Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 135


__ADS_3

Lancelot kembali berkutat dengan kertas dan juga layar monitor yang ada di hadapannya dengan dibantu oleh Dandruff sang asisten pribadinya serta sekretarisnya.


"Dand bagaimana proyek kita yang Bali, dan jangan lupa siapkan proposal unto proyek kita yang ada di kota Malang." perintah Lancelot.


"Semua sudah beres Tuan, hotel yang di Bali semua berjalan lancar tidak ada kendala sedikitpun, sekarang kita bisa memulai proyek yang ada di kota Malang, seminggu lagi pihak kontraktor datang kemari untuk menanda tangani perjanjian kontrak kerja kita dan apa Hani tahu jika orang tuanya tuan datangnkan?" ucap Dandruff.


"Jangan sampai Hani, tahu aku ingin membuat kejutan buatnya, selama ini kami tahu bagaimana Hani, menyayangi keluargaku dengan baik." jelas Lancelot.


"Ya, tuan saya tahu, sudah sepantasnya nona memiliki mama seperti Hani, wanita berhati mulia, jika tuan bisa menjadikan Hani, mama sungguh an buat nona An, aku rasa nona An, sangat bahagia sekali, dan jangan lupa buat adik untuk nona An." ujar Dandruff sedikit menggoda Lancelot.


"Entahlah Dand," ujar Lancelot ragu.


"Yakinlah Tuan," nasehat Dandruff.


"Dand, nanti malam aku ada janji dengan orang dari masjid Tst, jangan sampai ada jadwal lainnya."


"Baik Tuan untuk nanti malam, tidak ada jadwal apapun." jawab Dandruff.


"Bagus." sahut Lancelot sambil mengecek dokumen.


Lancelot dan Dandruff fokus dengan pekerjaan masing-masing, di hari pertama Lancelot bekerja banyak sekali tugas yang di berikan oleh tuan Bisseling untuknya. Seharian penuh Lancelot bekerja berhenti hanya untuk makan siang saja.


Jam lima sore Lancelot mengakhiri pekerjaannya, Lancelot pulang dengan di antar oleh Dandruff dan sang sopir. Nona An yang sedang bermain di ruang tengah begitu melihat Lancelot pulang dis langsung menuju pintu dengsn di temani oleh Hanifah untuk menyambut kepulangan Lancelot.


"Papa!" seru nona An, girang nona An, menyodorkan tangan pada Lancelot untuk bersalaman dan mencium tangan Lancelot.


"Anak papa, lagi ngapain tambah pintar saja." Lancelot memuji tingkah nona An.


"Tuan, selamat sore," sapa Hanifah sopan.


"Sore Han." sahut Lancelot " Ayo antar papa ganti baju." Lancelot mengajak nona An, untuk iku.


"Ma." Nona An, minta persetujuan dari Hanifah.


"Boleh, tapi jangan ganggu papa dan Om Dand, ya." pesan Hanifah pada nona An.

__ADS_1


Nona mengangguk tanda setuju, nona An duduk dalam pangkuan Lancelot ikut masuk ke kamar sementara Lancelot.


"Tadi, anak papa diajari apa saja sama mama?" tanya Lancelot penuh kasih.


"Banyak sekali pa, tadi gambal, nyanyi bermain." Nona menceritakan semua yang di lakukan tadi mulai di sekolah sampai di rumah.


"Sekarang, anak papa turun dulu ya, papa mau ganti baju dulu." Lancelot menurunkan nona An.


"Dand, tolong bantuin." Lancelot minta bantuan Dandruff untuk bisa berdiri, sekarang untuk jalan selain menggunakan kursi Rosa kalau di rumah Lancelot sudah bisa menggunakan alat penyangga, sehingga sedikit luluasa utuk bergerak.


"Tuan, ingin memakai baju yang mana?" tanya Dandruff.


"Biar aku ambil sendiri saja Dand, tolong jaga An," pinta Lancelot.


"Kenapa tuan tidak memakai suster lagi?" tanya Dandruff.


"Sudah ada kanu dan Hani, sudah cukup Dand, sebentar lagi cukup Hani, saja." ujar Lancelot.


Lancelot setelah selesai membersihkan diri dia mengajak nona An, untuk bermain di ruang tengah menyusul Hanifah yang tengah membantu para pekerja untuk berbenah.


"Anak mama, tadi ganggu papa tidak?" tanya Hanifah lembut.


"An, cukup manis." Lancelot yang menjawab "Apa yang kamu lakukan Han, sudah aku bilang tugasmu itu hanya menjaga An, jangan mengerjakan apapun jika tidak ada hubungannya dengan An." protes Lancelot.


"Maaf, tuan saya hanya membantu untuk mendekorasi ruangan saja." sahut Hanifah sefikit takut.


"Sekarang temani kami ke taman, Dandruff mau mandi dan membersihkan diri." perintah Lancelot.


"Baik Tuan."


Hanifah menuruti perintah Lancelot, karens hati masih sangat terang jadi Lancelot, mengajak Hanifah dan nona An untuk menikmati indahnya sore di taman belakang rumah. Lancelot tetap duduk di kursi rodanys sedangkan Hanifah berjalan di dekat kursi roda sambil menggandeng tangan nona An.


"Han, apa kamu masih tetap pada pendirianmu?" tanya Lancelot serius.


"Tentang apa tuan ?" tanya Hanifah tidak mengerti maksud dari Lancelot.

__ADS_1


"Pernikahan."


"Ya, sesering apapun tuan bertanya jawaban says tetap sama, saya hanya akan menikah dengan orang yang seiman saja." jawab Hanifah semakin tegas.


"Alasannya?"


"Cukup sederhana Tuan, jika dalam mengarungi samudera dengan menggunakan kapal, di dalam kapal tersebut memiliki dua nahkoda dengan tujuan yang berbeda kira-kira, kapal tersebut bagaimana? Apakah sampai di tempat tujuan dengan selamat?, atau malah kapal terebut berhenti terombang-ambing di tengah samudera tidak jelas dengan tujuannya, dan di saat terombang-ambing di tengah samudera kapal diterpa badai yang sangat hebat, apa yang terjadi jika kedua nahkoda tetap tidak bisa menentukan tujuannya? yang pasti lap tersebut karam, karena cobaan dalam berumah tangga itu tidaklah segampang memiliki anak dari rahim kontrak." jelas Hanifah.


"Han Jika aku mengikuti keyakinanmu apa kamu bersedia menikah denganku?" tanya Lancelot.


"Lalu apa tujuan tuan mengikuti keyakinan saya , jika tujuan tuan hanya ingin menikah dengan saya, terus terang lamaran Tuan saya tolak." ucap Hanifah tegas.


"Kenapa?" tanya Lancelot frustasi.


"Jika yang menjadi tujuan tuan adalah saya maka jika saya tidak ada keimanan Tuan, akan rapuh, apa itu yang Tuan, inginkan?, ibarat membangun rumah jika pondasinya tidak kuat sedikit terkena topan bangunan tersebut akan hancur dalam waktu sekejap, maka sia-sialah kerja keras Tuan." jelas Hanifah santai.


Lancelot termenung mendengar penjelasan dari Hanifah, Lancelot berusaha berpikir untuk mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Hanifah.


"Terima kasih Han, saat ini Aku memang belum pantas untuk bisa mendampingimu, aku tahu imanku masih lemah, aku mohon Han, bantu aku agar aku pantas bersanding denganmu." pinta Lancelot penuh harap.


"Maaf, Tuan jika ucapan saya menyinggung perasaan Tuan, pantas dan tidaknya hanya Tuhan yang tahu," ucap Hanifah sopan.


"Selama ini banyak yang tergila-gila denganku karena hartaku, tapi apa yang aku lihat dari kamu, semuanya berbeda, kenapa kamu tidak tergoda sama sekali dengan hartaku?" tanya Lancelot.


"Siapa yang bilang saya tidak tergoda dengan harta Tuan saya pun tergoda dengan kemewahan yang Tuan berikan, pasti semua wanita menginginkan hidup mewah, suami ganteng kece bertanggung jawab, nah yang saya maksud bertanggung jawab itu bukan hanya tanggung jawab di dunia saja tapi harus bertanggung jawab sampai akhirat." ucap Hanifah berapi-api.


"Kalau kamu memang tergoda dengan hartaku kenapa kamu menolak lamaranku?" tanya Lancelot sedikit kesal.


"Di dunia tuan mampu bertanggung jawab, namun di akhirat apakah tuan sudah siap lagian saya itu punya orang tua, Tuan." pungkas Hanifah.


Lancelot semakin bingung dengan ucapan Hanifah yang sedikit berkelit dan muter seperti roller-coaster.


"Tuan, mantapkan hati Tuan dulu sebelum mengambil keputusan besar." pesan Hanifah pada Lancelot.


"Terima kasih Han."

__ADS_1


Lancelot mengangguk berusaha memajani semua kalimat yang diucapkan oleh Hanifah barusan, Lancelot seorang pebisnis handal namun sekarang terlihat bodoh di hadapan Hanifah, ketika membahas tentang keyakinan dan kehidupan.


__ADS_2