
Keluarga Bisseling sepulang dari rumah sakit, mereka berkumpul di kamar Lancelot yang sekarang menjadi kamar nona An dan Hanifah kecuali tuan Bisseling, tuan Bisseling langsung masuk ruang kerjanya karena harus mengambil alih pekerjaan Lancelot, yang belum usai. Hanifah, nyonya Bisseling dan Garnier mereka menemanj nona An, yang masih sibuk bermain.
"Han, aku mau tanya sesuatu ke kamu?" tanya Garnier bimbang.
"Silakan nyonya," sahut Hanifah sambil mengawasi nona An.
"Bagaimana perasaanmu dengan adikku?" tanya Garnier langsung pada intinya.
"Maksud nyonya?" tanya Hanifah.
"Aku, yakin adikku sangat menyayangi dan mencintaimu, entahlah perasaanku mengatakan jika ada ikatan batin antara kamu dan Lanc, namun kamu yang tidak menyadarinya, tadi Aku mendengar semua ucapanmu, jika apa yang aku dengar itu benar, aku sangat bahagia, Lanc, pasti bisa segera sadar." ucap Garnier masih menahan kepedihannya.
"Mama, sependapat denganmu Nier, Han kami harap kamu bersedia datang menjenguk dan mendoakan Lanc," tambah nyonya Bisseling.
"Han, sebenarnya apa permintaan Lanc, padamu?" tanya Garnier.
Hanifah tidak langsung menjawab karena Hanifah, tidak yakin dengan mimpinya semalam dan apa yang di ucapkan tadi juga tidak sadar, Hanifah hanya menuruti hatinya tentang mimpinya semalam.
__ADS_1
"Han, katakan pada kami." pinta nyonya Bisseling.
"Maaf nyonya, saya takut jika nyonya tidak percaya malah mengira saya mengada-ada," ucap Hanifah pada akhirnya.
"Katakan Han," pinta nyonya Bisseling.
"Iya, Han katakan pada kami, kami berhak untuk tahu." pinta Garnier memelas.
"Begini nyonya, semalam saya bermimpi bertemu dengan tuan di taman, tuan mengatakan jika tuan ingin istirahat sebentar untuk mencari jati dirinya, dan tuan juga mengatakan jika tuan sangat menyukai doa-doa yang saya panjatkan setiap kali mendengar doa dari saya hati tuan terasa tenang dan damai, tuan menyuruh saya untuk menunggunya dan selaku melantunkan doa untuknya, tuan berperan jika tian pasti kembali dan meminta saya untuk menunggunya." beber Hanifah.
"Nyonya." suara Hanifah tercekat melihat reaksi nyonya Bisseling.
"Kenapa mimpimu sama dengan mimpiku semalam, Han, pesan Lanc, persis dengan apa yang kamu ceritakan barusan, tetaplah di sini bersama kami jadilah bagian keluarga kami," pinta nyonya Bisseling.
"Jujur Han, tadi Aku terkejut mendengar ucapanmu di kamar Lanc tadi, sebab tadi pagi mama menceritakan persis seperti yang kamu ceritakan, sekarang kami tambah yakin kamulah kekuatan Lanc, kamulah harapan Lanc, kamulah pilihan Lanc dan An keponakanku." tambah Garnier bersungguh-sungguh.
"Saya akan tetap berdoa untuk tuan Lancelot, apa yang saya lakukan semata-mata karena rasa sayang saya pada nona An, dan kalian semua, karena di sini kalianlah keluarga saya," ucap Hanifah.
__ADS_1
"Kami, tahu akan hal itu Han, dan secepatnya kami akan menemui agenmu untuk memperpanjang kontrak kerjamu, selama Lanc, belum sembuh kalian tanggung jawab kami, terima kasih Han," ucap nyonya Bisseling.
Ketiga wanita itu larut dengan pikirannya masing, antara sedih dan senang. Jam sembilan tiga puluh menit nyonya Bisseling dan Garnier meninggalkan kamar Hanifah, mereka menuju kamar masing-masing. Sedangkan Hanifah menidurkan nona An, karena nona An sudah ngantuk. Setelah nona An, tidur Hanifah melakukan kegiatan rutinnya melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim, Hanifah dengan khusuk memanjatkan doa khusus buat Lancelot.
Nyonya Bisseling setelah ganti baju tidur dia menemui tuan Bisseling yang masih berkutat dengan komputernya.
"Pa, sudah malam sebaiknya papa istirahat saja." ucap nyonya Bisseling lembut.
"Papa tidak bisa istirahat dengan tenang Ma, melihat keadaan Lanc, seperti sekarang," ucap tuan Bisseling dengan nafas berat.
"Semua akan baik-baik saja pa, yakinlah Lancelot pasti segera bangun," ucap nyonya Bisseling.
"Dokter juga mengatakan hal begitu, papa benar-benar tidak tega melihat tubuhnya yang di penuhi alat medis, anak itu tidak pernah sakit sekalinya sakit sebagai orang tua seolah membuatku tidak berguna." desah tuan Bisseling menyimpan sebuah kepedihan yang mendalam.
"Kita harus kuat Pa, sudah menjadi jalan takdir kita." nyonya Bisseling berusaha menguatkan tuan Bisseling yang sedang mulai goyah.
Tuan dan nyonya Bisseling mereka saling menguatkan satu sama lain, dalam menghadap situasi yang sangat rumit seperti sekarang.
__ADS_1