
Jam tujuh malam Lancelot keluar rumah dengan di kawal oleh Dandruff, mereka pergi berdua saja tanpa membawa bodyguard lainnya, sebuah mobil tesla hitam keluaran terbaru meluncur ke Masjid yang berada di kota Tsim sat Tsui, di masjid itu Lancelot membuat janji dengan takmir masjid tersebut. Begitu sampai Lancelot memarkir mobilnya di parkiran yang dekat dengan masjid, seorang takmir masjid setelah mendapat panggilan dari Lancelot, beliau segera ke depan untuk menunggu keadangan Lancelot dan Dandruff.
Takmir masjid menyambut kedatangan Lancelot dengan senang hati, penuh cinta. Takmir masjid menyuruh Dandruff dan Lancelot untuk masuk ke dalam masjid, di dalam masjid tersebut Lancelot berkonsultasi tentang ilmu keagamaan, Lancelot mengutarakan maksud dan tujuannya. Mendengar penuturan dari Lancelot takmir masjid tersebut mengucap syukur yang tidak terhingga. Konsultasi berjalan selama satu setengah jam, selama satu setengah jam banyak sekali nasehat yang Lancelot terima. Semua nasehat dari takmir masjid tersebut menyejukkan hari Lancelot.
"Terima kasih tuan, atas semua nasehat tuan, secepatnya saya akan kembali ke sini." ucap Lancelot.
"Alhamdulillah, berkah buat tuan dan keluarga, kami sangat senang dengan keputusan tuan." sahut takmir masjid sopan.
Lancelot pamit setelah mengutarakan niatan hatinya, dari takmir masjid Lancelot akhirnya bisa mengerti setiap kata yang diucapkan Hanifah tentang keyakinannya. Selesai dari masjid Lancelot kembali pulang ke rumah, sebelum sampai di rumah, Lancelot sudah memerintahkan pekerja di rumah keluarga Bisseling untuk menyajikan makanan halal untuk dirinya.
"Saya salut dengan keputusan tuan." Dandruff memuji kebijakan yang di ambil oleh Lancelot.
"Sebenarnya banyak kejadian yang membuatku mantap untuk memilih menganut Islam, entah berapa lama aku berada di dunia yang lain, di sana aku melihat sebuah cahaya putih bertuliskan Arab, aku tidak paham namun entah bagaimana di alam bawah sadarku aku selalu mendengar suara Hani dan An, melantunkan bacaan yang menggunakan bahasa arab, terus terang setiap mendengar bacaan itu hatiku benar-benar damai, sejuk dan aku sama sekali tidak ada rasa was-was." jelas Lancelot pada Dandruff.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana perasaan tuan?" tanya Dandruff.
"Perasaanku sangat damai, dan mereka bilang ini merupakan sebuah hidayah." jelas Lancelot.
"Tuan, benar-benar yakin, karena setelah menjadi seorang Muslim tuan tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi alkohol dan pasti tuan juga tidak diperbolehkan untuk berada di dalam bar."jelas Dandruff.
"Aku ingin hidup lebih, damai seperti sekarang ini ketika aku berada di dekat Hani, aku merasa memilki kehidupan baru, dan tadi nasehat mereka benar-benar membuat hatiku semakin yakin dengan keputusanku." jelas Lancelot.
"Seminggu lagi aku akan mengikrarkannya,"
"Jujur saja tuan, saya tidak pernah menyangka kehadiran Hani dan nona An, bisa merubah kehidupan tuan secara drastis, kalau dari dulu tuan mengenal Hani, tuan sekarang sudah bahagia hidup bersama dengan Hani, dan tidak perlu terbang ke America untuk mendapatkan keturunan, benar-benar keputusan gila mengontrak rahim untuk mendapatkan kerurunan." Dandruff berbicara tentabg kebodohan mereka enpat tahun yang lalu.
"Entahlah, kalau aku ketemu Hani, dari dulu ceritanya sudah beda lagi." timpal Lancelot.
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi oleh Lancelot dan Dandruff sudah sampai di halaman rumah keluarga Bisseling, Lancelot memarkir mobilnya dengan baik, melihat kedatangan Lancelot para bodyguard langsung menghampiri Lancelot dan membantunya untuk pindah dari mobil ke kursi roda. Lancelot walau masih berada di atas kursi roda dia tetap berusaha beraktifitas secara normal.
"Ma, pa." sapa Lancelot pada Tuan dan Nyonya Bisseling yang sedang duduk bersantai di ruang tengah.
"Lanc, cepat makan sudah sangat larut, An tadi terus mencarimu dia belum tidur," ucap nyonya Bisseling.
"Sekarang mereka ada di mana?" tanya Lancelot.
"Baru saja naik, biar mama panggilkan."
Tanpa menunggu jawaban dari Lancelot nyonya Bisseling segera mendial nomor yang tersambung dengan kamar Hanifah.
"Mereka turun sekarang, An sangat bahagia mendengar kanu sudah pulang." ucap nyonya Bisseling.
__ADS_1