
Hanifah sibuk memandikan dan mendandani nona An, setelah selesai mendandani nona An baru Hanifah mengurus dirinya sendiri, Hanifah mandi ganti baju tentunya mandi dengan menggunakan jurus mandi bebek, baru saja Hanifah mau memakai make up pintu kamarnya diketuk dan dari luar terdengar suara nyonya Bisseling yang meminta Hanifah untuk membukakan pintu.
"Nyonya, silakan masuk!" ucap Hanifah mengijinkan nyonya Bisseling untuk masuk ke kamarnya namun ternyata bukan hanya nyonya Bisseling yang masuk, di belakang ada seorang wanita muda dengan menenteng koper kecil berisi alat make up.
"Han, kakak ini akan membantumu untuk make up." jelas Nyonya Bisseling.
"Apa?" Hanifah sangat terkejut mendengar ucapan nyonya Bisseling."Maaf, Nyonya sebenarnya saya tidak begitu suka pakai make up, haruskah saya memakai make up?" tanya Hanifah.
"Harus Han, ini permintaan tuanmu," ucap nyonya Bisseling meyakinkan.
"Tapi Nyonya?" Hanifah ingin membantah namun sudah keduluan nyonya Bisseling berucap.
"Tidak ada tapi-tapi-an, setengah jam lagi tamunya datang semua harus sudah siap!" perintah nyonya Bisseling "Tidak usah khawatir han, karena make upnya aku pilih yang natural saja, serahkan pada kakak, dia sudah tahu seleraku." pungkas nyonya Bisseling lalu meninggalkan Hanifah dan tukang make up.
Sepeninggalan nyonya Bisseling dengan cekatan tukang make up memulai memoles wajah Hanifah sesuai dengan pilihan nyonya Bisseling untuk model rambut Hanifah, nyonya Bisseling memilih model dikepang ala Dutch braid, karena rambut Hanifah ikal dan panjang, jika dalam kehidupan sehari-hari Hanifah hanya mengikat atau menyanggul ala kadarnya kali ini harus tampil sedikit berbeda, dandanan Hanifah kali ini memang jauh berbeda ketika acara seratus harinya nona An. Tidak sampai tiga puluh menit Hanifah sudah berubah menjadi wanita berkelas. Setelah selesai make up Hanifah keluar dari kamarnya bersama dengan sang penata make up, Hanifah menuju kamar nona An, sedang sang penata make up langsung pamit pulang.
"Han, nyonya dan tuan menyuruh kalian untuk segera turun karena tamunya mau datang!" perintah Joyce yang baru masuk ke kamar nona An
"Iya, kak." sahut Hanifah sembari mrmbalikkan badan.
"Wow cantik sekali, Han." puji Joyce penuh kekaguman.
"Memang tamunya siapa kak, kenapa aku harus dangan kaya gini segala, benar-benar tidak nyaman kak." keluh Hanifah pada Joyce.
"Teman baik tuan muda, tentu kamu harus dandan cantik Han, tuan tidak mau dong melihat pengasuh putrinya kucel saat bertemu dengan sahabat baiknya," jelas Joyce enteng.
"Kak Joyce tidak dandan?" Hanifah penasaran.
"Lihatlah semua yang bekerja di sini wajib cantik dan rapi, padahal kami ini siapa apalagi kamu yang menjaga tuan Putri mereka mau tidak mau kamu juga harus berdandan lebih dari pada kami, biasa saja Han, siapa sih yang nggak tahu fasilitas apa yang didapat bagi pengasuh keturunan Bisseling," beber Joyce panjang lebar.
__ADS_1
Hanifah menggendong nona kecil dengan di dampingi oleh suster dan Joyce turun ke bawah menuju ruang tengah untuk menyambut kedatangan Ang sekeluarga.
"Selamat siang Nyonya, selamat siang Tuan." sapa Hanifah pada nyonya dan tuan Bisseling serta Lancelot.
"Siang, Han," sahut nyonya dan tuan Bisseling.
"Cantik sekali cucuku!" sambut nyonya Bisseling girang.
Lancelot tidak menjawab sapaan Hanifah malah tertegun melihat Hanifah yang berdandan casual dengan atasan lengan panjang leher tertutup dengan ada hiasan tali kecil pada leher paju dipadu dengan kulot lebar sebetis dengan warna senada, tentunya semua itu pilihan nyonya Bisseling, setelah sadar Lancelot menyunggingkan senyum untuk membalas sapaan Hanifah. Hanifah dan nona An memakai baju warna senada sesuai pilihan nyonya Bisseling, tidak sampai menunggu lima menit keluarga Ang sudah memasuki gerbang rumah Lancelot.
"Selamat datang Tuan Ang Nyonya Ang." sambut Lancelot bahagia dengan senyum mengembang indah.
"Senang sekali bisa bermain kesini," sahut Ang tidak kalah senang.
Keluarga Bisseling menyambut kedatangan keluarga dengan penuh suka cita, kedua anak juga terlihat sangat bahagia. Pandangan nyonya Ang langsung pada Hanifah yang sedang menggendong nona An.
"Silakan jika tidak nangis." Lancelot memberi ijin pada nyonya Ang.
Setelah mendapat ijin dari Lancelot Hanifah memberikan nona An, pada nyonya Ang, nyonya Ang sibuk bercengkerama dengan nona Ang.
"Pah, lihat sini!" panggil nyonya Ang pada suaminya.
"Kenapa Ma?" tanya Ang melangkah menuju Nyonya Ang yang sedang bersama dengan Hanifah dan nona An.
"Lihat, wajahnya mirip banget dengan nona Hani." seloroh nyonya Ang setelah mengamati nona An.
"Jangan ngacau kamu nyonya Ang." sergah Lancelot.
"Wah, bener banget ma lihat sedikitpun tidak mirip papanya!" tambah Ang until menggoda Lancelot.
__ADS_1
"Ya enggaklah pa, masih ada kok mirip ya dengan Lanc." sahut nyonya Ang yang tidak begitu paham maksud suaminya.
"Hal itu biasa tejadi, anak biasanya akan lebih mirip dengan yang mengasuhnya, apalagi sejak lahir An di bawah asuhan Hani, dan minum ASI dari Hani sudah tentu jika mirip Hani," sahut nyonya Bisseling yang membenarkan ucapan nyonya Ang.
Lancelot mendengar ucapan dari mama dan sahabatnya sedikit tidak percaya, Lancelot mendekat memandangi wajah Hanifah dan putrinya secara bergantian.
"Jangan bilang tidak mirip denganku, dia putriku lihatlah hidungnya, matanya bibirnya mirip denganku." ucap Lancelot setelah mengamati nona An dan Hanifah secara seksama.
"Tapi wajahnya lebih mirip ke nona Hani." nyonya Ang tetap pada pendiriannya.
"Kamu cemburu Lanc, jika anakmu mirip dengan nona Hami?" goda Ang.
Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling sibuk mengamati mereka tingkah orang sekiranya yang saling ngotot tentang kemiripan nona An, dengan Hanifah dan Lancelot.
"Tuan, Nyonya, makan siang sudah siap silakan menuju meja makan." Joyce melaporkan tentang kesiapan makan siangnya.
"Terima kasih Joyce." sahut nyonya Bisseling dan yang lainnya.
Nyonya Bisseling segera mengajak seluruh tamunya untuk menikmati hidangan makan siang, di meja makan sudah terhidang menu khas cina, yaitu bebek asap(siu ngap), stim ikan laut, stim ayam, daging babi asap, rebus baby kol dan abolon, sweet and sour babi, dan sayap ayam goreng bumbu pada hitam, dan tentunya sebagai menu pembuka semangkup sup sirip ikqn hiu juga terhidang di atas meja.
"Silakan,!" Lancelot mempersilakan tamunya untuk menikmati makanan yang sudah terhidang.
"Terima kasih, kami tidak sungkan lo." ucap nyonya Ang tanpa basa basi.
"Yuk, kita bersulang, untuk kebahagiaan kita." kini tuan Bisseling yang bersuara sambil mengangkat mangkuk sup kedepan.
"Bersulang untuk kebahagiaan dan kedamian kita." semua yang ada di meja makan bersuara secara serempak sambil mengangkat mangkok sup masing-masing sedikit keatas.
Hanifah tidak ikut bergabung dengan mereka karena dari segi menu, makanan tentu berbeda dengan mereka, dari segi tingkat gizi dan protein serta kehalalan makanannya juga sangat berbeda, Ang dan istrinya tahu jika Hanifah mendapat perlakuan khusus dari Lancelot. Anak-anak Ang di dampingi oleh pembantunya Ang yang bertugas untuk menjaga anaknya, Ang hanya menggunakan satu pembantu khusuh untuk menjaga anaknya karena anak Ang sudah agak besar. Semua yang berada di meja makan sangat menikmati makanan yang terhidang, mereka mekam sambil bercerita maupun memuji rasa masakan yang telah terhidang.
__ADS_1