
Dandruff setelah mendapat perintah dari Lancelot dia segera meninggalkan ruangan Lancelot, di dalam ruangan Lancelot, Hanifah dan Lancelot membahas tengah langkah selanjutnya.
"Pa, apa A ling akan Berbuat lebih nekat dari pada sekarang?" tanya Hanifah yang tidak tahu tentang A ling.
"Ya Ma, dan kita harus tetap waspada mama ingat beberapa tahun yang lalu di saat An, masih kecil dia sudah nekat dan sekarang papa yakin A ling akan lebih nekat lagi, papa tahu A ling semakin tudak suka ketika papa memilih untuk menikah dengan mama." jelas Lancelot.
"Apapun alasan A ling, mama tidak begitu peduli Pa yang terpenting sekarang keselamatan Putri kita , mama berpikir bagaimana jika kita pasang mesin pendeteksi untuk Putri kita, jika terjadi sesuatu agar mudah untuk mengawasinya," jelas Hanifah.
"Apa itu perlu Ma?" tanya Lancelot meyakinkan tentang usulan Hanifah barusan.
"Ya, mama rasa sangat perlu semua demi keselamatan Putri kita, mama tidak ingin Putri kita celaka." terang Hanifah.
"Baiklah, papa setuju dengan usul mama, kita pasang nanti malam, akan Aku hubungi Dandruff." jelas Lancelot.
A ling benar-benar kesal dan putus asa karena beberapa kali berhadapan dengan Lancelot dan Hanifah selalu bisa dibuat mati kutu. A ling berada di salah satu tempat, dia menemui seseorang yang memang sudah sangat dia percaya, bahkan dari dia A ling bisa mengetahui tentang Lancelot walau tidak banyak, karena selama ini Lancelot berhasil membentengi dirinya dari para penyusup yang ingin menghancurkan karir dan keluarganya.
__ADS_1
A ling terus membuat ide gila untuk mendapatkan kembali Lancelot, dari sudut manapun A ling ingin menghancurkan Lancelot nyatanya tetap tidak berhasil. A ling pernah ingin mensabotase perusahaan ternyata pengamanan perusahaan sangat kuat, malah orang suruhan A ling yang tertangakap.
Hanifah setelah berbicara dengan Lancelot, dia kembali ke sekolahan nona An, karena waktunya nona An, selesai sekolah sedangkan Lancelot, melanjutkan pekerjaannya.
Sesampainya di sekolahan Hanifah, bersikap seperti biasa namun tetap meningkatkan kewaspadaannya. Jam sekolah nona An, telah usai seperti biasa Hanifah, melakukan penjemputan nona An, Sebagaimana orang tua pada umumnya. Setelah menjemput nona An, Hanifah, mengajak nona An untuk menemui Lancelot, sesuai janjinya tadi jika akan makan siang bersama. Hanifah dan nona An, menuju sebuah restaurant yang ada di dekat kantor Lancelot.
"Ma, papa mana?" tanya nona An, karena Hanifah dan nona Anda datang lebih dulu.
"Papa masih jalan, sayang sebentar lagi datang." sahut Hanifah lembut.
"Tuh, papa datang sayang!" ucap Hanifah menunjukan ke pintu.
"Papa!" seru nona An, girang.
"Anak papa yang cantik, bagaimana sekolahnya hari ini sayang?" tanya Lancelot pada nona An, dan langsung mencium nona An.
__ADS_1
"Selu pa,!" sahut nona An.
Nona An, terus menceritakan kegiatan di sekolahnya tadi, Hanifah dan Lancelot menanggapi setiap ocehan nona An, dengan senang hati sehingga membuat nona An, semakin bersemangat dalam menceritakan dengan detail setiap kegiatan apapun jika sedang tidak bersama dengan mereka berdua.
"Pa, A ling berada di area sini, jaga Putri kita, targed selanjutnya bukan kita tapu Putri kita, A ling tidak sendirian." bisik Hanifah, pelan tepat di telinga Lancelot.
Lancelot di buat terkejut dengan ucapan Hanifah, pasalnya dalam satu hari ini Hanifah, sudah dua kali mengetahui jika mereka sedang dalam keadaan bahaya.
"Baik, papa tahu apa yang harus papa lakukan." sahut Lancelot tenang.
Lancelot tanpa pikir panjang dua segera menyuruh Dandruff dan bodyguard untuk meningkatkan kewaspadaan, baru saja mereka selesai berbicara di luar ruangan sudah ada keributan. Seorang laki-laki sedang memarahi salah satu pramusaji di restaurant tersebut dengan alasan menumpahkan teh panas di atas meja ya dan mengenai bajunya padahal atas ulahnya sendiri.
"Pa, jangan terkecoh, tetap berada di sini." ucap Hanifah.
Lancelot dan Hanifah setuju untuk tetap berada di dalam ruangan.
__ADS_1