Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Pary 157


__ADS_3

Sore yang begitu cerah dan Indah setelah semua bersih dan juga sudah selesai melaksanakan sholat asyar, Hanifah, nona An dan Semi duduk di teras rumahnya, sedangkan Lancelot memilih belajar memperdalam ilmu agama, dari Legi bapaknya Hanifah.


"Ce An An." satu anak perempuan berusia lima tahun menghampiri nona An yang sedang duduk bersantai di teras, bocah yang sudah mandi dan wangi memakai baju Muslim lengkap dengan jilbabnya.


"Hai Mon." sahut nona An sangat antusias, selama beberapa hari tinggal bersama di rumah orang tua Hanifah, nona An sudah memiliki teman akrab yang bernama Monde.


"Mon, kamu sudah makan belum?" tanya Semi.


Tubuh monde gemul dengan kulit yang putih bersih sehingga menambah nilai plus pada monde.


"Sudah lo mbah." jawahmb monde jujur.


"Maem opo Mond?" kini giliran Hanifah yang bertanya pada monde.


"Maem angin." jawab Monde, asal.


"Di tanya orang tua malah gak serius kawannya Mond, Mond." sahut Semi.


"Mbah aku mau dolanan." sahut monde polos tanpa dosa.


"Yo wes."


Susana santai seperti ini sudah lama tidak di rasakan oleh Hanifah, jika di rumahnya sendiri bisa duduk di teras sambil melihat orang lewat maupun menunggu pedaganv keliling lewat, biasanya mulai jam empat sore sampai malam banyak sekali pedagang keliling yang menjajakan dagangannya seperti bakso, bakwan, gorengan, mie ayam atau makanan ringan lainnya.

__ADS_1


Sore ini Hanifah melihat ada pedagang mei ayam lewat tanpa pikir panjang Hanifah menghentikan penjual mie ayam tersebut dan membelinya, Hanifah tidak hanya membeli untuk dirinya sendiri namun juga beberapa tetangga yang kebetulan berada di sekira rumahnya dan sedang bersantai di teras. Mereka sangat menikmati makan mie ayam di teras Semi. Hanifah juga menawari Legi dan Lancelot yang sedang berada di dalam rumah. Lancelot juga mau mie ayam tersebut Lancelot tergoda karena bau harum yang di sebarkan oleh mie ayam tersebut menggugah selera.


Suasana di kampung memang kental yang namanya santai di waktu sore, mereka bercanda maupun bergosip ria. Setelah sholat isya Lancelot di jemput oleh Dandruff untuk kembali ke villa, malam ini Lancelot meminta Hanifah dan nona An untuk menginap di villa karena pagi-pagi buta Lancelot akan kembali ke negara Hongkong dengan menggunakan penerbangan pertama.


Suasana villa Lancelot sedikit srou karena yang ada hanya Lancelot, Dandruff dan dua orang pekerja penjaga villa, sedangkan Setu Pon sudah kembali melakukan pekerjaannya.


"An, papa pulang dulu, di sini nurut sama mama Hani, dia minggu lagi papa jemput, dan kita bisa pulang bersama mama, jangan nakal kalau An, nakal nantiams Hani tidak mau tinggal sama kita lagi bagaimana?" nasehat Lancelot pada nona An.


"Beres, pa, An di sini terus juga gak apa-apa pa, enak di sini banyak teman bermain." jawab nona An polos.


"Kan, An harus sekolah di hongkong." sahut Lancelot.


"Sekolah di sini boleh?" tanya nona An.


"Di sini semua." jawab nona An polos.


"Sayang, kita kak masih punya waktu dua minggu di sini jadi kita habiskan waktu kita di sini setelah itu kita kembali ke rumah oma, kasihan oma gak ada temannya, kan anak mama juga harus sekolah di sana biar pintar seprti papa." nasehat Hanifah lembut.


"Baiklah ma." sahut nona An Mengalah.


"Han, sekali lagi titip An." pesan Lancelot.


"Baik tuan."

__ADS_1


Malam ini Lancelot memilih menidurkan nona An, setelah nona An tertidur Lancelot kembali ke kamarnya sendiri yang besebelahan dengan kamar yang di tempat oleh Hanifah dan nona An.


Pagi-pagi buta Lancelot dan Dandruff menuju bandara dengan diantar oleh sopir, sedangkan Hanifah dan nona An tidak ikut ke bandara karena nona An masih terbuai di alam mimpinya. Setelah Lancelot pergi kembali ke Hongkong Hanifah kembali ke rumah orang tuanya dengan di jemput oleh Legi menggunakan sepeda motor. Sebelum pulang ke rumah Hanifah mengajak nona An untuk menikmati ramainya alon-alon kota di pagi hari.


Setelah beberapa saat menikmati indahnya pagi di alon-alon kota Hanifah baru mengajak nona An, untuk pulang ke rumah. Nona An sangat menikmati hidup di kampung, dia seperti terbebas dari dalam penjara, sebab di Hongkong nona An, jika keluar rumah hanya untuk ke taman bermain di mal besar atau sekedar menikmati udara di taman kota.


Di kampung halaman Hanifah, nona An sudah memiliki beberapa teman bermain, tentu dari segi bahasa mereka tidak begitu paham namun mereka tetap bermain bersama tentu di bawah pengawasan Hanifah dan orang tua lainnya.


"Han, lihat anakmu baru bevrraia hati di sini kukitbya sudah menggelap, wajahnya lebih banyak mirip ke kamu dari pada bapaknya." ucap Tandur bibinya Hanifah yang juga ikut momong anak-anak.


"Biarin saja bulek, wong dianya juga, senang, biasanya kan begitu bulek, anak itu ngikuti yang momong." ucap Hanifah.


"Papanya gak cemburu anaknya lebih dekat dengan kamu?" tanya Tandur.


"Tadinya cemburu bulek, sekarang ya gak lagi." sahut Hanifah.


"Han, sudah dapat tukang rias untuk nikahmu belum?" tanya Tandur.


"Sudah bulek, beberapa hari yang lalu sudah lihat koleksi di salon desa sebelah, baju dan hasil riasnya cukup bagus, sesuai seleraku." sahut Hanifah.


"Syukurlah Han, bulek ikut senang kamu sudah ketemu jodohmu, semoga pernikahanmu membawa berkah untuk semuanya, bulek benar-benar bahagia, kamu bisa melewati semua dengan iklas," ucap Tandur.


"Semua ini berkat bantuan dan dukungan bulek selama ini padaku, jika bulek dulu tidak meminjami banyak uang ke aku entahlah bulek, bersyukur sekarang hidupku jauh lebih baik." ucap Hanifah.

__ADS_1


Hanifah dan Tandur, bercerita mengenang masa lampau, di saat Hanifah sangat terpuruk, harus menanggung biaya pengobatan anaknya seorang diri tanpa adanya suami, beruntung banyak pihak yang membantu Hanifah, namun karena biaya pengobatan yang mahal sehingga tetap menyisakan banyak hutang di kerabatnya.


__ADS_2