Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 132


__ADS_3

Lancelot benar-benar ikut mengantar nona An ke sekolah, namun Lancelot tidak mengajak suster dia hanya jalan bersama dengan Hanifah beserta sang sopir. Nona An sangat senang sekali karena Lancelot mau mengantar nona An ke sekolah, selama dalam perjalan nona An, banyak sekali bercerita Hanifah dan Lancelot semangat selaku menimpali setiap ocehan nona An. Sesampainya di depan gerbang sekolahan hanya Hanifah yang turun untuk mengantar nona An sampai di depan kelas, sedangkan Lancelot memilih tetap berada di dalam mobil karena belum bisa berjalan dengan benar.


"Sayang pamit papa dulu." Hanifah menyuruh nona An untuk pamit pada Lancelot.


"Anak papa sekolah yang pinter ya," pesan Lancelot pada nona An.


"Pa, aku sekolah dulu." Nona An, pamit pada Lancelot, nona An bersalaman dan mencium tangan Lancelot, Lancelot membalasnya dengan sebuah kecupan sayang di kedua pipi nona An.


"Tuan, kami turun dulu." pamit Hanifah.


Sebagaimana anak pada umumnya nona An, jalan tangannya di gandeng oleh Hanifah. Lancelot bahagia sekali melihat pemandangan itu, Lancelot dapat meluhat ketulusan Hanifah dalam merawat putrinya.


Keadaan Lancelot berbalik dengam A ling, A ling sangat marah sekali selama hampir dua tahun A ling sama sekali tidak bisa menyentuh Lancelot, maupun Hanifah karena penjagaan yang di lakukan oleh keluarga Bisseling sangat ketat sekali. A ling benar-benar gagal untuk menghancurkan Lancelot, berita kesembuhan Lancelot sudah beredar luas di semua cetak naupun media electronic, apalagi ada salah satu artikel yang mengatakan kesungguhan Lancelot, dalam mengakui jika Hanifah adalah calon istrinya.


"Sialan, bedebah." umpat A ling di salah satu sudut kamarnya, membantu ng benda yang ada di dekatnya setelah melihat berita dari televisi dan juga dari tabletnya, selama ini A ling benar-benar di buat tidak bisa berkutik oleh keluarga Bisseling, bahkan untuk masuk ke negara Hongkong-pun tidak bisa, karena sudah di Blok oleh keluarga Bisseling, dengan melaporkan kasus percobaan membunuh Lancelot.


Di saat menunggu Hanifah kembali ke mobilnya Lancelot menerima sebuah panggilan dari nomor yang tidak di kenal, Lancelot mengabaikannya karena Lancelot tidak ingin me rusak momen bahagianya bersama dengan Hanifah.


"Tuan." sapa Hanifah saat sudah kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Sudah Han?" tanya Lancelot sambil memainkan tabletnya.


"Sudah." sahut Hanifah singkat.


"Habis ini kamu biasanya kemana?" tanya Lancelot.


"Pulang, Tuan." sahut Hanifah jujur.


"Temani aku jalan-jalan, aku pingin jalan -jalan, di taman sebentar saja, itu jika kamu tidak keberatan, aku ingin kamu menceritakan tentang An, selama aku tidur." pinta Lancelot.

__ADS_1


"Baik, tuan saya beritahu nyonya besar dulu,"


"Aku sudah bilang ke mama jika mau mengajakmu keluar, di sana nanti ada suster jadi kamu jangan khawatir, mama sudah menyiapkan keperluan ku dan kita."


"Baik Tuan." sahut Hanifah sedikit kaku.


"Kita jadi ke pantai tuan?" tanya sopir.


"Jadi," sahut Lancelot yakin" Berarti kita punya waktu kurang lebih tiga jam, aku rasa cukup untuk bersantai sejenak." ucap Lancelot.


Mobil yang di tumpangi Lancelot meluncur menuju di salah satu pantai yang ada di negara Hongkong, Lancelot memilih pantai yang tidak jauh dari lokasi nona An, sekolah, supaya cepat saat akan menjemput An. Tidak sampai setengah jam mobil yang di tumpangi oleh Lancelot dan Hanifah sudah memasuki kawasan pantai tersebut, di parkiran suster dan bodyguard suruhan tuan Bisseling sudah berada di parkiran pantai yang Lancelot tuju.


Para bodyguard dan suster membantu Lancelot untuk pindah dari mobil ke kursi roda, kursi roda Lancelot yang otomatis sehingga tidak perlu ada di dorong. Lancelot memilih tetap duduk di kursi roda menghadap pantai, dengan di temani Hanifah saja, sesuai permintaan Lancelot, sedang para suster dan bodyguard hanya mengawasi dari kejauhan.


Lancelot sangat menikmati pemandangan hamparan air laut yang ada di depannya, sambil menikmati semilir angin pantai yang sangat sejuk, karena bukan akir pekan maka pengunjung pantai nyaris tidak ada.


"Tuan, apa tuan sudah membaca berita yang beredar hari ini?" tanya Hanifah memberani kan diri, dengan pandangan lurus ke depan.


"Kita,"


"Sudah, apa kamu keberatan?" tanya Lancelot.


"Kalau saya keberatan apa yang bisa saya lakukan, tidak ada-kan?" tanya Hanifah yang tidak ada jawaban.


"Itu, artinya kamu tidak keberatan-kan?" ucap Lancelot.


"Terserah Tuan, bagaimana tuan mempersepsikannya." ujar Hanifah.


"Memilki teman cuek seperti kamu itu sangat meyenangkan, maaf karena kecelakaan itu membuatmu tidak bisa ambil cuti, setelah aku sembuh total kami bisa ambil cuti, jika An libur panjang." ujar ucap Lancelot.

__ADS_1


"Kontrak saya tinggal beberapa bulan lagi," ucap Hanifah.


"Apa kamu tidak menambah kontrak kerja lagi?" tanya Lancelot.


"Belum tahu." jawab Hanifah karena Hanifah memang belum memikirkan sampai ke sana.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menambah kontrak kerjamu denganku, karena memang kamu tidak perlu menambah kontrak kerja denganku." ucap Lancelot.


"Terima kasih tuan, jika tuan memahami saya, alangkah baiknya mulai sekarang tuan mencari kandiday baru untuk merawat nona An." ucap Hanifah.


"Secepatnya dan aku juga sudah dapat," jawab Lancelot santai.


Keindahan pantai serta sejuknya angin di pantai membuat Hanifah dan Lancelot sampai tidak merasakan jika waktu sudah siang.


"Tuan, sudah setengah dua belas, Tuan mau tetap di sini, pulang atau menjemput nona An." Hanifah memberi pilihan pada Lancelot.


"Kita jemput An, setelah itu kita pulang, aku ingin bermain dengan An, sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan." ucap Lancelot.


"Tuan, bukankah dokter mengatakan Tuan harus istirahat dulu paling cepat sebulan lagi, dan selama itu tuan harus istirahat total kondisi tuan itu belum pulih benar, jika tuan sayang dengan nona An, Tuan harus menyayangi tubuh Tuan, Tuan harus tetap jaga kesehatan apa Tuan mau membuat nona An, menjadi anak yang tidak memiliki orang tua." cerocos Hanifah panjang lebar sedikit esmosi.


"Terima kasih Han, aku tidak akan mati secepat itu Han, kalaupun aku mati, aku tinggal nulis wasiat aku suruh An, untuk hidup denganmu bereskan." mendengar omelan Hanifah, Lancelot bukannya marah malah tersenyum senang, dari ocehan Hanifah sudah dapat terlihat dengan jelas, sebenarnya Hanifah, sangat perhatian dan memiliki ketulusan pada keluarga Bisseling, terutama pada nona An.


"Maaf Tuan, jika saya memarahi Tuan." Hanifah segera meminta maaf setelah menyadari kesakahannya.


"Sebentar lagi relasiku dari Indonesia mau datang ke sini, apa yang kamu inginkan bilang saja, nanti biar aku pesankan pada temanku." Lancelot memberi sebuah tawaran.


"Untuk saat ini saya hanya ingin bertemu dengan kedua orang tua saya, tapi tak apalah Tuan, toh sebentar lagi saya sudah bisa mencium dan memeluk mereka." ujar Hanifah menerawang jauh.


"Ayo, kita jemput An, susah sangat siang, jam berapa An, keluar dari kelasnya?" tanya Lancelot.

__ADS_1


"Biasanya jam dua belas lebih dua puli menit says sudah sampai di sana, dan pastinya saya yang paling akhir." jawab ha jujur.


__ADS_2