
Mendapat permintaan dari Lancelot untuk mendandani Hanifah dan nona An membuat nyonya Bisseling sangat antusias, tanpa Lancelot ketahui nyonya Bisseling langsung memanggil salon langganan nyonya Bisseling untuk datang kerumah segera, Tuan Bisseling melihat tingkah nyonya Bisseling hanya bisa geleng-geleng kepala, Tuan Bisseling paham jika istrinya sangat merindukan hadirnya seorang menantu dalam rumahnya. Nyonya Bisseling segera membuat janji dengan orang salon, tidak begitu lama dua orang dari salon langganan nyonya Bisseling datang. Joyce mengantar petugas dari salon untuk menemui nyonya Bisseling di ruang khusus yang ada di rumah Lancelot.
"Han, kamu disuruh menghadap nyonya besar sekarang." panggil pada Joyce pada Hanifah yang berada di kamar nona An yang sedang bermain dengan nona An.
"Sekarang kak?" tanya Hanifah tidak percaya.
"Iya ayo, sekarang nona An sedang tidur kan, sus nanti jika nona An bangun dan Hani belum kembali kabari aku." pesan Joyce sebelum meninggalkan kamar nona An, bersama Hanifah.
"Sus, aku pergi dulu." pamit Hanifah.
"Baik, saya akan jaga nona An." sahut suster yang sedang bermain dengan nona An di dalam kotak mainan.
Hanifah mengikuti langkah Joyce tanpa banyak tanya, Joyce melangkah menuju lantai bawah hingga berada di salah satu ruangan Joyce masuk.
"Ayo Han, nyonya sudah menunggumu." ucap Joyce." Nyonya ini Hani."
"Selamat siang nyonya." sapa Hanifah sopan dan lembut pada nyonya Bisseling, selain menyapa nyonya Bisseling Hanifah juga menyapa dua wanita tamunya nyonya Bisseling.
"Terima kasih Joyce." ucap nyonya Bisseling.
"Sama-sama nyonya." Joyce lalu pergi meninggalkan Hanifah dan nyonya Bisseling.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Hanifah sopan.
"Hari ini Aku mengundang orang untuk membantumu facial, dan beberapa perawatan kecantikan, kamu tenang ini sangat aman bagi wanita yang menyusui." jelas nyonya Bisseling tanpa diminta oleh Hanifah.
Mendengar penjelasan dari nyonya Bisseling Hanifah terkejut dan tidak percaya, Hanifah berusaha menolak untuk facial dan beberapa perawatan kecantikan karena sumur-umur Hanifah tidak pernah melakukan perawatan kecantikan, namun siapa yang bisa membantah keputusan nyonya Bisseling, apalagi ini permintaan Lancelot. Membujuk Hanifah juga bukan perkara mudah bagi nyonya Bisseling jika pekerja lain pasti susah sangat girang namun justru tidak dengan Hanifah, setelah sedikit terjadi negoisasi alot akhirnya Hanifah menyerah mengikuti ide konyol nyonya Bisseling.
"Kak tolong kalian percantik, nona Hani." perintah nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Baik nyonya, namun jika dilihat dari jenis kulitnya nona Hani tidak perlu banyak perawatan, karena tektur kulitnya cukup bagus, hanya sedikit facial saja sudah." jelas pegawai salon tersebut.
"Lakukan yang terbaik untuk nona Hani." perintah nyonya Bisseling.
Pagawai salon mulai melakukan tugasnya untuk melakukan perawatan kecantikan pada Hanifah, proses baru juga satu jam nona An sudah bangun dan menangis, akhirnya kegiatan perawatan berhenti, masih dengan kondisi tidak sempurna Hanifah menyusui nona An terlebih dahulu, setelah Hanifah selesai menyusui nona An, pegawai salon melanjutkan lagi pekerjaannya untuk melakukan perawatan pada Hanifah. Melakukan perawatan dan menyusui membuat proses perawatan memakan waktu yang lama, jika normalnya hanya dua sampai tiga jam kali ini butuh waktu lima jam. Selesai melakukan tugasnya pegawai salon meminta pamit untuk undur diri, sekarang Hanifah terlihat lebih segar dari biasanya.
"Han, tuan sudah memberi tahu kamu bukan jika besok teman tuan bakal datang, dan kalian berdua harus tampil cantik, jangan permalukan kami terutama tuan mudamu, sekarang kita pilih baju untuk kalian" jelas nyonya Bisseling.
"Baik nyonya."
Hanifah nurut saja mengikuti segala instruksi nyonya Bisseling, nyonya Bisseling membawa Hanifah masuk ke kamar Hanifah, di dalsm kamar Hanifah nyonya Bisseling langsung menuju lemari tempat menyimpan baju Hanifah, Hanifah tidak memiliki baju yang banyak karena Hanifah juga tidak ada waktu untuk belanja, sehingga baju yang dipakai Hanifah juga itu-itu saja baju pemberian nyonya Bisseling beberapa bulan lalu.
"Ternyata kamu tidak memilki baju, Han?" tanya nyonya Bisseling yang baru menyadarinya jika baju Hanifah tidak banyak menurut dari pandangan nyonya Bisseling.
"Semua baju saya ya di situ nyonya dan ada beberapa yang bagus nyonya, ini masih bagus-bagus semua." jelas Hanifah sambil menunjukkan letak Tata bajunya.
"Baju segini kamu bilang banyak Fah?" tanya nyonya Bisseling tidak percaya dengan ungkapan Hanifah.
Nyonya Bisseling tidak lagi menghiraukan ucapan Hanifah nyonya Bisseling mulai sibuk melihat-lihat baju yang cocok untuk Hanifah pakai besok. Baju nona An, tentu berbandibg berbalik nyonya Bisseling dengan di bantu Hanifah memakai baju dengan warna senada dengan milik Hanifah.
Hari ini karena Lancelot banyak pekerjaan Lancelot baru sampai rumah pukul sebelas malam, jam segitu tentu nona An sudah terlelap dengan mimpinya, bukan hanya nona An seluruh penghuni rumah Lancelot sudah masuk kamar untuk istirahat. Sesampainya di rumah Lancelot selalu melihat putrinya setelah membersihkan diri.
Pagi ini semua yang ada di rumah Lancelot melakukan tugasnya seperti biasa, ada yang berbeda, ya tentunya Hanifah. Jam sepuluh pagi Lancelot baru keluar dari kamarnya karena baru bangun, sedang nyonya Bisseling sedang ada urusan keluar dengan tuan Bisseling. Hanifah beserta suster membawa Nona An beraktifitas di taman belakang untuk berjemur. Melihat nona An dan Hanifah di taman Lancelot ikut bergabung dengan Hanifah, nona An, dan suster.
"Selamat pagi Tuan." sapa Hanifah dan suster sopan.
"Selamat siang," sahut Lancelot tidak sadar jika salah menyahut, sebab Lancelot sedikit tertegun melihat sedikit perubahan pada Hanifah.
"Tuan, sekarang baru jam sepuluh pagi." protes Hanifah.
__ADS_1
"Oh... Aku kira sudah siang soalnya mataharinya sudah sangat panas." sahut Lancelot asal.
Lancelot mengamati setiap garak nona An yang berumur hampir enam bulan, nona An bertingkah seperti bayi biasanya, tangan nona An berusaha untuk menggapai-gapai tangsn Lancelot, Lancelot sangat bahagia melihat tingkah putrinya yang lucu dan juga memiliki perkembangan yang sangat bagus, tidak teras mereka berempat sudah satu jam menghabiskan waktu di taman untuk menemani nona An bermain di ruang terbuka.
"Han, sudah jam sebelas sebentar lagi temanku datang segera siap-siap, jangan permalukan aku." pesan Lancelot pada Hanifah.
"Baik tuan." sahut Hanifah.
"Han, Lanc rupanya kalian di sini!" seru nyonya Bisseling yang sudah tampil cantik nan anggun.
"Dari mana Ma?" tanya Lancelot pada nyonya Bisseling.
"Biasa dari salon," sahut nyonya Bisseling enteng.
"Nyonya." sapa Hanifah dan suster sopan.
"Waktunya kalian siap-siap ayo kita mandikan tuan Putri kita!" seru nyonya Bisseling girang.
Hanifah dan suster segera membawa masuk nona An untuk dimandikan, sedang nyonya Bisseling masih duduk bersama dengan Lancelot ditaman.
"Lanc, menurutmu bagaimana penampilam Hanifah kali ini?" tanya nyonya Bisseling penuh selidik.
"OK, cukup pantas tidak terlalu ndeso." sahut Lancelot cuek.
"Baiklah, tidak sia-sia usaha mama kemarin, jam berapa mereka datang?" tanya nyonya Bisseling pada Lancelot.
"Sekitar jam dua belas, mereka datang, mana tahu sendirikan hari sabtu anak-anak Ang bangun siang, barusan Ang kirim pesan jika anaknya baru bangun jam sepuluh tadi." jelas Lancelot.
"O... Sekarang mama masuk dulu mau bantuin Hanifah dandan biar tidak mengecewakanmu." ucap nyonya Bisseling lalu pergi meninggalkan Lancelot masih duduk sendiri.
__ADS_1
Lancelot tersenyum senang melihat nyonya Bisseling yang begitu bahagia dan sangat antusias untuk mendandani nona An dan Hanifah seperti permintaannya, tadinya Lancelot tidak pernah berpikir jika nyonya Bisseling bakal memakai jasa salon untuk pearawatan kecantikan Hanifah.