Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 109


__ADS_3

Dari sore nona An, rewel terus menerus dan tidak mau lepas dari Hanifah, biasanya mau bermain dengan suster atau nyonya Bisseling kali ini nona An benar-benar di luar kendal rewelnya di cek suhu tubuhnya semua normal, dan sehat, sampai-sampai nyonya Bisseling memanggil dokter Silk untuk memeriksanya dan dokter Silk menyatakan jika nona An, baik-baik saja.


"Han, aku mandi dulu, sus malam ini tolong tidur di sini." ucap nyonya Bisseling.


"Baik nyonya," sahut suster karena jam sidah menunjukkan pukul setengah delapan dan nona An, masih saja rewel.


"Baik, nyonya." sahut Hanifah sopan sambil menggendong nona An, yang masih rewel, tidak mau makan serta tidak mau lepas dari Hanifah. Hanifah menggendong sambil membacakan ayat-ayat Al qur'an serta sholawat lirih di telinga nona An.


Hand phone nyonya Bisseling tidak henti-hentinya berdering, karena nyonya Bisseling sedang berada di kamar mandi sehingga deringan hand phone-nya terabaikan. Salah satu pekerja yang menerima panggilan telpon dari nomor di dalam rumahnya setelah menjawab panggilan tersebut dengan tergopoh-gopoh berlari ke kamar nyonya Bisseling.


"Nyonya... Nyo.... Nyonya...tolong...tol...tolong bu...buk... buka ... Pin... pintu-nya nyo... nya." dengan suara terbata-bata serta nafas yang ngos-ngos-an terus menerus mengetuk pintu kamar nyonya Bisseling dan memanggil manggil nyonya Bisseling, air matanya juga sudah tidak bisa di bendung lagi.


Nyonya Bisseling yang sedang berada di kamar mandi di bawah guyuran air shower begitu mendengar suara dari luar segera menutup kran airnya "Iya, sebentar!" suara nyonya Bisseling dari dalam.


Nyonya Bisseling merasa curiga karena suara pelayannya bergetar, terbata-bata, dan juga di iringi isakan. Nyonya Bisseling segera mengeringkan tubuhnya, serta memakai pakaian tidurnya, lalu membuka pintu kamarnya, begitu membuka pintu nyonya Bisseling sudah mendapati pelayannya dengan mata sudah sembab.


"Ada apa?" nyonya Bisseling langsung panik.


"Nyonya... Tu... Tu... tuan." pelayan tersebut terbata-bata.

__ADS_1


"Tu... tuan siapa? ada apa tenang dulu." nyonya Bisseling berusaha tenang.


"Tuan mu... Tu...." pelayan itu masih belum tenang.


"Katakan, bio ada apa tuan siapa?" nyonya Bisseling mulai panik.


"Nyonya, tuan muda nyonya." pelayan itu semakin kencang suara tangisnya.


"Tuan, muda kenapa? katakan bik?" nyonya Bisseling semakin bingung.


"Nyonya.. Tu... an mu... da ke... ce... la... kaan se... karang di rumah sa... kit xxxx." ucap pelayan masih dengan suara yang terbata-bata.


Nyonya Bisseling tidak bisa berkata apa-apa saking terkejutnya, nyonya Bisseling diam bagai patung.


"Kita segera ke sana, tolong ambilkan tas!" perintah nyonya Bisseling setelah sadar.


"Nyonya ganti baju dulu, biar saya siapkan sopirnya." ucap pelayan.


Pelayan segera menerintahkan sopir untuk bersiap-siap melalui sambungan telepon, sedangkan Nyonya Bisseling segera mengganti bajunya asal, yang penting bukan baju tidur.

__ADS_1


"Hani, dan cucuku kabari mereka segera, suruh Hanifah bawa An turun, jangan bilang jika kita mau ke rumah sakit!" perintah nyonya Bisseling pada pelayan.


Tanpa menjawab pelayan segera menghubungi nomor yang tersambung dengan kamar Hanifah.


"Halo," sapa suster.


"Sus, tolong suruh nona Han dan nona An, turun nyonya menunggu di bawah." pesan dari pelayan.


"Baik." sahut suster tanpa menaruh rasa curiga.


"Siapa sus?" tanya Hanifah.


"Nyonya menyuruhmu dan nona An turun ke bawah, nyonya sudah menunggu di bawah." ucap suster.


"Baik, sus." Hanifah tanpa banyak tanya dia langsung membawa tas bayi yang biasa di bawa keluar serta gendongan dan membawakan jacket untuk nona An.


"Han, mau kemana?" tanya suster penasaran.


"Entahlah Sus, perasaanku gak enak dari tadi, aku takut ada hal buruk menimpa keluarga ini." sahut Hanifah Cemaes, sambil menggendong nona An yang masih rewel dan mau melangkah keluar dari kamar.

__ADS_1


"Aku akan ikut." ucap suster.


"Baiklah, terima kasih." sahut Hanifah sopan.


__ADS_2