Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 183


__ADS_3

Jam sudah menunjukan hampir jam lima sore namun Lancelot juga belum menunjukkan tanda-tanda untuk bangun, Hanifah dengan pelan membangunkan Lancelot dengan cara memanggil dan menggoyang- goyangkan lengan Lancelot.


"Pa, bangun sudah sore." panggil Hanifah.


Sekali di bangunkan tidak ada respon dua kali masih tidak respon, hingga ke lima kali Hanifah membangunkan Lancelot juga masih tisak ada respon. Hanifah tidak kehilangan akal, dia menggunakan cara lamanya dalam membangunkan suaminya. Hanifah mendekat dan mencium bibir Lancelot, lembut, mendapat ciuman dari Hanifah Lancelot masih pura-pura tidak merespon, karena tidak di respon oleh Lancelot, Hanifah melapas ciumannya, namun di kala Hanifah melepas ciumannya Lancelot malah memeluk erat Hanifah dan Lancelot yang menyium balik bibir Hanifah sesaat.


"Ih, papa." ucap Hanifah manja.


"Siapa suruh goda in papa, bangunin macam tidur, mama harus bertanggung jawab." goda Lancelot.


"Pa, sudah sore keburu habis waktu asyarnya sekarang sudah jam lima, kita sholat dulu." ajak Hanifah pada Lancelot.


"Baiklah, kita sholat dulu ternyata sudah dua jam kita tidur, mama kelihatannya sudah segar sejak kapan mama bangun?" tanya Lancelot pada Hanifah.


"Tadi jam empat aku sudah bangun, sebab Ab, telpon." jawab Hanifah.

__ADS_1


"Apa An, nangis atau rewel bagaimana bisa An, telpon mama memang pakai hand phone siapa?" tanya Lancelot yang masih berbaring dan memeluk Hanifah.


"Rewel sih enggak kata mama, cuma jika di dengar dari suaranya An, seperti tidak suka karena mama belum jemput dia, An teloon mama menggunakan hand phone omanya karena tadi di pinjamksn ke An, waktu oma ke toilet dan mungkin An melihat fotoku dan foto dia jadi asal pencet namanya juga anak-anak ." jelas Hanifah "Ayo pa lepasin, kita sholat dulu dan setelah itu kita jemput An." pinta Hanifah.


"Baikkah sudah ke lewat sore kita sholat dulu." Lancelot melepaskan pelukannya Hanifah dan Lancelot bangkit berdiri, mereka berdua bergantian dalam menggunakan kamar mandi, setelah keduanya selesai ambil wudhu mereka berdua melakukan sholat berjamaah seperti hari-hari sebelumnya. Selesai sholat Lancelot memesan makanan ringan untuk teman mereka ngobrol santai, seprei yang tadinya tertata sangat Indah sekarang sudah kacau balau seperti habis di terjang angin beliung.


Mereka berdua duduk santai di sofa yana aada di dalam kamar sambil menikmati indahnya lautan lepas di luar sana, Lancelot seolah tidak mau lepas dari Hanifah, di peluknya erat tubuh Hanifah, yang duduk di sebelahnya.


"Sekarang An lagi mgapain ya pa?" tanya Hanifah.


"Ya, memang benar, selama lebih dari empat tahun hari ini pertama kalinya mama dengan An berpisah dalam waktu yang lumayan lama." jelas Hanifah.


"Ya papa tahu itu, ternyata punya istri itu menyenangkan, apalagi istrinya seperti mama, lama-lama aku kena diabetes." gurau Lancelot.


"Maksud papa diabetes gimana?" tanya Hanifah.

__ADS_1


"Mama terlalu manis, masa membangunkan papa pakai ******* bibir, kalau belum masuk waktu sholat, tadi mama sudah papa ajak, berolah raga lagi, menabur benih cinta papa ke mama, dan sebentar lagi juga sudah masuk waktu magrip, nanti malam sudah pasti aku harus berebut dengan anakku sendiri, ternyata begini nikmatnya menikah setelah memiliki anak." ucap Lancelot.


"Papa menyesal?" tanya Hanifah yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Lancelot.


"Ya, papa menyesal kenapa tidak dari empat tahun lalu saja kita menikah," gurau Lancelot.


"Itu, lagi," gerutu Hanifah.


"Setelah sholat magrib dan sebelum pulang, papa ingin menabur benih lagi, biar cepat tumbuh dan berkembang." ucap Lancelot sambil membelai lembut perut Hanifah yang tertutup baju tidurnya.


"Semoga, dan terima kasih papa sudah mempercayakn benih papa tumbuh dalam rahim mama." ucap Hanifah bahagia.


Di saat sedang lagi enak-enak ngobrol santai petugas hotel datang mengantarkan makanannya, Lancelot memesan dua set dessert dengan menu pudding dan es cream. Mereka segera menyantap dessert sambil menikmati indahnya pemandangan sore di laut lepas, kamar yang di oleh Lancelot menghadap ke laut lepas, sehingga di saat bersantai di dalam kamar bisa membuat otak lebih segar.


Selesai sholat magrib, mereka berdua kembali memainkan irama dawai asmara bernada cinta halalnya. Keduanya seolah tidak pernah lelah atau bosan dalam memainkannya, semakin lama mereka memainkannya mereka semakin menghayati dan menikmati. Keduanya akhirnya jatuh terkulai setelah keringat bercucuran dan tenaganya juga sudah terkuras habis.

__ADS_1


__ADS_2