
"Mama!" seru nona An.
Hanifah sampai lupa dengan keberadaan nona An yang berada dalam pangkuan Lancelot, yang duduk di kursi roda. Hanifah baru sadar saat nona An, memangilnya mama.
"Maaf, sayang." ucap Hanifah langsung menggendong nona An.
"Oma mama, opa mama." ucap nona An, menunjuk ke arah kedua orang tua Hanifah.
"Iya," jawab Hanifah dengan senyum penuh kasih.
"Sebaiknya kita pulang, sudah sangat siang." ucap Lancelot lagi.
Mereka semua meninggalkan bandara dengan rasa bahagia, terutama Hanifah dia tidak pernah menyangka jika majikannya mendatangkan kedua orang tuanya ke negara Hongkong. Perjalanan dari bandara menuju rumah keluarga Bisseling memakan waktu kurang lebih dua puluh menit.
Kedua orang tua Hanifah sangat takjub melihat indahnya negara Hongkong yang dipenuhi dengan gedung pencakar langit yang sangat tinggi dan berjajar dengan rapi.
__ADS_1
"Han, bagaimana cara naiknya kok gak ada genteng e to Han, kalau hujan bagaimana?" ucap semi heran sambil melihat pemandangan dari jendela mobil " Ini kalau ambruk bagaimana ya?" Semi benar-benar takjub.
"Ada, lifnya seperti yang aku bilang itu lo buk," jawab Hanifah, halus.
Mobil yang di tumpangi oleh Lancelot dan rombongan terparkir rapi di halaman rumah keluarga Bisseling. Tuan dan nyonya Bisseling menyambut mereka dengan senang hati, kedua orang tua Hanifah, takjub untuk ke sekian kalinya setelah melihat kemewahan dan kemegahan rumah keluarga Bisseling. Kedua orang tua Hanifah bengong untuk beberapa saat, apalagi para pekerja juga berjajar menyambutnya dengan ramah.
"Silakan Buk, Pak ini mama saya dan ini papa saya." ucap Lancelot menggunakan bahasa Indonesia walau hanya sepatah atau dua patah kata.
Kedua orang tuan Hanifah masih terbengong-bengong melihat keadaan sekitar.
"Han, kita gak di apa-apa-in kan?" bisik semi.
Dengan sedikit takut dan ragu orang tua Hanifah, masuk kedalam kediaman keluarga Bisseling, beruntung keluarga Bisseling bisa mengerti dengan situasi yang di hadapi oleh kedua orang tua Hanifah. Keluarga Bisseling langsung menjamu seluruh tamunya dengan makananan yang berkelas dan berlabel halal. Acara makan siang berjalan dengan lancar, semua menikmati makanan dengan santai termasuk kedua orang tua Hanifah.
Selesai acara makan malam, mereka semua berkumpul di ruang tengah, antar orang tua Lancelot dan orang tua Hanifah, mereka saling mengenal satu sama lain. Tuan Setu Pon yang menjadi translitor mereka seauia denag permintaan Lancelot, karena ada kalinya Hanifah tudak bisa selalu bisa mendampingi kedua orang tuanya.
__ADS_1
Nona An, sangat antusias bisa ngobrol dengan kedua orang tua Hanifah, pasalnya selama ini antara nona An dan kedua orang tua Hanifah, ngobrol tapi hanya lewat video call saja.
"Setelah ini kita semua akan menginap di hotel, Han kamu juga harus ikut menginap di hotel." perintah Lancelot.
"Kenapa gak di sini saja, kamar di sini banyak yang kosong, gak baik jika mendatangnkan tamu namun di taruh di hotel, kecuali rumah tidak ada tempat." jelas nyonya Bisseling.
"Begini Ma, aku ingin memberi kebebasan pada Hani, selama ini Hani tshunga hanya rumah ini, sekali kali aku ingin mengajak Hani dan anakku menghirup udara segar." jelas Lancelot pada kedua orang tuanya.
"Apa keselamatannya bisa terjamin, aku masih khawatir dengan anka buah A ling, mereka selalu mencari kesempatan untuk melukai Hani dan An." ucap tuan Bisseling.
"Pa, percayakan semua pada Lanc, mereka akan aman." sahut Lancelot meyakinkan kedua orang tuanya.
"Baiklah, jaga mereka jangan sampai mereka terluka," pesan nyonya Bisseling.
"Han, untuk kebutuhanmu dan An, semua sudah di kemas, jadi kita tinggal berangkat saja, yuk kita berangkat."
__ADS_1
Mereka semua meninggalkan kediaman keluarga Bisseling, setelah berpamitan pada tuan dan nyonya Bisseling.
Lancelot memilih hotel mewah yang ada di kota Tsim sat Tsui, Lancelot memilih hotel yang menghadap ke laut sehingga dari dalam kamar bisa menimmati indahnya pemandangan laut, dan tentu kamar yang di pesan Lancelot juga kamar dengan fasilitas VVIP.