
Malam ini Hanifah tidur sekamar dengan nona An, Hanifah sengaja tidak ingin meninggalkan nona An, sendirian karena tidak ingin menjadi trauma tersendiri bagi nona An atas kejadian barusan, sekarang nona An mengalami sedikit rewel, Hanifah dengan sabar membelai dan memeluk nona An. Untuk menenangkan nona An Hanifah mengeloni nona An, seperti beberapa hari yang lalu Hanifah tidur seranjang dan terus memeluk nona An. Nona An tidur terlelap dan sama sekali tidak terusik ole apapun, setelah nona An tidur Hanifah masih terjaga Hanifah merasa sangat nyaman bisa tidur dan memeluk nona An, sekelebat bayangan tadi muncul di otak Hanifah.
Hanifah sekarang baru sadar jika dalam pembicaraan tadi ada sedikit yang tidak beres, Hanifah bingung bagaimana orang-orang mengatakan jika Hanifah kekasih Lancelot. A ling juga ikut serta mengatakan jika Hanifah kekasih Lancelot belum lagi tentang pengakuan Lancelot sendiri, Hanifah masih belum bisa mencerna kata-kata dari orang-orang tadi.
"Orang kaya memang sangat membingungkan, mudah sekali mengklaim sesuatu tanpa bertanya maupun memberitahu pada yang bersangkutan, jika hanya gurauan pasti yang tahu paling hanya tuan Dandruff dan tuan Ang, bagaimana nona A ling sampai mengatakan jika aku kekasih tuan, sungguh sangat keterlaluan tuan Lancelot." gumam Hanifah dalam hati kesal.
Pagi-pagi sekali Hanifah sulit untuk bangun karena tubuh Hanifah terasa sangat tidak nyaman untuk bergerak. Hanifah dengan terpaksa meminta bantuan pada suster untuk membantu Hanifah dalam melaksanakan pekerjaannya.
"Han selamat pagi," sapa Joyce yang baru masuk kamar nona An.
"Selamat pagi kak Joyce." Hanifah balik menyapa.
"Bagaimana, Han ?" tanya Joyce.
"Tubuhku terasa kaku dan pegel -pegel semua kak, mungkin sudah lama tidak bergerak jadi kaget, maaf kak, aku hari ini membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga sebab semalam benar-benar menguras tenaga." ucap Hanifah yang masih terbaring di ranjang nona An.
"Istirahat saja kamu Han, kami sudah mendapat perintah untuk membantu kamu, dan kamu memang disuruh banyak istirahat, oleh Tuan jadi untuk urusan nona An, aku dan suster yang akan membantu merawat nona An." sahut Joyce menjelaskan.
"Terima kasih kak Joyce." sahut Hanifah dengan posisi seperti semua masih berbaring "Kak bagaimana keadaan tuan?" tanya Hanifah pada Joyce.
"Tuan, masih tidur belum bangun," sahut Joyce.
"Ooo," Hanifah hanya beroh ria.
Nona An, dengan tetap berada di atas ranjang bermain bersama dengan Hanifah dan suster yang ditugaskan untuk membantu Hanifah dalam menjaga nona An.
__ADS_1
Lancelot pagi ini juga mengalami hal serupa seperti Hanifah, tubuh Lancelot juga terasa tidak nyaman. Luka bekas pukulannya semalam membuat nyeri di bebera bagian tubuh Lancelot, hari ini Lancelot memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, pertama tubuhnya masih terasa sakit dan juga memar dalam tubuhnya juga tidak bisa di tutupi, agar tidak menjadi konsumsi publik berada di rumah lebih aman.
Lancelot memainkan gawainya di atas kasur untuk melihat barangkali ada berita terbaru, Lancelot terus mencari berita tentang kejadian semalam siapa tahu ada berita menarik tentang kejadian semalam. Lancelot setelah capek bermain hand phon-nya dia mencari Dandruff untuk menanyakan tentang A ling, semalam baru saja Lancelot memulai pembicaraan pintu kamar Lancelot ada yang mengetuk dan memanggil nama Lancelot.
"Ada apa?" tanya Lancelot
"Ini saya tuan, Joyce, di luar tuan Ang sudah menunggu tuan, bagaimana?" suara Joyce dari luar kamar Lancelot.
"Suruh Ang, masuk ke kamarku saja." perintah Lancelot pada Joyce.
"Baik tuan, segera saya panggilan tuan Ang." sahut Joyce.
Joyce segera turun ke lantai bawah untuk menemui tuan Ang, sesampainya di lantai bawah Joyce segera memberitahu Ang jika Lancelot menunggunya di kamarnya sendiri. Ang yang mendapat laporan dari Joyce, dia segera bergegas bangkit dari duduknya, Ang dengan percaya diri dia langsung melangkah menuju kamar Lancelot, sebelum Ang masuk kamar Ang mengetuk pintu kamar Lancelot terlebih dahulu.
Ang segera masuk setelah mendapat persetujuan dari dalam.
"Selamat pagi tuan Lancelot, bagaimana sungguh jekek wajahmu sekarang." gurau Ang.
"Sialan, kau Ang." sahut Lancelot.
Ang malah tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Lancelot, Ang memilih duduk di samping ranjang Lancelot, sedang Lancelot juga duduk bersandar di kepala ranjang.
"Soal A ling, sudah beres dan kamu jangan khawatir tidak akan ada berita yang memust kejadian semalam," jelas Ang.
"Itu lebih bagus, aku tidak mau Hanifah ikut menjadi konsumsi publik." ucap Lancelot.
__ADS_1
"Tenang saja, tidak ada yang tahu soal semalam, oh ya bagaimana dengan Hani?" tanya Ang.
"Aku belum melihatnya lagi, tapi biarlah dia istirahat, dia butuh istirahat untuk memulihkan tenaga." jelas Lancelot.
"Apa dia teekuka parah? semalam kelihatannya baik-baik saja kan?" tanya penasaran.
"Ya, dari luar dia baik-baik saja bahkan lukanya juga tidak sebanyak diriku, sebab semalam dia lebih banyak menggunakan tenaga dalamnya dan lebih fokus, sehingga dia lebih aman Hanifah sangat luar biasa." jelas Lancelot.
"Kamu?" tanya Ang.
"Semalam aku lebih tidak konsentrasi, bagaimana aku bisa konsentrasi aku menghawatirkan anakku dan Hanifah, kehadiran mereka berdua membuat konsentrasiku terpecah." jelas Lancelot lagi.
"Aku paham dengan hal itu, itu artinya kamu memang mencintai Hani, dari matamu aku dapat menangkapnya jika kamu sangat mencintai Hani."
"Entahlah, ini hanta sekedar rasa terima kasih atau cinta, aku tidak akan gegabah lagi." ucap Lancelot.
"Terserah hatimu, namun aku ingatkan jangan sampai kamu menyesal jika Hani pergi, sebab wanita seperti Hani tidak mudah ditaklukkan," jelas Ang.
"Aku, tahu itu, terima kasih semalam kamu sudah mengurus A ling." ucap Lancelot.
"Aku ingin melihat keadaan anakmu sama Hani, boleh?" Ang minta ijin Lancelot.
"Tentu boleh tapi tidak sekarang, nanti saja Joyce bilang Hani butuh istirahat." jelas Lancelot.
"Baiklah, mungkin nanti malam aku akan datang lagi, istirahatlah aku akan kembali ke kantor." Ang bangkit berdiri dan segera pamit, Ang meninggalkan kamar Lancelot dengan perasaan tenang.
__ADS_1