Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 37


__ADS_3

Di saat yang lain sedang menikmati makan siang bersama Hanifah tetap sendiri, Hanifah selalu makan sendiri di dapur mini khusus buat Hanifah dan tentunya dengan koki dan peralatan dapur yang khusus juga. Lancelot di samping menjaga kehalalan makanan Hanifah juga demi kehigienisan makanan yang dikonsumsi oleh Hanifah karena pada dasarnya apa yang masuk dalam tubuh Hanifah itulah yang dimakan oleh putrinya, jadi Lancelot sangat menjaga pola makan Hanifah. Selesai makan Hanifah kembali menjaga dan merawat nona An, sekarang giliran suster yang menikmati makan siang, Hanifah membawa nona An bermain di taman belakang selain untuk menghirup udara yang segar juga supaya nona An kena sinar matahari.


Selesai makan nyonya Bisseling, nyonya Ang tuan Bisseling Lancelot dan Ang, mereka menyusul Hanifah dan nona Ang yang berada di taman belakang rumah, taman belakang rumah senga di desain khusus untuk tempat bermain nona An. Sejak tadi Lancelot selalu mencuri pandang pada Hanifah, namun Hanifah tidak pernah sadar dan juga tidak pernah peduli selama ini Hanifah hanya fokus pada nona An. Lancelot bersama dengan Hanifah, nyonya Ang, nyonya Bisseling, anak-anak Ang, serta pembantu Ang dan suster nobsvAnbermain bersama ditenpat kusus buat anak-anak, sedang Ang dan tuan Bisseling duduk berdus sambil melihat pemandangan orang-orang yang sedang sibuk bermain dengan anak-anak.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu Ang? sudah lama kita tidak duduk santai seperti ini" tanya tuan Bisseling pada Ang, antara Ang dan keluarga Bisseling memang sudah bersahat cukup baik dan dekat.


"Semua baik-baik saja Paman, sekarang perkembangannya juga semakin pesat." jawab Ang "Bagaimana dengan perusahaan Paman, Lanc bilang sedang proses pembangunan hotel dan mall di Indonesia?" tanya Ang.


"Ya, Lanc melebarkan sayapnya ke negara Indonesia, anak itu soal bisnis cukup pintar dan tidak perlu diragukan lagi, tapi sayang soal asmara dia tidak seberuntung kamu Ang, lihatlah tahun depan sudah memasuki usia empat puluh tahun, tapi masih tidak bisa memiliki keluarga." keluh tuan Bisseling pada Ang.


"Paman jangan terlalu menghawatirkan Putra paman, kalau dulu dia tidak memikirkan, sekarang dia sudah mulai memikirkan semoga saja tebakkanku tidak salah, namun mungkin tidak mudah untuk Lancelot mendapatkannya butuh perjuangan yang lumayan panjang, bisa-bisa putrinya sudah besar baru bisa mendapatkannya, itu menurut analisaku Paman." jelas Ang, mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Apa dia pernah berbicara padamu?" tanya tuan Bisseling.


"Sekarang Paman amati Putra Paman, bagaimana ekpresinya saat Putra pamam memandangi Hani," ucap Ang ambigu.


"Hani, aku rasa wanita itu ada kelebihan yang tidak kita ketahui," ungkap tuan Bisseling.


"Tepat sekali Paman, so kita tinggal tunggu waktu yang tepat, dan jika aku amati Hani bukan tipe perempuan yang mudah ditaklukkan dengan kekuatan harta, dia wanita yang penuh kasih sayang dah juga pemberani yang pasti dia wanita berjiwa kuat," beber Ang mengungkapkan analisanya tentang Lancelot dan Hanifah.


"Kamu cukup pintar menilai orang, Ang." puji tuan Bisseling pada Ang.


"Ya, tapi soal bisnis aku tidak sehebat Lanc, Putra Paman, melihat angka terlalu banyak susah membuatku pusing tujuh keliling." kekeh Ang mengakui kelemahannya dalam dunia bisnis.

__ADS_1


Tuan Bisseling juga terkekeh mendengar pengakuan jujur Ang, yang tanpa di tutup-tutupi. Tuan Bisseling dan Ang sengaja tidak ikut bermain dengan yang lain karena memang ingin mengamati dan memastikan bagaimana sikap Lancelot dalam berinteraksi dengan Hanifah. Ang dan tuan Bisseling tersenyum bersamaan melihat tingkah Lancelot yang berbeda dari biasanya.


"Sekarang Paman lihat sendiri bagaimana ekpresi putra Paman itu, sudah lama aku tidak melihat senyum tulus dari bibir Lanc, untuk seorang wanita, selama ini dia selalunya berwajah datar dan dingin saat menghadapi wanita!" ucap Ang sambil menunjui ke arah Lancelot yang sedang menikmati momen bermain dengan nona An.


"Aku acungi jempol, kamu cukup mahir dalam menilai sikap seseorang, tidak rugi dulu kamu sekolah ambil jurusan psikolog." tuan Bisseling tetap memuji Ang.


"Andaikan ada yang menghandel perusahaan mendiang orang tua saya, saya lebih memilih menjadi seorang psikolog dari pada seorang pengusaha." kelakar Ang.


Lancelot kembali bergabung dengan tuan Bisseling dan Ang setelah dirasa cukup bermain dengan putrinya "Kalian kelihatan senang sekali," sapa Lancelot yang ikut duduk.


"Tentu senang, bisa melihat kalian bermain bersama." sahut Ang dengan senyum senang.


"Nanti malam kita lanjut barbecue di sini saja, lagian anakmu besok liburkan." pinta Lancelot pada Ang.


"Kita lihat anak-anak dan istriku, kalau mereka ok, aku sih ok ok saja, toh sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama-sama seperti ini apalagi asa yang berbeda dengan kaku, jika biasnya hanya kamu sendiri sekarang ada tambahan pasukan baru, yaitu nona An, dan nona Hani." beget Ang.


"Baiklah, kita pesta di sini." Ang menyetujui ajakan Lancelot.


"Senang sekali bisa berkumpul seperti ini." tuan bersuara dengan perasaan lega.


"Baiklah sekarang aku kasih tahu Joyce." Lancelot langsung bangkit meninggalkan tuan Bisseling dan Ang.


Lancelot dengan perasaan berbunga-bunga mencari keberadaan Joyce, setelah mencari beberapa menit akirnya Lancelot menemukan Joyce yang sedang di gudang mengecek stok kebutuhan rumah Lancelot.

__ADS_1


"Joyce." panggil Lancelot begitu sudah melihat Joyce.


"Iya, Tuan ada yang bisa saya bantu," sahut Joyce sopan.


"Nanti malam kami mau melakukan barbecue di tempat biasa, mulai jam enam petang, sekarang jam tiga, berarti ada waktu tiga jam, jadi jsm enam semua sudah harus siap di tempat barbecue, oh ya untuk Hanifah tetap berikan makanan seperti biasa sebab aku tidak akan mengijinkan Hanifah makan makanan barbecue, tidak baik untuknya." intruksi Lancelot pada Joyce.


"Baik Tuan, segera kami siapkan seperti biasa kan tuan,?" tanya Joyce.


"Ya, seperti biasa." jawan Lancelot.


Setelah memberi arahan pada Joyce Lancelot meninggalkan Joyce, Joyce segera menuju dapur dan memberi instruksi pada yang lain supaya segera menpersiapkan seperti yang Lancelot pinta. Semua pekerja di dalam rumah Lancelot tepatnya bagian dapur dan bersih-bersih segera melakuakan pekerjaannya sesuai permintaan Lancelot. Semua pelayan segera bekerja sama untuk melakukan persiapan barbecue nanti petang.


Para pembantu Lancelot sangat sibuk dengan tugas mereka masing-masing, ada yang menata peralatan untuk barbecue ada yang di dapur mencuci beberapa bahan untuk barbecue, ada yan membersihkan lagi tempat untuk barbecue. Sambil menunggu jam enam petang mereka kembali untuk bermain lagi, namun tidak dengan nona An, kini nona An terlihat capek dan ngantuk.


"Maaf nyonya, nona kecil kelihatan mgantuk jadi saya mau menidurkan nona kecil." pamit Hanifah pada nona Ang dan nyonya Bisseling.


"Silakan," sahut nyonya Bisseling dan nyonya Ang ramah.


Hanifah meninggalkan mereka semua dan Hanifah membawa nona An untuk kembali ke kamarnya.


"Mau kemana Han?" tanya Lancelot saat berpapasan dengan Hanifah yang sedang menggendong putrinya.


"Nona An, ngantuk dan lapar tuan, jadi saya mau menyusui dan menidurkan nona An," sahut Hanifah jujur.

__ADS_1


"O, baiklah Silakan." ucap Lancelot.


Hanifah segera meninggalkan Lancelot, dan Lancelot kembali menuju ke taman untuk kembali bergabung dengan yang lainnya.


__ADS_2