyonya Bisseling.
"Han, kamu memang cocok jadi mamanya An, baiklah tante mebgalah tidak akan memaksa Putri mama Hani, sekarang kita berangkat untuk menjenguk papanya An, OK." ucap Garnier menyerah karena tidak berhasil merayu nona An.
Hanifah menangapi ucapan Garnier dengam sebuah senyuman," Anak mama yang manis, ayo cium oma dan cium tante, tabte sudah jauh-jauh datang untuk menjenguk anak mama yang cantik ini lo." Hanifah merayu nona An, dengan lembut sambil membelai nona An yang berada dalam pekukannya, "Bagaimana pesan papa, Putri mama masih ingatkan pesan papa semalam." ucap Hanifah lembut dan tulus.
Nona An, mengangguk bertanda mengerti arah pembicaraan Hanifah. Hanifah menuntun nona An untuk mencium nyonya Bisseling dan Garnier.
"Oma." sapa nona An sudah mulai bisa berbicara.
__ADS_1
"Te."
Nona An bergantian menyapa dan mencium nyonya Bisseling dan Garnier, kedua orang tua itu terharu melihat tingkah nona An, selama ini nona An di bawah asuhan Hanifah dan nona An selalu mengangap Hanifah sebagai mamanya. Setelah berciuman mereka berangkat ke rumah sakit bersamaan kali ini Joyce tidak ikut serta karena sudah ada Garnier yang ikut serta. Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka bertiga tidak henti-hentinya membahas tentang kecelakaan yang menimpa Lancelot.