
Mereka berada di dalam department-store sudah hampir satu jam Garnier dan nyonya Bisseling sudah mendapatkan apa yang diinginkan namun tidak dengan Hanifah, di toko tersebut Hanifah tidak menemukan sesuatu yang pas di hati Hanifah.
"Dompet kecil saja seharga satu ekor kambing besar." gumam Hanifah dalam hati.
"Han, kamu gak jadi beli oleh-oleh?" tanya Lancelot.
"Semua mahal-mahal tuan." jawab Hanifah jujur.
"Oh." sahut Lancelot paham.
Lancelot menyuruh Hanifah untuk mendorong stroller nona An, Lancelot dengan teliti memilih tas, baju dan juga sepatu. Lancelot dengan santainya menanyai Hanifah warna dan ukuran yang sesuai dengan Hanifah. Lancelot menyuruh Hanifah untuk mencoba beberapa sepatu dan juga baju sedangkan Garnier, Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling sudah sibuk dengan sendirinya.
"Han, seberapa besar postur tubuh orang tuamu?" tanya Lancelot pada Hanifah.
"Tidak begitu besar tuan, standard saja." jawan Hanifah jujur.
"Tinggi dan berat badan berapa?" tanya Lancelot lagi.
Hanifah menjawab dengan jujur, Lancelot memilihkan baju yang sesuai untuk kedua orang tua Hanifah, dan juga beberapa dompet untuk keluarga Hanifah dan teman Hanifah.
"Nona tolong total semua yang saya pilih ini." pinta Lancelot pada pelayan toko tersebut.
"Baik tuan." jawan pelayan toko tersebut ramah.
Lancelot memang membeli banyak sekali oleh-oleh, Lancelot selain beli untuk pekerjanya dia juga beli untuk keluarga Hanifah tanpa sepengetahuan Hanifah. Hanifah tidak paham jika keluarganya juga masuk dalam jatah oleh-oleh, Hanifah terlalu bingung untuk memilih oleh-oleh.
"Han, masih ada yang ingin kamu beli?" tanya Lancelot pada Hanifah.
"Tidak, usah tuan, saya tidak jadi beli oleh-oleh." jawab Hanifah.
__ADS_1
"Setelah ini kita beli makanan khas London, kamu mau beli apa beli saja, toh pakai uangku dulu." ucap Lancelot, tinggal potong gaji bereskan," Lancelot menawarkan pada Hanifah.
"Baik, Tuan." sahut Hanifah waowu masih ragu.
Lancelot segera membayar apa yang di belinya tadi beberapa kantong tas kertas sudah siap untuk dijinjing, Lancelot menaruh barang belanjaannya di stroller sekarang mereka menuju sebuah toko yang menjual khas makanan London. Di toko tersebut Hanifah memilih beberpa makanan yang akan di berikan ke Tatuk, kalau harga makanan masih bisa di tolelir karena Hanifah tidak memiliki banyak teman maka Hanifah hannya beli sedikit saja.
Setelah selesai belanja Lancelot dan Hanifah langsung kembali ke hotel, namun tidak dengan Garnier, nyonya Bisseling dan tuan Bisseling mereka bertiga masih ingin berbelanja. Saking asyiknya berbelanja tidak terasa waktu sudah berganti menjadi sore nona An juga sudah terlihat kelelahan. Lancelot memutuskan untuk kembali ke hotel dengam menggunakan taxi, barang belanjaan Lancelot banyak sekali sehingga beberapa tas kertas di taruh di mobil Garnier.
Sesampainya di hotel, Lancelot mendorong stroller nona An langsung menuju ke kamar yang di tempat oleh Hanifah dan nona An. Lancelot dan Hanifah bak satu keluarga kecil yang bahagia, walau usia Lancelot jauh di atas Hanifah namun tetap kelihatan serasi. Begitu sudah masuk di kamarnya Lancelot menaruh barang belanjaannya tadi di atas meja yang ada di kamar, sedangkan Hanifah sibuk membantu nona An untuk mandi, karena udara di luar panas sehingga membuat badan berkeringat. Tidak sampai setengah jam nona An sudah cantik dan juga wangi, Lancelot sangat mengagumi putrinya, di bawah pengasuhan Hanifah nona An benar-benar bagai anak yang di asuh oleh ibu kandungnya sendiri.
"Han, kamu mandi saja dulu, biar aku yang jaga An." ucap Lancelot.
"Baik Tuan." sahut Hanifah "Nona, mama mandi dulu ya, Nona sama papa dulu, mama cepat kok mandinya." pamit Hanifah pada nona An, mendengar ucapan dari Hanifah nona An mengangguk tanda mengerti.
Hanifah segera mandi, tentu Hanifah mandi dengan menggunakan ilmu mandi bebek, selesai mandi Hanifah kembali menemani nona An, sedangkan Lancelot kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi dan juga ganti baju untuk bersantai.
Bercanda, bercengkerama mewarnai sore mereka bertiga, suara tawa dan tangis sangat mendominasi kamar Hanifah, hari ini Lancelot benar-benar bisa tertawa lepas, tidak seperti hari-hari sebelumya.
"Han, kita pesan makanan saja, aku malas untuk keluar," ucap Lancelot.
"Baik tuan." sahut Hanifah seperti biasanya.
Jam sembilan malam bel kamar Hanifah berbunyi, Lancelot segera bangkit berdiri Sam melihat siapa yang datang, di depan pintu sudah ada tuan dan nyonya Bisseling, sedangkan Garnier harus pulang untuk mengurus keluarganya.
"Masuk, Ma, Pa." Lancelot mempersilakan kedua orang tuanya untuk masuk.
"Baiklah aku hanya sebentar karena kami juga capek, kami hanya ingin mengucapkan selamat tidur untuk cucuku." ucap nyonya Bisseling berjalan menghampiri nona An dan Hanifah yang sedang bermain di atas ranjang.
"Selamat malam nyonya." sapa Hanifah sopan.
__ADS_1
"Malam, Han, malam cucu nenek belum tidur ya." sapa balik nyonya Bisseling dengan senyum manisnya "Bagaimana, keadaan kamu dan cucuku hari ini Han?" tanya nyonya Bisseling.
"Semua baik-baik saja nyonya, hanya tadi nona An sedikit rewel karena kecapek-an." sahut Hanifah santai.
"Selamat tidur, segera istirahat sebab besok kita akan kembali ke negara Hongkong." ucap nyonya Bisseling.
"Selamat istirahat cucu kakek, jangan rewel cepat istirahat." ucap tuan Bisseling penuh kasih.
Tuan dan nyonya Bisseling kembali ke kamarnya sendiri setelah mengucapkan selamat tidur untuk cucunya.
Hanifah sudah kembali sibuk dengan aktifitasnya untuk bertanggung jawab atas persiapan tidur nona An. Hanifah menyusui dulu nona An sebelum nona An tidur, setelah minum susu Hanifah mengajari nona An untuk mengucapkan selamat malam pada Lancelot. Nona An benar-benar nurut perintah dari Hanifah, Lancelot mencium pipi nona An sebelum nona An tidur.
"Selamat, mimpi yang indah sayang." ucap Lancelot "Han, Jika nanti An sudah tidur kamu temui aku di sini." pinta Lancelot pada Hanifah.
"Baik tuan." sahut Hanifah sopan.
Hanifah segera menggendong nona An untuk segera naik di atas ranjang, tidak butuh waktu lama nona An sudah terlelap dalam mimpinya, sebenarnya Hanifah juga sudah mengantuk namun karena Lancelot menunggunya maka Hanifah turun dari ranjang dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Lancelot.
"Tuan." sapa Hanifah.
"An, sudah tidur?" tanya Lancelot.
"Sudah tuan." sahut Hanifah sopan.
"Maaf, telat ini kado untukmu selamat ulang tahun, semoga kamu suka dengan kadonya, terima kasih kamu sudah menyayangi An seperti kamu menyayangi anakmu sendiri." ucap Lancelot pada Hanifah sambil menyodorkan satu kotak kecil berwarna merah.
"Terima kasih tuan." sahut Hanifah ragu sambil menerima hadiah dari Lancelot.
"Bukalah jika kamu tidak suka bisa kita tukar dengan benda yang lain." ucap Lancelot dengan senyum penuh kebahagiaan karena Hanifah mau menerima.
__ADS_1