Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 45


__ADS_3

Kesibukan yang begitu padat, sehingga tidak terasa jika waktu berjalan dengan cepatnya, nona An kini telah menjadi balita yang cantik dengan tubuh gemulnya, diusianya yang menjelang satu tahun nona An sudah mulai bisa duduk jongkok dan sekarang sudah mulai belajar berdiri. Nona An dengan semangatnya dia berlatih untuk berjalan dengan cara merambat tangannya berpaeganan pada benda di sekitar.


Hanifah dia sangat menikmati momen seperti ini, momen bagaimana indahnya bisa selalu berada di sisi anak yang dalam masa-masa indahnya, golden age. Hanifah merasa seperti menemani anaknya dalam berlatih hal yang baru.


"Alhamdulillah ya Allah engkau masih memberi kesempatan bagi hamba untuk bisa merawat anak" gumam Hanifah dalam hati. Hanifah dengan sabar dan telaten mengajari nona An dalam mengenal hal-hal baru dalam kehidupannya.


Lancelot semakin hari semakin sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tidak begitu banyak waktu untuk mendampingi putrinya, namun demikian Lancelot tetap memberikan waktu akhir pekannya pada nona An sang Putri. Perayaan ulang tahun nona An semakin dekat, Lancelot dan nyonya Bisseling sudah menghubungi Garnier untuk membantu menyiapkan pesta ulang tahun nona An di negara London, sedangkan Lancelot tetap menpersiapkan pesta ulang tahun putrinya di negara Hongkong walau sederhana pestanya tetap di hotel bintang lima.


Lancelot berada di dalam ruangannya yang ada di lantai paling atas bersama dengan Dandruff dan juga beberapa bodyguardnya.


"Tuan, informasi yang aku terima Minggu ini A ling akan mendarat di negara Hongkong, tepatnya dua hari sebelum pesta diadakan." lapor Dandruff pada Lancelot.


"Bagus, sekali, jangan sampai rencana kita bocor, pesta ulang tahun buat putriku tetap harus meriah, dan jangan sampai ada yang tahu kalau ini semua hanya sebagai alibi saja." jelas Lancelot percaya diri.


"Sampai saat ini semua masih aman, dan saya berharap tidak ada yang memporak-porandakan acara nanti." ucap Dandruff penuh keyakinan.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kita lanjutkan pekerjaan kita, dan soal A ling kita jangan sampai lengah." perintah Lancelot.


Dandruff dan beberapa bodyguard kembali pada tugasnya masing-masing sedangkan Lancelot kembali berkutat dengan pekerjaannya, Lancelot berusaha menyelesaiakan pekerjaannya sebelum terbang ke negara London.


Hanifah sebagai pengasuh nona An sama sekali tidak tahu tentang rencana sang majikan yang akan terbang ke negara London dalam waktu dekat, Hanifah hanya tahu jika ada mantan kekasih Lancelot yang sedang mengancam nona kecilnya. Hari-hari Hanifah mendampingi nona kecilnya yang sedah mulai aktif, mulai dari belajar berjalan, belajar berbicara, belajar menumpuk benda, belajar melakukan instruksi.


"Ma ma ma pa pa pa pa." oceh polos nona An, sambil bermain.


Hanifah sangat senang sekali bahkan Hanifah tak henti-hentinya mengucap syukur atas nikmat yang dia rasakan sekarang nikmat bisa mengasuh anak walau bukan anak kandungnya, namun tetap ada darah Hanifah yang mengalir dalam tubuh nona An melalui ASI yang di berikan Hanifah pada nona An.


"Tuan Putri, lapar ya, ayo sini minum susu dulu." sahut Hanifah lembut penuh kasih, Hanifah segera meraih nona An masuk dalam pangkuannya untuk minum ASI.


"Cucu nenek sudah tambah pinter saja, sudah bisa panggil mama dan minta susu ya." goda nyonya Bisseling yang baru saja masuk kedalam kamar nona An.


"Selamat sore Nyonya." sapa Hanifah sopan, nan lembut.

__ADS_1


"Sore Han, tidak terasa cucuku sudah besar, sudah bisa berjalan, perasaan baru kemarin nangis gak mau diam menolak susu formula, eh sekarang sudah bisa nyari sendiri sumber susunya." ucap nyonya Bisseling dengan wajah haru dan bahagia.


"Iya, nyonya tidak terasa nona An sudah bisa berjalan dan beberapa hari lagi genap setahun," sahut Hanifah tidak kalah bahagia dan terharu.


"Aku harap kamu terus bisa menjaga, merawat dan mendidik cucuku." ucap nyonya Bisseling penuh harap.


"Saya tidak bisa janji nyonya sebab hidup saya di sini terikat kontrak kerja, sedang kontrak kerja saya hanys selama dua tahun saja dan tidak mungkin saya tetap bisa mengasuh nona An, jika kontrak saya habis." jelas Hanifah.


"Saya tahu Han, putraku kalau sudah cocok dengan pekerjanya dia tidak akan mudah memecat orang, dan lagi sekarang nyawa Lancelot terletak pada putrinya, dan aku yakin dia tetap akan mengontrakmu demi kehidupan putrinya, kecuali jika lamu sudah tidak mau bersama kita itu hal lain lagi kami juga tidak bisa memaksa kehendak orang lain. Han kamu tahu sendirikan dari mana nona kecilmu terlahir, rasanya aku tidak tega jika melihat cucuku harus berpisah denganmu, cucuku tahunya kamu makanya." jelas nyonya Bisseling panjang lebar.


"Kontrak saya masih setahun lagi nyonya, dan saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi besok." sahut Hanifah tentu dengan perasaan yang tidak menentu.


"Ya, masih setahun," ucap nyonya Bisseling dengan senyum penuh kegamangan. "Aku akan berusaha agar kamu tetap berada di sisi cucuku," gumam Nyonya Bisseling dalam hati, sambil membelai nona An yang sedang asyik menikmati ASI-nya.


Hanifah menanggapi ucapan nyonya Bisseling hanya dengan sebuah senyuman, sebagai pekerja Hanifah sadar akan kedudukannya, tidak mungkin Hanifah bisa mengasuh dan mendidiknya dengan bebas sebab ada hati seorang ayah pasti sudah memiliki rencana tersendiri untuk kebaikan putrinya. Lancelot pasti sudah memikirkan dengan matang tentang langkah yang akan diambil untuk kebaikan Putri tunggalnya.

__ADS_1


__ADS_2