Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 56


__ADS_3

Acara makan siang berjalan sangat santai mereka berempat saling melemparkan candaan, Tuan Bisseling yang selama ini menolak kehadiran nona An sudah mulai membuka hatinya untuk kehadiran nona An, Tuan Bisseling juga sudah mulai mau berbicara dengan Lancelot, dan juga mau bercanda dengan Hanifah.


"Di sini yang paling disayangi cucuku itu Hani." celetuk tuan Bisseling di sela-sela makan siangnya.


"Tidak begitu Tuan," sahut Hanifah merasa tidak enak dengan Lancelot.


"La memang benar, aku yang papa kandungnya saja bisa ter-eliminasi, apa lagi papa dan mama, seribu kali mamggil mama hanya sekali mamggil papa itupun hanya Hani yang bisa membujuknya, aku berulang kali mengajarinya namun tidak pernah berhasil." Lancelot mengadu pada kedua orang tuanya.


Tuan Bisseling dan nyonya Bisseling bukannya simpati pada Lancelot malah tertawa cekikikan mendengar aduan dari Lancelot.


"Tentu An, sangat sayang Hani, dua puluh empat jam An, bersama dengan Hani, sedang kamu belum tentu seminggu sekali menemani An, dua puluh empat jam, paling setengah hari dalam seminggu," ujar nyonya Bisseling.


"Han, jika kamu pulang Indonesia kamu bawa saja An, aku rasa jika kamu tidak ada bisa-bisa cucuku masuk rumah sakit," gurau tuan Bisseling.


Hanifah tidak menjawab hanya menanggapi dengan sebuah senyuman, sambil terus menikmati makan siangnya.


"Ya, biar Hani, tidak usah pulang saja, kalau An, belum besar." ujar Lancelot enteng.


"Ya, tidak bisa begitu Tuan, sayakan ada orang tua yang harus saya jenguk, bagaimanapun saya akan tetap pulang ke Indonesia," sahut Hanifah sopan.

__ADS_1


"Sewaktu-waktu kamu ambil cuti boleh, asal An sudah tidak minum ASI lagi, tolong beri ASI exclusive untuk putriku selama dua tahun ini saja, setelah itu terserah kamu aku tidak akan bisa mengekangmu," ungkap Lancelot penuh harap.


"Jangan khawatir Tuan, kontrak sayakan di sini dua tahun, dan saya tidak akan memutus kontrak saya di tengah jalan, apalagi gaji saya di sini sangat besar mana mungkin saya bisa membayar denda jika saya memutus kontrak." jawab Hanifah santai.


"Usiamu berapa Han?" tuan Bisseling bertanya pada Hanifah.


"Tahun ini, dua puluh lima tahun Tuan," jawab Hanifah jujur.


"Masih sangat muda, usia berapa kamu menikah ?" tanya tuan Bisseling lagi.


"Dulu saya menikah usia dua puluh tahun tuan," jawab Hanifah jujur.


"Pantas, saja." jawab tuan Bisseling.


Lancelot duduk di sofa sambil memainkan hand phone-nya, namun lama kelamaan mata Lancelot juga merasakan yang namanya hawa kantuk, Lancelot malas untuk keluar akhirnya Lancelot tertidur di sofa yang ada di kamar Hanifah.


Tuan dan nyonya Bisseling juga menghabiskan waktunya di kamarnya sendiri bedanya tuan dan nyonya Bisseling duduk di sofa yang ada di kamarnya sendiri sambil membahas tentang Putranya dan cucunya.


"Ma, papa ada ide bagaimana jika Lancelot dan Hanifah kita nikahkan saja, dengan begitu amankan, kita tidak perlu bingung untuk menjawab pertanyaan An, jika dia dewasa nanti." tiba-tiba tuan Bisseling mengeluarkan sebuah usulan konyol.

__ADS_1


"Jangan egois, Pa, Papa dengar sendiri bagaimana tadi Hani menjawab pertanyaan dari kita, kalau soal Lanc, aku tahu dia sudah memulai membuka hatu untuk Hani, namun kamu tahu kan anakmu itu gengsi, sedangkan Hani juga bukan tipe wanita kebanyakan, dia tidak mudah untuk bisa menerima laki-laki macam anak kita itu Pa, walau anak kita itu kaya dan keren, jika wanita itu yang di lihat kaya dan keren Hanifah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendapatkan Lancelot, nyatanya satu tahun bersama sama sekali tidak ada tanda-tanda Hanifah merayu atau mendekati Lancelot," jelas nyonya Bisseling panjang lebar.


"Benar juga itu sebabnya aku sangat tertarik dengan kepribadian Hanifah, Satu-satunya alasan kuat bagi mereka untuk bisa menikah adalah An, ya An, kuncinya ada pada An," ucap tuan Bisseling berapi-api.


"Kalau itu mama setuju, lihat saja sekarang, oh ya besok ulang tahunnya Hani, kalau Lancelot tidak menyukai Hani, tidak mungkin dia memiliki rencana membuat kejutan untuk Hani," ujar nyonya Bisseling.


"Tentu, papa paham itu, sebaiknya kita keluar jalan-jalan biar gak suntuk," ujar tuan Bisseling mengajak istrinya untuk jalan-jalan.


"Baiklah." sahut nyonya Bisseling menyetujui.


Tuan Bisseling dan nyonya Bisseling jalan-jalan, entah kemana saja namun masih berada di area perhotelan. Di saat sedang jalan-jalan Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling bertemu dengan Garnier yang sedang menikmati liburannya dengan keluarganya.


"Lanc dan Hani kemana Pa, Ma?" tanya Garnier antusias.


"Mungkin mereka tidur, tadi Hani pamit mau tidur soalnya An masih tidur, dan Hani sepertinya kelelahan, " jelas nyonya Bisseling.


"Oh, pantesan Lanc, aku telpon dari tadi hand phone-nya tidak ada yang jawab." ucap Garnier.


"Dari tadi adikmu tidak mau di ganggu, katanya mau menemani An, sekarang saja dia berada di kamar An," jelas tuam Bisseling.

__ADS_1


"Bagus kalau begitu." jawab Garnier senang.


Tuan dan nyonya Bisseling akhirnya jalan-jalan dengan keluarga Garnier, Garnier mengajak anak dan orang tuanya berjalan-jalan di kota London, yang berada di sekitar hotel. Anak Garnier terlihat sangat bahagia ketika ada opa dan omanya ikut dalam acara jalan-jalannya. Anak Garnier sangat antusias ketika tahu opa dan omanya ikut bermain dengannya, pasalnya sangat jarang sekali oma dan opanya bisa mengunjunginya dan menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak Garnier.


__ADS_2