Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 101


__ADS_3

Meja makan di keluarga Bisseling siang ini dengan menu yang sangat berbeda dari biasanya, jika hampir setiap hari selalu ada menu daging babi, kali ini tidak ada sama sekali bahkan piring yang di gunakan untuk menyajikan, piring untuk makan nyonya Bisseling menggunakan yang masih baru, belum pernah dipakainya. Nyonya Bisseling sangat suka membeli peralatan dapur dengan berbagai macam model yang cantik dan unik, harganyapun sangat fantastis.


Nyonya Bisseling sangat antusias menyambut makan siang hari ini, bagi nyonya bisa berkumpul seperti sekarang merupakan hadiah terindah dalam hidupnya. Lancelot tidak berapa lama sudah turun bersama dengan Hanifah, serta nona An dan juga suster. Tuan dan nyonya Bisseling sudah duduk menanti mereka bertiga di meja makan.


"Ayo duduk makan-makan, Han," sambut nyonya Bisseling antusias.


Hanifah merasa ada yang berbeda dengan penyajian di atas meja, tidak seperti biasanya karena Hanifah tidak melihat ada menu khusus untuk dirinya.


"Terima kasih nyonya, tuan," ucap Hanifah sopan.


"Makan!" seru Lancelot bahagia.


"Sudah satu bulan lebih kita tidak bisa makan bersama, ayo kita segera makan," ucap tuan Bisseling juga bahagia.


"Han, ini semua aku sendiri yang masak dan tidak ada daging babinya, tadi Aku juga menggunakan bahan yang halal, jasi kamu bisa makan semua piringnya serta alat masaknya juga baru, jadi aman buat kamu," ucap nyonya Bisseling menjelaskan pada Hanifah.


"Terima kasih nyonya," ucap Hanifah sungkan.


"Mama tambah sayang saja sama Hani, " ucap Lancelot.


"Kalau bukan kita yang menyayangi Hani, siapa lagi Hani hidup bersama kita Hani juga sangat menyayangi An," imbuh nyonya Bisseling "Hari ini menunya juga sangat special, ada stim ikan seperti biasa, ada koloke ayam, coi sam siram jamur sama saos tiram, ada bebek panggan nah ini tadi Aku beli dari rumah makan langganan kita yang ada label halalnya, ini ada daging sapi lads hitam sana paprika, dan ini cah udang, brokoli putih, wortel sama kacang polong, ini supnya aku masak sup ikan," nyonya Bisseling menunjukan semua makanan yang ada di atas meja satu persatu dengan perasaan bahagia.


"Hari ini sangat special karena yang masak Aku sama nama," ucap tuan Bisseling bangga.


"Wah, sejak kapan papa ikut mama ke dapur?" tanya Lancelot penasaran.


"Sejak kamu dan kakakmu Garnier masih bayi, kamu kira papa gak pernah ke dapur apa, apa kamu lupa waktu kamu masih lima tahun papa sering masak untuk kalian," ucap tuan Bisseling.


Lancelot tertawa kecil "Ya, aku ingat, tapi setelah itu papa tidak pernah lagi ke dapur," sahut Lancelot.


"Waktu itu papamu belum menduduki posisi sebagai CEO, karena posisi itu dulu masih di pegang oleh kakekmu, dan lagi dulu masih ada thai kuma(bude paling besar) yang handel, jadi papamu masih santai, namun setelah Thai Kuma sakit dan tidak bisa lagi bekerja papamu baru mulai banyak kerjaan gantikan posisi Thai Kuma," nyonya Bisseling sedikit cerita "Ceritanya nanti kita makan dulu," pungkas Nyonya Bisseling.

__ADS_1


Nona An duduk di kursinya posisi seperti biasa nona An duduk di antara Hanifah dan Lancelot, menu untuk nona An beberapa hari ini sudah mulai berbeda tidak lagi makan makanan bayi namun nona An, memilih makan makanan yang sama dengan yang di makan oleh orang dewasa. Mereka makan sambil cerita Hanifah, makan sambil mengawasi dan menyuapi nona An, kadang Lancelot sesekali juga menyuapi noa An.


"Ayo semua makan yang banyak jangan sampai tidak habis Han, ayo nambah Lanc, kamu ambilkan Hani, kalau tidak kamu ambilkan nanti Hani, tidak sempat makan, coba lihat Hani makan sambil menyuapi An, kamu ambilkan makanan untuk Hani," perintah nyonya Bisseling.


"Baik Ma." Lancelot tidak membantah perintah dari nyonya Bisseling."Han kamu mau apa?" tanya Lancelot pada Hanifah.


"Saya, mau daging sapinya dan coi sam, terima kasih tuan." iawab Hanifah.


"Hari ini kita habiskan makanannya kasihan mama, sudah berusaha masak untuk kita semua," tambah tuan Bisseling.


"Tentu, Pa, aku pasti makan yang banyak," sahut Lancelot sambil terus mengambil makanan.


Nona An, juga begitu menikmati makanannya" Mam mam mam mam," suara nona An, ikut meramaikan acara makan malam kali ini.


"Tuan Putri mama pinter sekali, sudah mau habis ya."


Hanifah memuji tingkah nona An, yang sangat menggemaskan apalagi nona An, sangat suka sekali makan, bukan hanya Hanifah, yang memuji nona An, ruang dan nyonya Bisseling tidak henti-hentinya memuji kepintaran nona An.


Semua orang yang berada di meja makan tertawa mendengar ucapan Lancelot.


"Ya, ya, ya, anak papa tapi papa jarang sekali berada di rumah," sahut nyonya Bisseling.


"Jadinya An anak siapa ya?" tuan Bisseling ikut menimpali.


"Mama ma ma ma," celoteh nona An, seolah paham akan pertanyaan yang di ajukan oleh opanya.


"Pinter, sekali!" tuan dan nyonya Bisseling bersamaan.


"Ayo An, sekali lagi An anak siapa, anak papa apa anak mama?"


Lancelot mencoba keberuntungan bertanya sendiri pada putrinya.

__ADS_1


"Mama ma ma ma." Nona An tetap pada pendiriannya.


"Ini Papa ayo An, Papa." Lancelot berusaha lagi menyuruh nona An, untuk memanggil dirinya papa.


"Ma ma ma mama mama." Nona An tetap tidak berubah.


Semua yang melingkar di meja makan tertawa untuk yang ke sekian kalinya.


"Lihatlah Han, kalau kamu mau membawa An, ke Indonesia bawa saja aku ini papanya tapi malah gak di anggap sama Putri cantikku," ucap Lancelot cuek "Putri papa memang sangat hebat, papa akan tetap mendukungmu untuk memilih mama Hani." tambah Lancelot dengan senyum penuh dukungan pada nona An, dan Lancelot memberi kecupan kecil pada pipi gembul nona An.


"Aku saja Lanc, jika kamu itu iri," ucap nyonya Bisseling.


Hanifah memilih diam serta senyum saja tanpa mau menimpali obrolan para majikannya, dan fokus pada makanannya juga pada nona An.


"Ya, Han bawa saja An, aku dukung." seloroh tuan Bisseling.


"Aku ini jarang di rumah bukan di bela malah di pojokan," protes Lancelot.


"Bukannya tuan duduk di kursi, siapa juga yang nyuruh tuan duduk di pojokkan," seloroh Hanifah tiba-tiba.


"Bukan di pojokkan Han, maksudku di sudutkan," jelas Lancelot.


"Sudut mana Tuan?" tanya Hanifah.


"Sudut hatimu," sahut Lancelot menggoda.


"Sayangnya hatiku bulat dan tidak ada sudutnya," jawab Hanifah asal.


"Sejak kapan hati berbentuk bulat? setahuku seperti dalam ilmu biologi, tidak ada hati berbentuk bulat," sahut Lancelot.


"Sejak saya lahir menurut orang tua saya, hati saya itu buat tidak bersudut."

__ADS_1


"Menarik nih!" ucap Lancelot bahagia.


__ADS_2