
Hampir semua pekerja Lancelot tahu tentang hubungan yang terjalin antara Hanifah dan Lancelot, perhatian Lancelot yang berlebihan pada Hanifah membuat hampir semua pekerja mengetahuinya jika Lancelot sangat menginginkan Hanifah, untuk di jadikan pendampingan hidupnya. Hanifah sampai saat ini masih tetap bersikap biasa saja terhadap Lancelot, namun Hanifah juga terlihat sangat menyayangi nona An, sangat tulus, begitu juga nona An, sangat menyayangi Hanifah, sehingga membuat para pekerja merasa aneh dengan sikap Hanifah.
Lancelot masih berada di kota Malang, dia sengaja menikmati sore harinya di luar resort yang di sewanya, Lancelot tertarik dengan sebuah pusat perbelanjaan yang dekat dengan resort tempat Lancelot, menginap. Lancelot masih di temani oleh Dandruff, serta Setu Pon, mereka berkeliling di pusat perbelanjaan. Pusat pebelanjaaan tersebut tidak jauh beda dengan pusat perbelanjaan yang ada di negara Hongkong, namun yang membedakan hampir seluruh karyawannya memakai pakaian serba tertutup.
Mereka bertiga terus mengelilingi pusat perbelanjaan tersebut, Lancelot tertarik pada baju yang berbahan batik coraknya unik dan belum pernah di jumpai di negara lainnya. Lancelot dengan ditemani oleh Dandruff dan Setu Pon memasuki galeri tersebut, di dalam galeri tersebut tidak hanya menjual pakaian pria namun juga ada pakaian wanita dewasa dan anak-anak. Batik dengan model couple anak, ayah dan ibu sangat mendominasi galeri tersebut.
"Dand, menurutmu bagaimana jika aku membeli pakaian ini untuk aku, An dan Hani?" tanya Lancelot pada Dandruff.
"Sangat cantik dan unik tuan, coraknya juga sangat berbeda cocok untuk kalian bertiga," sahut Dandruff memberi pendapat.
Lancelot menjatuhkan pilihan bajunya pada batik family couple, Lancelot tidak hanya membeli sepasang namun Lancelot memilih empat pasang family couple dengan warna, corak serta model yang berbeda, model pilihan Lancelot semua jatuh pada model baju Muslim, jadi untuk wanita lengkap dengan Hijabnya. Bukan hanya Lancelot yang membeli batik, Dandruff juga tertarik dengan motif batik tersebut, tidak ketinggalan Setu Pon juga memilih beberapa potong baju untuk keluarganya, tentu Setu Pon membeli sesuai dengan permintaan istrinya.
Tiga pria tersebut bahagia sekali setelah selesai membayar baju-bajunya mereka meninggalkan galeri tersebut, kali ini Lancelot merogoh uang tidak banyak seperti di London dulu, waktu belanja di London Lancelot bisa merogoh sampai ratusan ribu dolar Hongkong, di Indonesia Lancelot hanya menghabiskan tidak lebih dari sepuluh ribu dolar Hongkong jika di kurs-kan ke dolar Hongkong. Beberapa kantong kertas sudah berada di tangan mereka masing-masing, selesai membeli baju dan beberapa pernak-pernik khas Indonesia mereka bertiga kembali ke resort untuk menaruh barang bawaan mereka di kamar masing-masing. Mereka bertiga setalah selesai menaruh barang belanjaannya mereka kembali keluar Resort untuk menikmati kuliner yang berada di sekitar resort tersebut, Lancelot dan Dandruff mencoba beberapa makanan khas malang, tentunya dengan di dampingi oleh Setu Pon dan sang sopir, mereka berempat berjalan kaki menyusuri ruas jalanan kota, di samping mengamati keadaan sekitar Lancelot juga tidak lupa mengabadikan keberadaannya di kota Malang.
Lancelot menikmati malam tersebut dengan perasaan tenang dan bahagia, sebagai otak pebisnis Lancelot mencari celah bisnis apa yang kiranya bisa di kembangkan di kota Malang.
"Tuan Pon, dari tadi kita jalan kenapa tidak menemukan Bar, seperti waktu di Bali, apa di kota ini tidak ada bar?" tanya Lancelot penasaran, pasalnya dari tadi yang di jumpai hanya kedai makanan dan kedai minuman ringan.
__ADS_1
"Di kota ini tetap ada bar, namun dengan jumlah jauh lebih sedikit di bandingkan dengan pulau Bali, sebab turis di kota Malang mayoritas turis lokal, kalaupun ada turis manca jumlah ya tidak sebanyak di pulau Bali." jelas Setu Pon.
"Pantas, udaranya setiap hari apa sejuk seperti ini atau hanya waktu tertentu saja, pasalnya Indonesia negara dengan iklim tropis," ujar Lancelot.
"Kota malang setiap hari sejuk seperti ini Tuan, udaranya sangat enak tidak panas dan juga tidak dingin." jelas Setu Pon.
Lancelot dan Dandruff terus menggali informasi tentang kota Malang serta kebiasaan orang Malang, di samping menggali informasi tentang kebiasaan orang Malang, Lancelot sedikit demi sedikit juga menggali informasi tentang seorang Muslim, pasalnya di kota Malang Lancelot banyak menjumpai wanita yang memakai pakaian tertutup serta senyum ramah dari warga membuat Lancelot semakin tertarik.
Malam semakin larut Lancelot dan Dandruff serta dua orang kawannya kembali ke resort untuk istirahat, Lancelot masuk kamar setelah membersihkan diri dia langsung terlelap dalam mimpinya, sebab terlalu capeknya Lancelot sampai tidak sempat menelpon nona An, maupun Hanifah.
Tut tut tut tut
Tidak sampai menunggu lama Semi menerima panggilan dari Hanifah.
"Assalamu'alaikum Han, kamu belum tidur Han?" tanya Semi.
"Ya belum Buk ini momonganku saja baru tidur, bagaimana Buk dengan akad jual beli tanah tadi?" tanya Hanifah langsung pada intinya.
__ADS_1
"Yang mempunyai tanah sepakat untuk kita bayar lima puluh persen dulu Han, dan mereka minta seperti yang bapak kemarin bilang ya itu seratus juta, namun jika di bayar langsung tidak di cicil, tidak sampai seratus juta," jelas Semi " Soal uang tadi bagaimana han?" tanya Semi.
"Soal, uang tadi majikanku yang memberikannya, sebenarnya aku juga belum bilang berapa jumlah yang Han inginkan, kemarin lusa Han, hanya tanya jika bisa transfer uang aku mau minta tolong untuk mentransferkan, eh malah di kasih cash soal tanah jika uangnya cukup bayar cash saja buk biar tidak jadi pikiran," ujar Hanifah "Bapak mana Buk?" tanya Hanifah.
"Bapakmu masih ada pengajian bapak-bapak, di desa sebelah sebentar lagi paling juga pulang," sahut Semi apa adanya.
"Oh pantes, oh ya buk tadi yang mengantar itu orang suruhan majikanku, ternyata majikanku sekarang sedang melakukan perjalanan bisnisnya di Bali, itu sebabnya majikanku menyelipkan uang cash dalam paketannya," jelas Hanifah panjang lebar.
"Pantesan tadi yang ngantar paketanmu mobilnya bagus sekali, seperti mobil mahal, soal uangmu untuk membeli tanah sudah cukup Han, besok bapak dan ibuk tak ke sana," jelas Semi lagi.
"Baik buk, jika kurang ibuk bilang saja ke Han," pesan Hanifah.
"Sudah cukup kok Han, kamu tenang saja di sana jaga kesehatan dan cepat istirahat kamu kelihatan capek sekali gitu," Semi menyuruh Hanifah untuk segera istirahat.
"Ya, hari ini Han capek sekali namun minimal sudah lega juga, sebab tahu asal muasal uang tersebut, kalau begitu aku tutup telponnya Salam buat bapak, assalamu'alaikum buk."
"Wa'alaikum salam Han, hati-hati." jawab semi langsung mematikan panggilan video call tadi dengan perasaan lega tidak lagi khawatir seperti tadi siang saat menerima paketan tadi.
__ADS_1