
Mobil yang dikendarai Lancelot merayap dengan pelan membelah ramai dan hiruk pikuknya lalu lintas siang di negara Hongkong, Hanifah ketika keluar dari rumah dia lebih suka melihat pemandangan luar, gedung pencakar langit serta sibuknya lalu lalang pejalan kaki sangat mendominasi di wilayah tersebut. Di negara Hongkong mayoritas penduduknya berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum, hilir mudik manusia yang sedang melakukan aktifitasnya seolah tidak pernah lelah, pekerja kebersihan yang mendorong gerobak alat kebersihan, pekerja penjaga lansia yang sedang mendorong kursi roda, pekerja yang menjaga anak sedang menggandeng momongannya, pekerja seperti Hanifah yang mejaga bayi mereka ada yang mendorong kereta bayi maupun menggendong bayi, serta pekerja maupun orang lokal yang sedang beraktifas belanja dengan membawa tas belanja di pundaknya sungguh menjadi pemandangan langka buat Hanifah yang jarang sekali keluar dari rumah Lancelot.
Mobil yang di tumpangi Lancelot beserta yang lainnya dari bandara tidak langsung pulang ke rumah Lancelot, mereka menuju rumah tuan besar, satu tahun bekerja pada Lancelot Hanifah baru kali ini diajak berkunjung di rumah orang tuanya. Rumah kediaman keluarga Bisseling jauh lebih besar dari pada rumah Lancelot sendiri, para pekerja di rumah keluarga Bisseling juga lebih banyak dari pada pekerja Lancelot. Dandruff memarkirkan mobilnya di halaman rumah tuan Bisseling, beberapa pekerja lainnya menyambut mereka dengan hangat, pekerja di rumah keluarga Bisseling semua orang lokal tidak satupun yang berasal dari luar negara.
"Ayo, Silakan masuk Han." seru nyonya Bisseling bahagia.
"Ayo Han," Tuan Bisseling juga ikut mempersilahkan Hanifah.
"Ayo, Han," Lancelot juga tak luput mempersilakan Hanifah.
Semua masuk ke rumah keluarga Bisseling, dari awal masuk dari gerbang Hanifah sudah di buat kagum dan takjub dengan rumah keluarga Bisseling, rumah yang begitu besar dan megah dengan gaya modern klasik tentu anda sentuhan Eropa sesuai dengan selera tuan Bisseling yang berasal dari Eropa.
"Han, ayo masuk, kenapa takut?" ajak Lancelot yang melihat Hanifah masih terbengong melihat betapa besarnya kediaman keluarga Bisseling, tanpa pikir panjang Lancelot menggandeng Hanifah untuk diajak masuk
"Oh, i... i ... iya tuan." sahut Hanifah gugup karena terkejut " Maaf Tuan, tolong lepasin saya bisa jalan sendiri." ucap Hanifah yang baru sadar jika tangannya dalam genggaman Lancelot.
"Baik, terpaksa aku tarik kamu berkali-kali aku panggil kamu, kamu gak ngrespon." jawab Lancelot jujur.
"Maaf." hanya kata maaf yang bisa diucapkan oleh Hanifah.
Lancelot dan Hanifah baru masuk rumah padahal semuanya susah masuk rumah, tuan dan nyonya Bisseling serta Dandruff sudah berada di dalam dan bercengkerama bersama.
"Ma ma ma ma." Nona An menyongsong Hanifah yang baru saja masuk dengan Lancelot, tentu semua orang tidak heran dengan tingkah nona An, yang lebih memilih Hanifah, dari pada yang lain.
"Anak, mama yang cantik," ucap Hanifah langsung menggendong nona An.
"Duduk Han." perintah nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Terima kasih Nyonya," sahut Hanifah sopan dengan menyuguhkan seulas senyum.
"Ma, Pa, malam ini aku mau menginap di sini." ucap Lancelot.
"Sendiri?" tanya nyonya Bisseling.
"Tentu, dengan Hani dan anakku," sahut Lancelot yang sudah duduk di sofa.
"Baiklah, sudah hampir sepuluh tahun kamu tidak pernah menginap lagi di rumah ini, apalagi semenjak anakmu lahir datang juga jarang, selama kamu di luar negeri biar Hani dan An, di sini aku tidak ingin A ling mencelakai mereka seperti beberapa minggu yang lalu." ucap tuan Bisseling.
"Mama setuju dengan usul papamu."
"Baiklah dengan begitu aku lebih tenang karena di sana aku akan memakan waktu agak lama, papa dan mama sudah tahu tentang A ling?" ucap Lancelot.
"Apa, yang tidak kami tahu tentang kamu, kamu anak kami," ucap tuan Bisseling santai "Oh ya Han, hadiah untuk orang tuamu, sudah di kirim apa belum?" tanya tuan Bisseling pada Hanifah.
"Lo, kan bisa nyuruh sopir atau siapa gitu, bagaimana sih Lanc, sudah tahu Hani, tidak bisa keluar kenapa kamu tidak membantunya." ucap nyonya Bisseling.
"Lusa biar aku sendiri yang mengirimkan." ucap Lancelot santai.
"Oh, ya sudah kalau begitu."
"Sebaiknya kita makan dulu terlalu." ajak nyonya Bisseling, " Lanc, bagaimana untuk makan Hani dan An?" tanya nyonya Bisseling.
"Joyce dan sopir sudah dalam perjalanan ke sini, lima menit lagi sampai, karena aku juga sudah menyuruh Joyce dan suster untuk mengemas beberapa keperluan An dan juga Hani."jelas Lancelot santai.
Tuan Bisseling, nyonya Bisseling serta Dandruff meninggalkan ruang tengah mereka bertiga menuju ke meja makan sedang Lancelot masih duduk di sofa bersama dengab Hanifah dan nona An, menunggu kiriman dari Joyce.
__ADS_1
"Tuan, kenapa Tuan tidak memberitahukan ke saya jika mau menginap di sini, sayakan bisa mengemas sendiri barang saya tanpa harus merepotkan orang lain." protes Hanifah kesal.
"Tadinya aku tidak punya rencana untuk menginap di sini namun setelah sampai di sini tiba-tiba aku pingin nginap di sini beberapa hari sebelum pergi ke luar negeri lusa," jelas Lancelot santai.
"Sebenarnya saya, paling benci seperti ini serba mendadak, sebulan yang lalu ke London tanpa pemberitahuan, sekarang juga begitu." protes Hanifah dengan wajah masam.
"Kalau kamu khawatir tidak punya pembalut seperti dulu nanti aku belikan di supermarket kamu butuh berapa bungkus atau sat toko aku bawa ke sink semua," ujar Lancelot santai malah dengan senyum yang tidak bisa di artikan "Kemarin, kamu bilang gila ke aku sekarang bilang benci, kamu sebagai pembantuku sungguh terlalu Hsn." Lancelot pura-pura mengeluh sambil geleng-geleng kepala.
Hanifah tidak menjawab dia hanya diam karena masih kesal dengan ulah Lancelot yang tidak bisa ditebak.
"Kita ke meja makan sekarang, Joyce dan suster sudah berada di depan mereka baru turun dari mobil." ucap Lancelot.
"Tuan, makan saja dulu saya nanti saja setelah menyuapi nona An." sahut Hanifah.
"Mama dan papa ingin menjamu tamunya, karena ini pertama kalinya kamu berada di rumah ini jadi kamu harus makan satu meja dengan kami." perintah Lancelot.
"Biar saya nanti saja tuan." tolak Hanifah halus.
"Kalau begitu biar aku yang menemui makan, biar mereka makan dulu." ucap Lancelot.
"Kalian kenapa tidak segera ke sini!" panggil nyonya Bisseling.
"Hani, sungkan untuk makan satu meja dengan mama dan papa," sahut Lancelot membuat jebakan buat Hanifah.
Hanifah semakin kesal dengan ulah Lancelot, mata Hanifah molotot ke arah Lancelot.
"Aku rasa sekarang pamorku sebagai majikan sudah turun drastis." keluh Lancelot sambil memainkan gadgednya.
__ADS_1
Dandruff tersenyum saat lewat mendengar ucapan dari Lancelot, sekian tahun Lancelot dingin dengan wanita namun dengan Hanifah selalu cari cara agar bisa ngobrol lebih lama.