
"Sungguh lucu hidupku itu, mereka yang baru menikah bisa langsung bulan madu la Aku nunggu An, masuk sekolah dulu, lain dari pada yang lain ceritanya, sungguh unik." ujar Lancelot.
"Sudahlah Lanc, kamu sabar dulu puluhan tahun saja kamu bisa menahan, masa nunggu seminggu lagi tidak bisa tahan, dan kamu itu lelaki yang sangat beruntung lo Lanc, menikah dengan wanita yang bisa mengayomi anakmu, kamu ingat bagaimana An, dulu berada di ujung maut, terlambat sedikit saja An, tidak tertolong waktu itu." Garnier mengingatkan masa kecil nona An.
"Dan aku juga masih ingat waktu kamu di hadang anak buah A ling, kamu benar-benar beruntung sekali Lanc, kalau kamu sampai menyia-nyiakan Hani, ingatlah anakmu." ujar Ang mengingatkan Lancelot "Selama kamu terbaring tidak berdaya di rumah sakit istrimu ini yang setia datang dan mendoakanmu, entah kamu tahu atau tidak dia selalu menceritakan tentang An, putrimu di saat berkunjung ke rumah sakit untuk menjengukmu." tambah Ang.
"Terima kasih Ang, sudah mengingatkan semua padaku tentang semuanya, ya aku tahu itu karena aku dapat merasakannya, padahal aku di tolak oleh istriku itu bukan sekali atau dua kali namun berkali-kali, entahlah ada dengan hatiku semakin di tolak oleh istriku justru aku semakin yakin dengan ketulusan cintanya, selama ini aku belum pernah mendapatkan setulus cinta Hani," beber Lancelot "Terima kasih sayang." Lancelot memeluk Hanifah, Hanifah merasa tidak enak dengan mereka jadi hanifah terasa kikuk.
"Ehm ehm." goda Garnier.
"Biarin saja kak Nier, kasihlah Adikmu kesempatan, toh selama ini dia kaku seperti kanebo, biarlah dia mengungkapkan semua cinta kasihnya untuk sang istri, ya mumpung Ang, tisak ada di sini, nanti kalau ada An, sudah pasti Adikmu kalah dengan anaknya." ujar Ang.
"Mumpung An, lagi bersama dengan mama jika kalian mai bikin anak silakan, atau kita lomba saja." gurau nyonya Ang.
"Kalian berdua enak, bisa lomba bikin anak sekarang aku bagaimana? Suamiku lagi keluar sama anak-anak, apa aku yang jadi jurinya?" ujar Garnier semakin nglantur.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak seolah mereka merdeka tidak ada beban di dalam hidup mereka.
__ADS_1
"Tahu gini tadi Aku tidak kesini," ujar Lancelot.
"Mending ke sini bisa sekalian liburan," ucap Hanifah.
"Ngomong-ngomong kalian mau cepat ada momongan apa ditunda dulu?" tanya Garnier.
"Kalau saya tergantung rezeki saja kak, misal di kasih cepat ya alhamdulillah, kalau harus menanti ya sabar dulu." sahut Hanifah santai.
"Kamu bagaimana Lanc?" tanya Garnier.
"Aku ngikut yang mengandung saja, berapapun juga gak masalah asal istriku rela hamil, kadang aku bayangin jika setiap tahun istriku melahirkan jadi lima tahun dapat anak lima, do saat usiaku henwo lima puluh tahun anaku sudah ada enam." ujar Lancelot.
"Aku suka caramu berpikir Han, biar usiamu itu jauh lebih muda dari pada kami, tapi caramu berpikir sungguh sangat dewasa, ngomong sama kamu itu enak, bisa nyambung kalau bahas tentang keluarga, padahal untuk wanita seusia seprti kamu, di jaman sekarang mereka masih memikirkan hura-hura dan bermain, dan yang di kejar materi, padahal kita itu jika tidak punya anak ya repot." jelas nyonya Ang.
"Benar Han, apa yabg di ucapkan oleh nyonya Ang, itu tepat sekali." tambah Garnier meyakinkan.
"Tidak juga nyonya, saya ini masih kurang ilmu nyonya." sahut Hanifah merendah.
__ADS_1
"Sekarang mumpung di sini sebulan lagi kan resepsi di Hongkong, kalian mau menggunakan konsep apa, dan soal video kalian mana yang akan di tampilkan, kirimkan ke aku nanti aku kerjakan sendiri, soal gaun bagaimana ?" tanya Garnier.
"Untuk kostum pesta, aku serahkan padamu saja kak," jawab Lancelot.
"Kamu bagaimana Han?" tanya Garnier.
"Yang simpel dan sederahana saja kak, tidak perlu terlalu glamor, dan untuk penata make up, ada gak yang bisa pasang hijab?" tanya Hanifah ragu.
"Untuk itu aku rasa kamu bawa saja dari sini Han, soalnya aku gak tahu di sana ada apa tidak, bagaimana Ang kamu tahu gak ada panata make up muslim di mana?" tanya Garnier pads nyonya Ang "Karena selama ini yang aku tahu ya, penata make up seperti orang hongkong pada umumnya" tambah Garnier.
"Aku sendiri juga kurang tahu, tapi aku pernah lihat itu di lapangan tempat liburannya para pekerja migran, mereka itu pintar mengaplikasikan tutup kepala dan mirip dengan yang di kenakan oleh Hanifah, kemarin hasil dari tangan mereka itu cantik-cantik," tutur nyonya Ang.
"Kalau mereka pasti bisanya siang gak mungkin malam kan, sedangkan resepsi kita itu malam," jelas Garnier sendiri.
"Sebaiknya bawa MUA yang kemarin saja Han, untuk proses keberangkatan bareng bapak dan ibuk, nanti semua biar di urus oleh Dandruff dan tuan Setu Pon." ucap Lancelot memberi solusi.
"Semoga, jadwalnya tidak bentrok dengan jadwal yang lain, karena sekarang lagi musim pernikahan, biasanya jika waktu seperti sekarang para MUA itu jadwalnya penuh." jelas Hanifah.
__ADS_1
.