Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 143


__ADS_3

Suara Adzan dari hp berkumandang dengan merdunya, Hanifah terbangun jam menunjukan pukul tiga pagi bukan hanya Hanifah saja yang bangun Semi dan juga Legi ikut terbangun.


"Apa sudah subuh perasaan baru saja tidur?" tanya Semi.


"Kita tahajud dulu buk." sahut Hanifah.


"Tiwaa kaged aku kira gak bisa bangun untuk sholat tahajud Han, ibuk bersyukur kaku tetap menjaga sholat malammu." ucap Semi dengan senyum bangga.


"Kalian ayo cepetan ambil air wudhu." perintah Legi pada mereka berdua.


Hanifah dan semi bergegas turun dari ranjangnya pelan-pelan agar tidak mengusik tidur nyenyaknya nona An. Semi dan Hanifah selesai ambil air wudhu mereka sholat tahajud berjamaah, mereka bertiga sangat bahagia sekali sebab sudah lama tidak bisa melakukan sholat tahajud berjamaah seperti sekarang.


Mereka memanjakan rasa syukur atas nikmat yang tak terhingga sampai hari ini, karena mereka baru saja melakukan perjalanan sehingga mereja hanya dzikir setengah jam saja dan kembali tidur lagi.


Suara Adzan subuh mereka bertiga kembali bangun lagi dan melakukan sholat berjamaah lagi, setalah selesai sholat subuh Semi, Legi menengok ke arah luar dari jendela. Suasana di luaran sana masih sangat sepi, seperti tengah malam saja, benar apa yang di katakan Hanifah pada kedua orang tuanya, di negara Hongkong jika pagi hari tidak ada kicauan burung, ayam berkokok maupun suara Adzan dari tempat ibadah. Menurut Legi dan Semi pagi ini terasa aneh, di dalam hotel mereka berdua juga tidak tahu harus ngapain, melihat televisi juga tidak paham bahasanya, sedangkan Hanifah memilih kembali ngeloni nona An.


Setengah tujuh pagi hand phone Hanifah berdering panggilan datang dari Lancelot.


"Selamat pagi Tuan," sapa Hanifah masih dengan suara khas orang baru bangun tidur.


"Kamu tidur di mana Han?" tanya Lancelot.


"Di kamarnya bapak dan ibuk." sahut Hanifah jujur.


"Aku kira apa yang kamu katakan hanya gurauan belaka ternyata benar kamu tidur sama orang tuamu, An sudah bangun bekum?" tanya Lancelot.


"Nona An, belum bangun biasanya dia baru bangun jam tujuh tuan, jika hari minggu bisa sampai jam delapan maupun jam sembilan baru bangun." jelas Hanifah.


"Baiklah, jika An sudah bangun kabari aku, sekarang aku pesankan sarapannya nanti biar di kirim ke kamar orang tuamu saja, jika kamu sudah bangun cepetan kamu mandi dan ganti baju, habis ini aku akan ngajak kalian semua untuk keluar," perintah Lancelot pada Hanifah.

__ADS_1


"Baik tuan, saya akan segera membersihkan diri." jawab Hanifah.


"Siapa Han ?" tanya Semi yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Majikanku buk, biasa merintah ini merintah itu, wes pokok e majikanku itu super sekali, masa jam segini sudah di suruh siap-siap." sahut Hanifah menggeliatkan tubuhnya.


"Cepetan kamu mandi, lagian pagi-pagi kalau mandikan ya seger to Han," perintah Semi.


"Ya, Buk kalau di kampung ya biasa pagi-pagi mandi kalau orang sini ya aneh buk." sahut Hanifah masih bermalas-malasan.


"Yo wes sak karepmu nduk." ucap Semi mengalah.


"Aku mau mandi di kamar sebelah soale baju-bajuku di kamar sebelah, nitip anakku dulu ya Buk." ucap Hanifah.


"Yo, dan kamu cepetan mandi segera kembali ke sini." sahut Semi.


Hanifah turun dari ranjangnya dia keluar dari orang tuanya, dia menuju kamarnya sendiri, sesampainya di kamarnya sendiri Hanifah segera mandi setelah selesai mandi Hanifah berusaha mencari baju yang akan di pakainya, Hanifah sedikit heran karena baju yang berada di dalam koper bukanlah gamis milikinya, karena Hanifah sama sekali tidak mengenali baju-bajunya, kemarin membuka hanya mengambil baju tidur yang di letakkan di bagian paling atas dan setelah ambil baju tidur Hanifah tidak mengecek lagi. Karena penasaran Hanifah mengecek dengan menelpon Lancelot menanyakan perihal baju yang ada di kopernya.


"Ya, Han, ada apa pagi-pagi sudah telon aku, apa sudah kangen atau sudah lapar?" goda Lancelot pada Hanifah.


"Tuan, saya mau tanya tentang baju yang ada di dalam koper saya, itu baju milik siapa soalnya saya merasa tidak pernah memiliki baju yang ada di dalam koper tersebut." jelas Hanifah.


"Semua milikmu Han, gak mungkinkan gamis-gamis itu milikku, semua memang baru aku yang membelikannya, dan aku ingin hari ini kamu pakai gamis warna putih, di dalam koper itu ada satu set gamis warna putih lengkap dengan milik An, jadi hari ini aku mohon pakailah baju tersebut, dan jangan membantah karena, setelah selesai sarapan kita akan keluar." ucap Lancelot panjang lebar.


"Baik tuan." sahut Hanifah, tanpa debat.


Hanifah menaruh ponselnya, di telitinya satu persatu baju yang ada di dalam koper, ternyata apa yang di katakan Lancelot benar adanya di dalam koper terdapat satu set gamis, tidak hanya gamis dewasa namun ada gamis anak milik nona An, dan tentu memiliki warna dan model yang sama. Hanifah segera memakai gamis seperti yang di inginkan oleh Lancelot, selesai membersihkan diri dan ganti baju Hanifah kembali ke kamar orang tuanya. Di dalam kamar orang tuanya ternyata sudah ada Lancelot, sedangkan nona An, juga sudah bangun dan berada dalam pangkuan Lancelot.


"Selamat pagi tuan, selamat pagi Putri mama yang cantik." sapa Hanifah pada Lancelot dan nona An.

__ADS_1


"Morning mama," sahut nona An, senang melihat kedatangan Hanifah, langsung berlari mendekati dan memeluk Hanifah.


"Cantik." gumam Lancelot lirih begitu melihat penampilan Hanifah yang semakin anggun dengan balutan gamis warna putih pastel dengan dihiasai batu swarosky, model sederhana namun elegant.


"Tuan, selamat pagi." sapa Hanifah lagi karena mendapati Lancelot yang sedang melamun.


"Pa... pa... pagi Han." sahut Lancelot gugup, karena ketahuan sedang melamun.


"Kaliab bisa sarapan dulu, nanti makanannya keburu dingin, saya mau memandikan nona An, dulu tidak lama kok." pamit Hanifah, tanpa menunggu jawaban dari semuanya Hanifah pergi meninggalkan mereka, Hanifah menuju kamarnya sendiri untuk memandikan nona An.


"Ma ma, tan tik." Nona An memuji Hanifah.


"Tentu dong, mamanya nona An harus cantik, agar nona An, bangga memiliki mama seperti mama." canda Hanifah.


Nona An tentu tertawa mendengar jawaban dari Hanifah yang kadang tergolong konyol.


"Ayo, sayang mama bantuin mandi dulu, setelah itu kita sarapan, jangan lama-la mandinya nanti papa kelaparan menari kita."canda Hanifah lagi.


Hanifah dengan cekatan membantu nona An untuk mandi nona An, tergolong anak yang nurut sehingga memudahkan tugas Hanifah. Setalah setengah jam Hanifah sudah selesai dalam membantu nona An, untuk mandi dan juga sudah memakai pakaian yang sama dengan Hanifah. Hanifah segera mengajak nona An untuk kembali ke kamar orang tuanya, nona An, sangat bahagia sekali memakai baju baru dan sama dengan milik Hanifah.


"Papa oma opa!" seru nona An, begitu masuk ke kamar orang tuan Hanifah "Tantik kan?" tanya nona An, manja dan juga menggemaskan.


"Nona cantik sekali!" puji Semi dan Legi.


"Anak papa, kok cantik sekali siapa yang dandani?" tanya Lancelot pada nona An.


"Mama, bajuku sama dengan mama, aku suka." ucap nona An, benar-benar bahagia.


"Pantesan mama Hani saja cantik, putrinya mama Hani juga harus cantik dong." Lancelot menggida putrinya penuh candaan.

__ADS_1


Nona An tertawa cemikikan mendapat pujian dari Lancelot, dia sangat senang sekali, kedua orang tua Hanifah juga ikut-ikutan menggoda nona An, kenangan tecipta di antara mereka.


__ADS_2