
Nyonya Bisseling, Tuan Bisseling Hanifah, nona An dan Joyce, sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ruangan tempat Lancelot di rawat.
"Tuan nyonya, boleh saya berdoa untuk kesembuhan tuan Lanc, di dekat tuan Lanc?" Hanifah minta ijin pada tuan dan nyonya Bisseling.
"Tentu boleh Han, aku sangat bersyukur sekali jika kamu mau berdoa untuk kesembuhan Lanc," ucap nyonya Bisseling haru "Kita tidak boleh masuk bersamaan, aku sama tuan masuk duluan setelah itu, kamu dan An, aku yakin Lanc, sangat menginginkan kehadiran kalian berdua." ucap nyonya Bisseling.
"Baik Nyonya, terima kasih." Hanifah bersyukur karena sudah mendapat ijin dari nyonya Bisseling.
Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling dia masuk duluan untuk menjenguk Lancelot yang masih terbaring di ruang ICU, tuan dan nyonya Bisseling berada di dalam selama lima belas menit, setelah lima belas menit tuan Bisseling keluar, namun nyonya Bisseling masih tetap berada di dalam ruang ICU.
"Han, kamu dan An masuklah, nyonya menunggu kalian di dalam!" perintah tuan Bisseling pada Hanifah yang duduk di kursi depan ruang ICU.
"Baik, Tuan." Hanifah langsung bangkit berdiri sambil menggendong nona An,.
__ADS_1
"Jangan lupa pakai bajunya, ambil di tempat suster jaga." tuan Bisseling mengingatkan Hanifah.
"Baik, tuan, kak Joyce aku tinggal dulu."
Joyce menyahut dengan anggukan, Hanifah meninggalkan Joyce dan tuan Bisseling yang tengah berada di depan ruang ICU. Hanifah memakai baju khusus untuk menjenguk pasien, setelah menakai baju khusus Hanifah dah nona An, masuk dengan di antar oleh suster jaga.
"Nyonya!" sapa Hanifah pada nyonya Bisseling lirih.
"Entah sampai kapan? Lanc, akan sembuh." keluh kesah nyonya Bisseling.
Hanifah tanpa menunggu jawaban dari nyonya Bisseling, dia segera membimbing tangan nona An, untuk memegang tangan Lancelot, yang tidak ada jarum infusnya. Hanifah mulai melafadkan surat Al-fatihah lirih dekat dengan telinga Lancelot, setelah melafalkan surat Al-fatihah Hanifah, melanjutkan surat Yasin, dan tentunya semua di khususkan untuk Lancelot.
Nyonya Bisseling ikut mendengarkan setiap lagad doa yang keluar dari bibir Hanifah, nona An yang biasanya rewel selama Hanifah melafalkan doa untuk Lancelot, nona An, sangat anteng sama sekali tidak rewel. Jika kemarin Lancelot merespon dengan menitikkan airmata saja, kali ini salah satu jari yang di pegang oleh nona An, sedikit bergerak. Nyonya Bisseling yang melihat reaksi dari Lancelot, dia sangat terharu, selama lima belas menit tuan dan nyonya Bisseling mengajaknya bicara namun tidak ada respon dari Lancelot.
__ADS_1
Setelah dua puluh menit Hanifah selesai membacakan doa untuk Lancelot "Tuan, kami semua menunggu Tuan untuk bangun." ucap Hanifah lirih "Lihatlah tuan, nona An, sangat pintar dia hari ini tidak sabar untuk bisa bertemu dengan tuan."
"Lanc, kamu dengarkan? Apa yang Hani, ucapkan Hani, berdoa khusus buat kamu, dan lihatlah An, begitu khusuk mengikuti doa-doa mamanya untuk papanya, aku yakin kamu pasti bangga memiliki Putri yang cantik dan cerdas seperti An." ucap nyonya Bisseling.
"Tuan, setiap hari saya akan bawa nona An, untuk datang ke sini, tuan jangan lama-lama terbaring di sini, kaki semua sangat merindukan tuan." ucap Hanifah, dengan mata berkata-kaca.
Tiga puluh menit Hanifah dan nyonya Bisseling Bisseling berada di dalam ruangan Lancelot, Hanifah dan nyonya Bisseling secara bergantian mengajak Lancelot berbicara walau sama sekali tidak ada respon dari Lancelot. Karena tidak boleh teaku lama berada di ruang ICU, Hanifah dan nyonya Bisseling keluar dari ruang ICU. Mereka menghampiri tuan Bisseling dan juga Joyce yang menunggu di ruang tunggu
"Bagaimana Ma?" tanya tuan Bisseling.
"Masih sama." sahut nyonya Bisseling.
"Dokter menyuruh kita untuk menemuinya, Han, Joyce, kalian tunggu di sini, jika ada apa-apa segera hubungi kami." perintah tuan Bisseling.
__ADS_1
"Baik tuan." sahut Hanifah dan Joyce.
Tuan dan nyonya Bisseling dengan di kawal dua bodyguard melangkah menuju ruangan dokter yang menangani Lancelot secara khusus.