Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 69


__ADS_3

Hanifah, Lancelot dan nona An memasuki sebuah hotel tempat diadakannya family gathering, secantik apapun Hanifah berdandan yang di bawa tetap gendongan bayi dan juga tas berisi peralatan bayi seperti para pembantu lainnya. Lancelot menggendong nona An sedang Hanifah berjalan sejajar dengan Lancelot membawa tas peralatan untuk nona An, kali ini Lancelot sengaja tidak membawa stroller karena Lancelot ingin lebih dekat dengan putrinya. Lancelot, Hanifah dan nona An sampai di tempat acara, mereka bertiga di sambut ramah oleh semua yang hadir diacara tersebut, semua yang hadir di sana mereka lengkap dengan keluarganya, yang memiliki balita mereka semua membawa pembantu mereka masing-maisng. Sebagai seorang pembantu hanya Hanifah yang berpenampilan glamour bak seorang nyonya besar, bagaimana tidak glamour jika apa yang Hanifah pakai semua barang bermerek dengan harga yang sangat fantastic. Hanya untuk bajun dan sepatunya saja harganya bisa mencapai puluhan ribu dolar Hongkong, belum lagi perhiasan yang di pakai Hanifah tidak kalah keren dengan para istri atau kekasih kolegan Lancelot.


Hanifah dengan sopan membalas sapaan kolegan Lancelot, diantara mereka sudah banyak yang tahu siapa Hanifah, beberapa teman Lancelot banyak yang menatap kagum dengan penampilan Hanifah, ya walau penampilan Hanifah tertutup namun tidak mengurangi kecantikan dalam dirinya.


"Han, sungguh cantik tidak sia-sia An memiliki mama seperti kamu." puji nyonya Ang.


"Terima kasih nyonya," sahut Hanifah sopan dan lembut.


"Hai nona muda, kamu pasti sangat sayang dengan mama Hani." celoteh nyonya Ang menggoda nona An.


"Ma ma ma ma." celoteh polos nona An mengundang tawa orang yang mendengarnya.


"Pantesan, papamu cemburu berat," ucap nyonya Ang.


"Kalian bertiga sunguh sangat serasi, aku saja kalah," puji Ang " Han apa kamu tidak tertarik dengan papanya An?" sebuah pertanyaan konyol di lontarkan oleh Ang dengan wajah tidak berdosa.


Lancelot mendengar pertanyaan dari Ang wajahnya sudah terlihat merah seperti udang rebus, sedangkan Hanifah tetap berekpresi santai dan tenang.


"Tertarik, bagaimana tuan?" tanya Hanifah berlagak bodoh.


"Ya, tertarik sebagai kekasih mungkin, kamu kan sudah pegang kucinya." Ang dengan percaya dirinya melanjutkan ucapannya.


Jangan ditanya reaksi Lancelot benar-benar di luar dugaan padahal biasanya dia akan cuek namun kali ini jantung Lancelot seperti mau loncat dari tempatnya hanya ingin mendengar jawaban dari Hanifah secara langsung.


"Sebenarnya ingin saya tarik tuan, sayang talinya sudah putus dan tidak bisa disambung lagi, kemarin saya carikan lem AA+ e ternyata stok habis, kalau soal kunci ya setiap hari saya pegang kuncinya ada kunci lemari, kunci kamar, dan kunci Inggris." jawab Hanifah asal dengan ekpresi datar seperti biasa namun sedikit mengandung kelakaran.


"Sudah jangan ganggu Hani, nanti dia tidak nyaman." ucap Lancelot berusaha cuek.


"Soal, tali aku belikan tali yang baru," ucap Ang.


"Asal jangan tali kotang saja." sahut Hanifah asal dan juga tanpa sadar.

__ADS_1


Ang dan nyonya Ang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Hanifah yang di kita ekpektasinya.


"Sayang, Tuan Lancelot lebih tertarik sama dengan gentong milik An dari pada tali kotang." ujar Ang sambil melirik ke arah Lancelot.


"Hai, Lanc, akirnya kamu ajak keluar juga anak dan kekasihmu!, kalian senanb amat lagi bicarain apa!" seru salah satu temannya yang baru saja menghampirinya.


Hanifah tidak memperdulikan ucapan teman Lancelot, dia tetap tenang dan santai.


"Sesuai dengan janjiku." sahut Lancelot.


"Oh ya, aku dengar A ling ada di Hongkong, dan aku dengar dia juga akan hadir diacara ini namun dengan siapa aku tidak tahu mungkin dengan kekasihnya." ucap tenan Lancelot.


"Ya, aku tahu, biarlah dia hadir toh, we are broke long time ago, so everything will be fine." sahut Lancelot santai.


"Selamat malam nona, hati-hati dengan temanku ini, sainganmu banyak sekali." ucap teman Lancelot dengan nada candaan.


"Saya lagi tidak ikut kompetisi tuan, tugas saya di sini menjaga dan merawat nona An, tidak lebih." sahut Hanifah santai.


"Kelihatannya begitu, dia bagai berlian." celetuk temannya.


"Oh ya bagaimana dengan A ling jika tahu kamu datang dengan An dan mamanya An." ucap nyonya Ang.


"Tenang saja, tidak akan ada yang bisa menyentuh anakku sekalipun A ling." ucap Lancelot.


Hanifah tetap diam dia tidak begitu menghiraukan ucapan Lancelot maupun yang lain Hanifah tetap fokus pada nona An. Kemanapun Lancelot pergi Hanifah selalu mengikuti Lancelot seperti pesan Lancelot tadi jika hanifah dan An tidak boleh jauh-jauh dari Lancelot demi keselamatan mereka berdua.


"Tuan, maaf saya mau ke toilet sebentar." pamit Hanifah pada Lancelot.


"Aku antar." ucap Lancelot.


"Tapi tuan." Hanifah merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kalian celaka, ayo ikut aku."


Lancelot menggandeng tangan Hanifah, Hanifah mengikuti langkah kaki Lancelot, Lancelot mengajak Hanifah untuk masuk di sebuah kamar yang sangat mewah yang dulu pernah di tempatinya saat pesta seratus hari nona An.


"Tuan?" tanya Hanifah yang bingung dengan tibak Lancelot.


"Aku tidak ingin kamu menggunakan kamar mandi umum karena sangat berbahaya buat kamu dan An, sekarang kamu ke kamar mandi dulu biar aku jaga An, di sini." ujar Lancelot.


"Baik tuan."


Hanifah segera menuju kamar mandi untuj melaksanakan hajatnya, hanya dalam waktu sekejap Hanifah sudah keluar dari kamar mandi, sedangkan nona An dan Lancelot bercengkerama di atas ranjang.


"Sudah tuan." lapor Hanifah.


"Baik, oh ya Han, aku tahu ini sangat berbahaya, jadi jangan pernah jauh dariku agar A ling tidak bisa mengganggumu." perintah Lancelot.


"Apakah nona Ainb itu berbahaya?" tanya Hanifah penasaran "Kenapa dia ingin mencelakai saya bukankah diantar kami tidak saling kenal?" tanya Hanifah lagi.


"A ling, dia dulu kekasihku dan juga orang yang menginginkan kehamcuranku dan keluargaku, dia tidak rela jika aku bahagia dengan keluarga baruku, sebenarnya yang menjadi targed A ling itu An, nakhn berhubung kamu yang menjaga An, maka kamu juga masuk dalam targed dia, aku sudah memperketat penjagaan mamun kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." jelas Lancelot panjang lebar.


"Baik Tuan, sekarang saya paham saya akan ikuti instruksi Tuan, tolong tuan kadih tahu saya wajah nona A ling seperti apa biar saya bisa lebih waspada." jawab Hanifah tenang.


"Nanti aku kasih tahu jika aku melihatnya, karena aku yakin dia pasti menghampiriku, kalau sudah sebaiknya kita keluar sebentar lagi acara akan di mulai."


"Baik Tuan."


Hanifah dan Lancelot meninggalkan kamar tersebut Lancelot menggendong nona An, mereka bertiga kemabali menuju aula tempat diadakannya pesta, para tamu semakin banyak dan dari kalangan berkelas.


"Han, kamu lihat wanita yang memakai dres warna navi di pojok sebelah sana yang rambutnya di sangul, dia itu A ling, kita bersiap biasa saja dan kaku pura-pura tidak tahu saja tentang masalah ini." ucap Lancelot sambil menunjuk ke arah dimana along sedang duduk.


"Baik, tuan." sahut Hanifah tegas.

__ADS_1


Lancelot dan Hanifah sudah kembali bergabung di meja dengan nyonya Ang maupun Ang, beserta anak dan pembantu Ang. Acara makan makan berjalan sangat meriah tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, semua peserta sangat menikmati semua hiburan dan hidangan yang di sediakan oleh pihak panitia. Lancelot sengaja tidak mengikuti acara sampai selesai karena tidak ingin nona An kelelahan, Lancelot, Hanifah dan nona An meninggalkan acara lebih awal, mereka melangkah menuju resepsionis supaya mengambilkan mobilnya, namun belum sampai di resepsionis mereka bertiga sudah di hadang oleh orang suruhan A ling.


__ADS_2