
Hanifah bekerja seperti biasa dengan di temani oleh suster, namun suster hanya bekerja siang hari saja suster datang di jam delapan pagi hari dan pulang di jam delapan malam dengan di antar jemput oleh sopir, suster tetap tidur di rumah Lancelot atas permintaan Lancelot dan juga nyonya Bisseling sebab di rumah nyonya Bisseling tidak ada tempat yang pas untuk suster, di samping itu nyonya Bisseling dan tuan Bisseling ingin mengenal lebih dekat dengan cucunya tersebut mengingat tidak mudah untuk membuat Hanifah bertahan bersamanya selamanya.
Nona An semakin hari semakin pintar dengan segala aktifitas barunya, nona An sangat cepat dalam mempelajari hal baru, nona An juga sudah mulai bisa berlari dengan cepat, memanjat juga sudahenjadi hobinya. Nyonya Bisseling lebih suka menemani Hanifah dan nona An untuk bermain sedangkan suster lebih banyak melakukan pekerjaan untuk membuat makanan khusus buat nona An.
Tidak terasa Lancelot meninggalkan putrinya sudah satu minggu lebih, setiap hari Lancelot juga selalu menyempatkan diri untuk menelpon nona An melalui nomor Hanifah, Hanifah maupun nyonya Bisseling setiap hari juga selalu mengirimkan foto maupun video tentang aktifitas nona An, seperti sekarang di saat Hanifah baru saja mengirim aktifitas nona An yang sedang memanjat bangku yang ada di taman rumah keluarga Bisseling, Lancelot, langsung melakukan video call dengan Hanifah karena ingin melihat langsung aktifitas nona An.
"Halo tuan," sapa Hanifah di balik layar setelah memencet tombol hijau.
"Hai Han, Hai anak papa sudah tambah pintar saja, kangen papa apa tidak nih," sapa Lancelot di balik layar dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Tuan Putri ayo sapa papa," bujuk Hanifah pada nona An.
"Pa pa pa pa papa." Nona An sudah mulai bisa memanggil papa.
Lancelot mendengar nona An memanggil papa padanya membuat Lancelot sangat terharu pasalnya nona An, jarang sekali mau memanggil papa pada Lancelot dengan lancar bahkan hanya satu kali rayuan, walau sebagai papa Lancelot belum pernah berhasil merayu nona An, namun Lancelot sudah cukup puas ketika nona An, mau memanggil papa padanya.
"Lanc, kamu sedang ada di mana?" tanya nyonya Bisseling pada Lancelot, dia ikut nimbrung dalam panggilan video call Lancelot dan Hanifah.
"Aku sedang meninjau proyek Ma," sahut Lancelot "Han, rumah kamu sama pulau Bali jauh apa tidak?" tanya Lancelot pada Hanifah.
"Jauh sekali Tuan, harus naik pesawat dan dari bandara juga harus menempuh jalan darat kurang lebih empat jam, karena letaknya di gunung jauh dari kota di tambah jalannya berkelok dan lumayan ektrem." jelas Hanifah.
"Jauh juga, aku kira rumahmu dekat dengan pulau Bali." ujar Lancelot.
__ADS_1
"Sangat jauh tuan," sahut Hanifah seperti biasa, walau Lancelot pernah meyatakan cinta pada Hanifah, namun Hanifah tetap bersikap tenang dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari Lancelot Hanifah pergi mengikuti langkah nona An yang Sudan menarik tangan Hanifah untuk berjalsm di taman.
"An, sangat lucu sekali ingin rasanya cepat pulang dan memeluk An, semakin ngangeni." ucap Lancelot.
"Kangen An, apa mamanya?" goda nyonya Bisseling.
"Sudahlah Ma, kangen semuanya termasuk Mamaku," ucap Lancelot sedikit manja.
"Tumben, pakai manja biasanya kemanapun juga tidak pernah kasih kabar ke mama, sekarang pakai acara rajin kasih kabar ke Hani segala." protes nyonya Bisseling.
"An, sama Hani mana Ma kok menghilang?" tanya Lancelot mengalihkan pembicaraan dan karena sekarang hand phone Hanifah berada di tangan nyonya Bisseling sedangkan Hanifah dan nona An sedang asyik bermain di taman berlari kesana-kemari melihat bunga maupun naik turun pada pada meja maupun kursi yang ada di taman yang ada di rumah keluarga Bisseling.
"Lihatlah, anakmu dan Hani, anakmu setiap hari seperti itu sekarang, beruntung ada Hani, dia sangat sabar dan telaten dalam menghadapi anakmu, kelakuan An persis waktu kamu kecil Lanc, sejak awal ketemu Hani rasanya sudah cocok," ucap nyonya Bisseling mengarahkan kameranya pada Hanifah dan nona An yang sedang asyik bermain.
"Anak-anak sangat cepat tumbuhnya, kalau mama sudah tidak sanggup untuk mengikuti gerak lincah anakmu." ucap nyonya Bisseling sambil terus mengarahkan kamera pada Hanifah dan nona An.
"Tidak terasa ya, Ma perasaan baru kemarin An, nangis histeris minta ASI," timpal Lancelot.
"Iya Lanc, jangan lupa sisihkan waktu untuk kekuargamu mama tidak ingin An, kekurangan kasih sayang orang tuanya, kami ingatkan kamu satu-satunya orang tua An, saat ini kecuali jika kamu menikah maka akan beda." nyonya Bisseling tidak pernah bosan mengingatkan Lancelot supaya menyayangi nona An, dan memberikan waktu yang banyak untuk nona An.
"Iya Ma, Lanc, paham kita bahas nanti, saja jika Lanc sudah kembali ke negara Hongkong ya sudah terima kasih, mama sudah mau membantu mengasuh An, begitu pekerjaanku selesai aku akan kembali ke Hongkong secepatnya, lan mau melanjutkan pekerjaan dulu, da da da ma, da An, da Han." Lancelot mengakiri panggilan video callnya karena harus kembali fokus pada pekerjaannya.
Hanifah yang mendengar Lancelot yang sedang pamit dia langsung me dekat ke kamera sambil menggendong nona An"Da, tuan, da papa hati-hati papa An selalu beldoa untuk papa." Tentu suara Hanifah yang menirukan suara bayi sedikit cedal.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, papa akan segera pulang." sahut Lancelot semakin hari dan berbinar-binar.
"Hati-hati Lanc, jaga kesehatan jangan sampai kecapek-an." pesan nyonya Bisseling dan menutup panggilan video call-nya.
"Baik Ma, by."
Sambungan video call antara Lancelot dan Hanifah berakhir, Lancelot melanjutkan aktifitasnya dengan perasaan bahagia, sepanjang melakukan survey proyek Lancelot selalu menyunginggkan sebuah senyuman kebahagiaan dan berbunga-bunga nan tulus, sebuah senyuman yang tidak pernah di temui oleh Dandruff sebelumnya.
Suasana hati Lancelot yang sangat bahagia sehingga membuat Lancelot tidak merasa kecapek-an yang ada semua pekerjaan bisa di kerjakan dengan tepat waktu bahkan lebih cepat dari biasanya.
"Tuan sudah sore, dan sekarang Saatnya para pekerja juga harus kembali pulang ke rumah, sebaiknya kita juga kembali ke hotel," ucap Dandruff mengingatkan Lancelot yang masih fokus pada pekerjaannya.
"OK, Baiklah perasaan baru mulai kerja ternyata susah sore." sahut Lancelot masih dengan perasaan bahagia.
"Ya, dan beberapa pekerjaan kita juga sudah bisa terselesaikan lebih cepat, jika suasana hati tuan Begini bisa-bisa pekerjaan kita bisa lebih cepat drai yang kita pelrediksikan." ucap Dandruff.
"Lebih cepat lebih baik, kita bisa mengantar hadiah untuk orang tua Hani," sahut Lancelot masih dengan senyum sumringah.
"Asal Tuan bahagia." sahut Dandruff lagi.
"Menurut Google tempat Hani, sangat sejuk dan bagus, aku penasaran, kita agendakan ke sana setelah ini tapi jangan sampai Hani tahu, aku takut dia tersinggung atau marah." ujar Lancelot.
"Baik, tuan." sahut Dandruff.
__ADS_1