Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 167


__ADS_3

Jam empat sore Hanifah terbangun dari tidurnya, dia baru sadar setelah hampir dua jam tidur dengan nona An nona An dan Lancelot masih terbuai dengan mimpinya. Haifah setelah mandi dia membangunkan dua orang yang masih berada di alam mimpinya, nona An begitu mendapat panggilan dari Hanifah dia segera terbangun.


"Mama!" seru nona An, sambil menggliat.


"Ayo, sayang mandi dulu sudah sore." ucap Hanifah lembut "Tuan, tuan sudah sore." Hanifah membangunkan Lancelot.


"Jam berapa ini?" tanya Lancelot masih belum sadar betul.


"Jam empat lebih tuan, tuan harus segera bangun waktunya untuk sholat ashar." ucap Hanifah yang duduk di tepi ranjang, sedangkan nona An, Sebagaimana anak pada umumnya dua masih bermalas-malasan.


Lancelot sudah terbangun namun karena gemas dengan tingkah Hanifah, maka Lancelot menggoda Hanifah, Lancelot bukannya terbangun dia malah menarik Hanifah ke dalam pelukannya, Hanifah sangat terkejut mendapat perlakuan dari Lancelot, tubuh Hanifah yang sudah jatuh dalam pelukan Hanifah membuat hati keduanya berdebar kencang sekali, hingga keduanya diam sesaat, Lancelot tidak melepaskan kesempatan itu di ciumnya pipi Hanifah lembut, setelah mendapat kecupan singkat terlihat jelas wajah Hanifah yang merah padamu seperti udang rebus.


"Tuan, lepasin." pinta Hanifah pada Lancelot.


Lancelot tidak menjawab dia langsung melepas pelukannya sedang nona An, malah bersorak melihat Hanifah dalam pelukan Lancelot.


"Aku, juga mau di peluk papa, seprti mama." celoteh nona An.


"Ayo sini, papa peluk," ucap Lancelot dan langsung memeluk nona An, setelah melepas pelukannya pada Hanifah.


"Kalian, ayolah cepetan mandi sudah sore, nanti waktu asharnya keburu habis, sayangku." seru Hanifah, pada bapak dan anaknya.

__ADS_1


"An, sayang ayo segera mandi nanti mama marah pada kita." ucap Lancelot langsung bangkit berdiri menuju kamar mandi.


Hanifah menpersiapkan baju yang akan mereka pakai nanti untuk menerima tamu. Sedangkan Lancelot merutuki tingkahnya yang konyol, bagaimana bisa dia tidak bisa mengobrol diri sat berhadapan dengan Hanifah, sampai dia lupa jika ada nona An, di antara mereka. Lancelot mengasuh tubuhnya dengsn air hangat yang ada di kamar mandi khusus buat Hanifah. Rumah Hanifah memang terbilang rumah tradisional namun fasilitas kamar Hanifah, cukup bagus karena di kamar Hanifah juga tersedia mesin untuk air hangat sehingga jika ingin mandi mengunakan air hangat tidak perlu merebus air panas.


Untuk mengingat waktu, Lancelot mandi juga menggunakan waktu yang sangat singkat sehingga, jam empat tiga puluh menit, Lancelot sudah krkyat dari kamar mandi, karena bajunya masih di kamar maka Lancelot, krkyat dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi.


"Tuan, ini bajunya." Hanifah menyodorkan baju kepada Lancelot.


"Terima kasih, setelah ini kita sholat dulu, baru mandikan An." ucap Lancelot sambil menerima baju dari Hanifah.


Hanifah, memalingkan muka saat Lancelot mau ganti baju, selama ini biarpun antara Hanifah dan Lancelot sering berada dalam satu kamar, namun belum pernah melihat Lancelot, keluar dari kamar mandi hanya memakai jubah mandi saja apalagi, sampai ganti baju di dalam satu ruangan dengan Hanifah.


"Tuan, apa Tuan lupa jika ada nona An, bersama kita." sahut Hanifah, dengan suara bergetar karena debaran jantung Hanifah yang tidak bisa di kondidikan


"Aku sudah siap kita sholat dulu biarkan An, barman-main dulu." ucap Lancelot.


Lancelot sudah mengambil posisi sebagai imam sedangkan Hanifah sudah memakai mukenanya. Selesai sholat Hanifah memandikan nona An dan mendandani nona An, sedemikian rupa, nona An sangat cantik dengan balutan gamis dan hijab yang senada dengan Lancelot dan Hanifah. Lancelot, Hanifah dan nona An, kekiar dari kamar bersamaan, Lancelot dan Hanifah menemui tuan dan nyonya Bisseling, serta Garnier yang masih bersantai di rumahnya, sengaja mereka tidak kembali ke villa karena ingin menikmati suasana resepsi di kampung halaman Hanifah.


"Ma, pa, kak, maaf." sapa Hanifah pada keluarga Bisseling merasa tidak enak.


"Kalian, serasi sekali!" seru nyonya Bisseling.

__ADS_1


"Ehm, ingat ada An," goda Garnier dengan kedipan mata yang menggoda.


"Kitakan bisa tidur bertiga kak." sahut Lancelot pura-pura tidak paham dengan ucapan Garnier.


"An, nanti kamu tidur sama ops dan oma ya," ucap tuan Bisseling.


"Dak mau, aku mau tidur sama nama dan papa, aku mau di peluk papa sepelti papa meluk mana tadi." celoteh nona An, polos.


Mendengar ocehan dari nona An, muka Hanifah langsung merah padam, untung tidak ada orang di sekitarnya, sedangkan Lancelot yang mendapat tatapan tajam dari tuan dan nyonya Bisseling sera Garnier dia pura-pura tidak mendengar dan melihat.


"Lanc, apa perlu kalian nginep di hotel saja, kamu itu seorang ayah Lanc, kalau mau buka segel jangan di depan anak mu." ucap Garnier.


"Tadi itu Hani-nya jatuh, ya aku selamatkan." kilah Lancelot.


"Kita ke depan dulu ma, para tamu undangan seprtinya sudah mulai datang tidak enak jika kita belum keluar." pamit Hanifah.


"Baik, sekarang kita ikut keluar." ucap nyonya Bisseling.


"Ayo," sahut tuan Bisseling.


Mereka memakai baju dengan warna dan corak senada hanya beda di model saja, nyonya Bisseling memakai dres panjang menjuntai lantai sedangkan Garnier, mekai dres semi formal namun tetap sopan. Tuan dan nyonya Bisseling, serta Hanifah dan Lancelot ikut berdiri di depan untuk menyalami para tamu yang mulai datang silih berganti.

__ADS_1


__ADS_2