Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 151


__ADS_3

Kedatangan rombongan Hanifah di sambut bahagia oleh sanak kadang Hanifah, beberapa tetangga dan kerabat dekat Hanifah, mereka segera menyambut kedatangan Hanifah dengan antusias. Hanifah dengan senang hati dan ramah menyalami, menjawab kabar maupun bertanya kabar pada mereka yang sudah berjajar di halaman rumah orang tua Hanifah.


Lancelot, tuan dan nyonya Bisseling serta Dandruff sangat keheranan dengan perilaku tetangga dan kerabat Hanifah. Setelah bersalaman pada beberapa kerabat dan tetangganya, Hanifah dengan yang lainnya segera masuk rumah. Di dalam rumah orang tua Hanifah sudah berjajar rapi dua set sofa walau tidak baru namun masih cukup bagus, dan rumah orang tua Hanifah tergolong bersih dan rapi.


Keluarga Bisseling tidak pernah menyangka jika di balik penampilan rumah orang tua Hanifah yang sangat sederhana, ternyata di dalam rumah Hanifah, sangat luas, sebagai rumah joglo kuno tentu memiliki ruang tamu yang sangat luas dan lebih dari satu set sofa, dan juga tedapat lemari hias lengkap dengan televisi dengan ukuran sedang. Rumah keluarga Hanifah, masih tergolong tradisional, dinding rumah orang tua Hanifah, juga masih terbuat dari papan kayu, dengan di plitur saja warna coklat terang, sehingga menjadikan suasana rumah lebih terang.


"Selamat datang di kediaman kami Tuan, nyonya, maaf jika penyambutan kami belum layak." ucap Legi sopan dan merendah.


"Tuan, kami merasa terhormat sekali dengan penyambutan tuan dan nyonya, kami tidak pernah menyangka jika tuan dsn nyonya memiki pekerja yang banyak, mereka sangat sopan, dan ramah sekali." sahut tuan Bisseling sopan.


"Maaf, tuan mereka itu bukan pekerja kami, mereka semua kerabat dekat maupun tetangga dekat kami, karena kami hidup di kampung, jadi setiap kali kami baru datang dari luar negeri mereka selalu menyambut kami penuh suka cita, doa terbaik selalu mereka lontarkan untuk kami." jelas Hanifah.


"Orang, kita memang begitu Tuan, mereka selalu menanyakan kabar keselamatan bagi para perantau yang baru kembali ke kampung halamannya, apalagi dari para tetangga jika Hanifah dan orang tuanya termasuk orang terpandang," jelas Setu Pon.


"Maksudnya terpandang bagaimana, apa mereja di anggap kaya atau bagaimana?" tanya Lancelot penasaran.


"Mereka memandang karena kebaikan serta keloyalan orang tua Hani, menurut info yang saya dapat, dari dulu hingga kini orang tua Hanifah, termasuk orang yang sangat suka berbagi rejeki, itu sebabnya tanpa di minta mereka ingin mengucapkan doa selamat." terang Setu Pon.

__ADS_1


"Begitu rupanya, aku sudah menyangkanya dari dulu." ucap tuan Bisseling menimpali ucapan Setu Pon.


"Lumah oma mama antik." komentar nona An polos.


"Antik kenapa nona?" tanya Hanifah.


"Banyak pohonnya, sepelti Lumah talsan, aku suka aku mau ketemu talsan." celetuk nona An, sangat antusias.


"Maafkan ucapan An, ya Han." nyonya Bisseling meminta maaf atas nama nona An, karena takut menyinghung perasaan Hanifah dan keluarganya.


Mereka sangat menikmati kebersamaan di rumah orang tua Hanifah, apalagi beberapa camilan khas Indonesia sudah tersedia di atas meja beberapa piring dan juga beberapa pilihan makanan tradisional khas Indonesia, ada lumpia, risoles, pisang goreng, ketela goreng, pisang yang masih utuh satu sisir, serta buah yang berasal dari kebunnya sendiri, ada pepaya, belimbing, ada jambu kristal, jambu air, semua hasil kebun sendiri.


Melihat menu suguh yang banyak sekali membuat, Lancelot, Dandruff, tuan dan nyonya Bisseling sangat keheranan, padahal mereka belum menaruh pantatnya semua suguh sudah datang, mereka tetangga yang dengan sukarela membantu saudara yang membutuhkan.


Nona An, dia tidak sabar mengajak Hanifah untuk pergi ke pekarangan, samping rumah orang tua Hanifah sebuah pekarangan yang di tanami beberapa pohon apel. Hanifah setelah pamit pada yang lain, Hanifah segera mengajak nona An pergi ke pekarangan.


"Ma, bagus sekali banyak sekali pohonnya, dingin!" seru nona An, girang.

__ADS_1


"Hati-hati sayang!" seru Hanifah.


Nona An, sangat kagum bisa melihat banyak pohon secara langsung dan berbagai macam jenis pohon, Hanifah dengan telaten menemani nona An, memberi tahu dan menjelaskan secara terpeeinci untuk mengenal langsung alam sekitar. Nona An, keheranan begitu melihat pohon apel yang sangat lebat buahnya dan metiknya tidak perlu manjat pohon untuk mendapatkan buah apel segar.


"Ma, buahnya banyak sekali!" seru nona An, girang sekali.


"Iya, sayang tapi tidak boleh asal petik, kalau mau metik kita harus cari yang sudah tua sayang, biar kita mendapat yang manis." Hanifah berusaha menjelaskan pada nona An, yang baru pertama kali melihat pohon apel secara langsung.


"Ma, kalau yang ini apa?" Nona An, menunjuk pada pohon belimbing.


"Ini, namanya pohon belimbing," sahut Hanifah penuh kesabaran.


Hanifah dan nona An, sangat senang sekali bisa menikmati kebersamaannya di Alam bebas, biasanya nona, An hanya bermain di taman saja, tanpa mereka sadari tuan dan nyonya Bisseling serta Lancelot, Dandruff mengamati gerak gerik Hanifah dan nona An.


"Mereka sangat serasi, lihatlah Lanc, apa kamu tega memisahkan Hani dengan anakmu, mama sendiri tidak tahu harus bagaimana jika Hani tidak berada di tengah-tengah kami." ucap nyonya Bisseling penuh harap.


"Semua akan baik-baik saja ma, tidak ada pilihan lagi aku akan segera menikahi Hanifah secepatnya, bukankah tadi kedua orang tua Hanifah sudah menyetujui lamaran kita, dan aku yakin Hani, tipe wanita penurut pada kedua orang tuanya." balas Lancelot percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2