Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 156


__ADS_3

Selama satu minggu Lancelot dan keluarganya menikmati indahnya kota Malang, selama seminggu pula Hanifah selalu mengawal Lancelot dan yang lain bepergian ke tempat wisata yang ada di kota tersebut. Sesuai dengan rencana awal setelah dari Malang Lancelot mengajak Hanifah dan kedua orang tuanya untuk berlibur di kota Bali, namun mereka di kota Bali hanya beberapa hari saja, tidak sampai seminggu mengingat akan melakukan persiapan pernikahan.


Indahnya pantai kute menjadi tujuan utama kekuarga Bisseling, mereka sangat menikmati indahnya peso a Alal di sana. Nona An yang baru pertama kali pergi ke pantai dia sangat menikmati liburannya. Lancelot dan yang lain tidak lupa mengabadikan momen tersebut ke dalam sebuah foto maupun video.


Mereka menikmati liburannya selama empat hari, setelah usai liburannya tuan dan nyonya Bisseling langsung tolak ke negara Hongkong karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan segera. Sedang Lancelot dan Dandruff memilih kembali ke kota Malang. Sesampainya di kota malanf Hanifah tetap tinggal dengan orang tuanya, walau beberapa kali Lancelot menyuruh Hanifah untuk tinggal di villanya, namun di tolak oleh Hanifah. Seperti sekarang Hanifah sedang menikmati sorenya dengan memetik sayur di samping rumah dengan di temani oleh Lancelot yang duduk di kursi dan nona An, yang begitu bahagia bermain lumpur di ladang.


"Han, besok aku akan kembali ke Hongkong, karena ada beberapa dokumen yang harus aku penuh dan aku harus datang sendiri, tidak boleh diwakilkan, aku tahu jika An, tidak mau ikut pulang denganku maka akan Aku jemput ketika dia mau masuk sekolah." pesan Lancelot pada Hanifah.


"Baik, tuan." sahut Hanifah.


"Aku bukan lagi majikanmu Han, sampai kapan kamu akan tetap memanggilku Tuan, tidak adakah nama yang apik dan antik buatku, aku sadar jika usiaku sudah tidak muda lagi, tapi bukan berarti tetap dengan panggilan Tuan, kan?" protes Lancelot pada Hanifah.


"Tidak mudah bagi saya Tuan, untuk merubah sebuah panggilan, atau jika tuan bersedia akan saya panggil pak e." ucap Hanifah, sambil memetik cabe, sedang nona An, mengikuti Legi yang sedang memetik tomat.


"Apa itu pak e?" tanya Lancelot penasaran.


"Pak e itu artinya sama dengan papa." jelas Hanifah "Tuan sebenarnya ada yang masih mengajak di hati saya, apa niat awal tuan menjadi mualaf, semata-mata karena ingin menikah dengan saya atau karena memang murni dari hati Nurani tuan?" tanya Hanifah.

__ADS_1


"Sebelum terjadi kecelakaan itu, dan semenjak kamu selalu menolak lamaranku niat awalku memang karena ingin menikah denganmu, dan alasanku juga sangat simpel untuk putriku An, karena setelah aku membaca buku referensi dan mempelajari lewat beberapa teman yang paham soal agama, ternyata peran seorang ibu sangat di butuhkan untuk anak, apalagi mengingat kesibukanku yang tidak bisa di tinggalkan aku tidak ingin An, kehilangan banyak kesempatan dalam hal kasih sayang, makanya aku ingin mengikatmu semata-mata demi anakku An." jelas Lancelot.


"Lalu bagaimana sekarang Tuan?"tanya Hanifah.


"Sekarang, untuk sekarang dan ke depan alasanku menjdai mualaf karena Allah telah memberi hidayah kepadaku lewat kecelakaan itu, selama sekian lama aku hidup baru kemarin aku merasakan hidup damai dam tenang ketika mendengar ayat-ayat Allah melalui Lantunanmu Han, apalagi saat aku mendengar langsung suara hatimu tentang perasaanmu kepadaku dan An hatiku sangat tenang dan sejuk seperti meminum air telaga murni dari pegunungan." jelas Hanifah.


"Sebenarnya justru hati saya yang masih ragu tuan." jujur Hanifah.


"Aku akan menantimu sampai kamu benar-benar ikhlas Han, kalaupun kamu belum bisa menerimaku minimal lakukan untuk An, selama ini yang An tahu kamulah mamanya, apa seorang mama tega berpisah dengan anaknya Han?" ucap Lancelot, berusaha berbesar hati dengan kejujuran yang di lontarkan oleh Hanifah "Jika boleh tahu apa alasanmu meragukan ketulusan ku Han?" tanya Lancelot tenang.


"Suamiku, saya belum bisa berlaling dari suami saya seutuhnya." jawab Hanifah jujur.


"Lalu?" tanya Hanifah.


"Lalu, aku mendapat restu dari mereka semua, dan aku beejanji akan membahagiakanmu, yang penting sekarang kita jalani saja kira menikah dulu, selanjutnya kita pikirkan nanti." ucap Lancelot tenang.


"Tuan, tidak takut jika saya selingkuh?" goda Hanifah.

__ADS_1


"Jika kamu mampu menodai sucinya tali pernikahan kita, ya Silakan, tapi aku yakin itu tidak akan kamu lakukan." jelas Lancelot.


"Kenapa juga tuan memilih saya?" tanya Hanifah.


"Ya, Allah Han, berapa kali aku harus mengatakan padamu, aku sangat mencintaimu bukan karena rupamu namun karena imanmu Han, ku harap kamu tidak tanya lagi." ucap Lancelot.


"Papa mama!" seru nona An "Lihat ada tomat banyak sekali."


Nona An berlari kecil ke arah Lancelot dan Hanifah sambil menunjukan satu ember kecil penuh tomat matang dan setengah matang. Tubuh dan wajah nona An sudah tidak karuan belepotan penuh dengan lumpur, di tambah keringat beecucuran. Lancelot tertawa teepingkal-pingkal melihat tubuh nona An yang motor, dengan sigap Lancelot malah mengabadikan momen tersebut.


"Anak papa pinter sekali besok-besok papa akan beli tanah yang banyak agar kamu bisa berkebun, apa sebaiknya kamu pindah di sini saja ya." goda Lancelot pada nona An.


"Nona, ayo kita mandi dulu nanti kebury dingin."


Memihay nona An, yang nelepotan penuh lumpur Hanifah segeraebgajsk nona An, untuk segera mandi karena waktu juga sudah menunjukan pukul empat lebih, dan mereka juga belum melaksanakan sholat asyar.


"Han, cepetan mandiin nona An, sudah ibuk rebuskan airnya." perintah semi yang baru keluar dari dapur. Semi menang tidak ikut ke kebun karena harus merebus air untyk diminum.

__ADS_1


"Ye ye ye ye!" seru nona An, girang.


__ADS_2