
Pesawat yang di tumpangi Lancelot mendaraat dengan selamat di bandara Internasional yang ada di negara Indonesia, Lancelot merasakan ada perbedaan hati dan perasaannya antara dulu dan sekarang, kali ini sebenarnya bukan pertama kalinya Lancelot, datang ke Indonesia namun kali ini Lancelot benar-benar merasakan sebuah kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sejak dulu kala. Berada di Indonesia Lancelot seperti menemukan sebuah aura dan warna yang berbeda.
Lancelot begitu pesawat sudah mendarat dengan sempurna dan sudah turun dari pesawat Lancelot segera menghidupkan hand phone-nya, orang pertama yang di hubungi oleh Lancelot adalah Hanifah, Lancelot menghubungi Hanifah dengan alasan ingin tahu keadaan nona An. Lancelot dan Hanifah berbicara beberapa saat dan yang mereka bahas tidak jauh tentang nona An, selain ngobrol dengan Hanifah dan nona An, Lancelot juga ngobrol dengan nyonya Bisseling yang memang kebetulan sedang bersama dengan Hanifah dan nona An berada di kamar Lancelot.
Selesai menghubungi Hanifah, Lancelot juga tidak lupa menghubungi Dandruff, Lancelot mengabarkan jika dia sudah mendarat di bandara dan sekarang menuju imigrasi, setelah keluar dari imigrasi Lancelot sudah dijemput oleh utusan dari partner kerjanya. Lancelot segera diantar ke hotel tempatnya menginap, sesampainya di hotel Lancelot segera mengambil kunci dari receptionis karena Dandruff sudah menyediakan semua untuk Lancelot.
Lancelot segera merebahkan diri di atas kasur setelah menaruh dan menyimpan barang bawa-annya, Perasaan lega menyelimuti hati dan perasaan Lancelot, hingga tanpa Lancelot sadari dia sudah tertidur dengan sendirinya.
Hanifah tuan dan nyonya Bisseling Bisseling serta nona An setelah menyantap makan malamnya mereka duduk bersantai di ruang tengah, nona An yang baru mulai bisa mengoceh membuat orang di sekitarnya sangat gemas. Tuan Bisseling yang selama ini jarang sekali bartemu dan melihat nona An kini mereka bersendau gurau dan sangat dekat sekali, riuh tawa serta jeritan dari nona An sangat mendominasi ruangan tersebut.
"Ma, Lanc, apa sudah memberi kabar?" tanya tuan Bisseling.
"Sudah, tadi begitu mendarat dia langsung menelpon Hani," sahut nyonya Bisseling jujur.
"Bagus," sahut tuan Bisseling senang "Han selama beberapa hari ini kalian sekamar, apa anakku berulah atau pernahkah dia ingin bebuat kurang ajar padamu?" tanya tuan Bisseling penuh selidik.
"Tidak ada tuan, biarpun kami sekamar tuan tidak pernah berbuat kurang ajar pada saya, di antara kami juga tidak ada yang istimewa Tuan, semua masih normal seperti biasa," sahut Hanifah tenang memang begitu kenyatannya.
"Lancelot, itu anakku jika dia berbuat kurang ajar padamu katakan saja pada kami, kami tidak ingin memiliki keturunan yang bisa merusak wanita." jelas tuan Bisseling.
"Baik tuan," sahut Hanifah sopan.
__ADS_1
"Ma ma ma ma." celoteh nona An yang menghampiri Hanifah dan memeluk Hanifah dengan mulut yang sering kali menguap.
"Sayang sudah ngantuk ya, ayo kita tidur pamit dan cium sama oma dan opa," perintah Hanifah pada nona An nona An menggelengkan kepala "Ayo sayang kasih ciuman selamat malam pada oma dan opa, setelah itu mama temani tuan Putri tidur lihatlah oma dan opa sayang sekali bukan sama tuan Putri mama." Hanifah merayu dan memberi pengertian pada nona An, lembut dan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu biar oma yang cium cucu oma duluan ya," ucap nyonya Bisseling bahagia.
"Ayo sayang, tuan Putri yang cantik harus nurut dong sama mama kalau gak nurut mama marah lo, ayo sayang Ci oma dan opa," rayu Hanifah pada nona An.
"Ma mama."celoteh nona An.
Nona An, menuruti perintah Hanifah, nona An mencium nyonya Bisseling dulu setelah selesai mencium nyonya Bisseling nona An mencium tuan Bisseling tentu dengan di ikuti ucapan selamat malam yang keluar dari mulut Hanifah.
"Tuan, Nyonya saya dan Nona naik ke atas dulu, selamat malam selamat tidur." ucap Hanifah sopan dan lembut.
"Nyonya istirahat saja biar saya dan nona An saja." tolak Hanifah sopan, Hanifah tidak tega melihat nyonya Bisseling harus mondar-mandir, apa lagi usia nyonya Bisseling tidak lagi muda.
"Kamu tenang saja Han, aku masih kuat untuk jalan." nyonya Bisseling paham maksud dari tolakan Hanifah.
"Iya, Han biar nyonya menemani mu." tambah tuan Bisseling.
"Baiklah," sahut Hanifah lembut.
__ADS_1
Hanifah menggendong nona An, sedangkan nyonya Bisseling berjalan berjajar dengan Hanifah sambil menggoda nona An.
"An, malam ini Mama Hani tidur sama Oma ya An tidur sendiri atau An ynh tidur sama Oma," goda nyonya Bisseling. Nona An segera memeluk erat Hanifah sambil menggelengkan kepala, nyonya Bisseling tertawa melihat tingkah nona An. "Rupanya, An tidak mau berbagi mama dengan omanya?" ujar nyonya Bisseling.
Mereka naik ke lantai empat dengan menaikki lift yang ada di rumah keluarga Bisseling, selama dalam perjalan menuju kamar Lancelot nyonya Bisseling tidak henti-hentinya menggoda Hanifah. Sesampainya di kamar Lancelot Hanifah segera membantu nona An untuk ganti baju, cuci tangan, cuci muka dan gosok gigi. Nyonya Bisseling dengan asyiknya tetap menemani Hanifah dan nona An hingga nona An benar-benar terlelap dalam alam mimpinya.
"Han, istirahatlah malam ini tidur berdua hanya dengan An tidak apa-apa kan?" tanya nyonya Bisseling.
"Tidak apa-apa nyonya." sahut Hanifah sopan.
"Baiklah selamat istirahat selamat malam, ada apa-apa pencet tombol atau telpon kami." pesan nyonya Bisseling sebelum meninggalkan Hanifah dan nona An yang berada di kamar Lancelot.
"Terima kasih Nyonya, selamat malam dan selamat istirahat," sahut Hanifah sopan dan lembut.
Nyonya Bisseling melangkah keluar menuju pintu untuk meninggalkan Hanifah dan nona An yang berbaring di atas ranjang Lancelot.
"Mama tidak pernah menyangka kamu bakal membawa wanita masuk dalam kamarmu bukan hanya masuk tapi kamu malah membiarkan wanita itu untuk menempati kamarmu, mama harap tidak ada wanita lain selain Hani." gumam nyonya Bisseling dalam hati sambil menutup pintu kamar Lancelot.
Nyonya Bisseling kembali di kamarnya sendiri, tuan Bisseling sudah menanti di kamar sambil memainkan i pad-nya"Am dan Hani susah tidur Ma?" tanya tuan Bisseling ketika melihat nyonya Bisseling masuk di kamarnya.
"An, sudah tidur tapi Hani, belum." sahut nyonya Bisseling duduk "Mama tidak pernah menyangka jika Lanc, bakal membiarkan Hani dan An menempati kamarnya, mama rasanya bahagia pa, rumah ini tidak sepi lagi, walau kebahagiaanku belum sempurna, minimal Lanc, sudah berusaha membuka hati untuk wanita." ujar nyonya Bisseling dengan raut wajah yang memancrakan kebahagiaan.
__ADS_1
"Papa juga merasakan hal yang sama, sekarang kuncinya pada Hani, semoga impian kita bisa terwujud ma." ucap tuan Bisseling penuh harap.